Jelang Spanyol vs Inggris: Tidak Ada Lagi English Football

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Jelang Spanyol vs Inggris: Tidak Ada Lagi English Football

Sejumlah kesebelasan negara kerap diidentikkan dengan gaya bermain tertentu yang kerap menjadi stereotip. Lumrah jika kita mendengar Spanyol dengan tiki-taka, Italia dengan catenaccio, dan Belanda dengan total football. Hal tersebut bagaimanapun akan terus melekat meski mereka tak lagi menggunakan gaya bermain yang sama dengan pendahulunya. Namun, hal berbeda terlihat pada Inggris.

“Tidak ada lagi ‘English football’. Aku pikir tidak ada gaya Inggris yang asli,” tutur Pelatih Spanyol, Vicente del Bosque. Dalam wawancaranya dengan jurnalis The Guardian, Sid Lowe, Del Bosque turut menyinggung bagaimana sepakbola Inggris saat ini.

“Terdapat campuran gaya bermain, datangnya para pemain dari luar negeri membuat sulit untuk mempertahankan ‘English Football,” ucap Del Bosque, “Aku membayangkan adanya sejumlah keanehan pada kesebelasan-kesebelasan Inggris. Mereka sangat Inggris tapi di atas lapangan sulit untuk menebak mereka tim dari mana.”

Menurut Del Bosque hal ini berpengaruh pada kemurnian kesebelasan negara Inggris yang menurut mantan pelatih Real Madrid ini gaya bermainnya turut hilang. Jika dibandingkan dengan kesebelasan negara lainpun tidak ada yang benar-benar mencolok dari Inggris. “Mungkin aku melupakan sesuatu, tapi dengan kesebelasan negara sekalipun, Inggris sama seperti negara-negara lainnya,” ucap Del Bosque.

Baca juga: Mengapa Italia Bermain Lambat dan Inggris Bermain Cepat?

Belajar dari Negara Lain

Saat Inggris keluar lebih cepat dari sebuah turnamen, media di Inggris fokus pada satu hal: mempelajari model-model negara lain. Lowe menjabarkan kalau Inggris telah mengikuti model Spanyol, Clairefontaine, dan sekarang Jerman. Namun, menurut Del Bosque mestinya suatu negara bermain sesuai dengan gaya bermainnya sendiri, “Anda harus menjadi diri sendiri.”

Meski menjadi diri sendiri, mereka harus terbuka pada perbedaan. Contohnya saat Jerman menjadi juara dunia, banyak yang bisa dicontoh. Juaranya Jerman, berarti Jerman menerapkan strategi maupun pembinaan sepakbola yang tepat pada saat itu. “Jika kami menang, Spanyol memiliki jawabannya. ‘English Football’ memiliki banyak hal yang baik dan harus menjadi dirinya sendiri. Namun bukan berarti itu tak bisa dimodernisasi atau berkembang,” imbuh Del Bosque.

Di sisi lain pelabelan “tiki-taka” pada permainan Spanyol sebenarnya merupakan penyederhanaan. Del Bosque bahkan menyebutnya sebagai upaya lain dari pengubahan bahwa gaya bermain Spanyol sebenarnya cenderung defensif.

Label “tiki-taka” akan diingat orang sebagai permainan yang mengandalkan umpan pendek, selalu menguasai bola, dan bermain menyerang dengan menekan lawan, “Padahal kami bermain sangat bertahan,” ucap Bosque.

“Kami menjadi juara dengan mencetak sedikit gol dan kebobolan juga sangat sedikit. Orang-orang tidak menyebut kami bermain defensif,” tutur pelatih kelahiran 23 Desember 1950 tersebut.

Meskipun memiliki gaya bermain dengan karakteristiknya sendiri, tapi Del Bosque menyatakan kalau gaya bermain mereka tak jauh berbeda dengan Perancis ataupun Jerman. Namun, di masa lalu, Spanyol pun selalu bermain dengan gaya yang begitu kompleks.

“Buktinya adalah para pemain yang pergi ke luar negeri dan membuktikan kalau mereka bermain baik. Juga kami melakukannya dengan cara yang benar: terdapat struktur yang baik, peningkatan fasilitas, memiliki kepelatihan yang baik, bahkan budaya sepakbola di masyarakat umum telah meningkat,” ucap pelatih yang pernah bermain dan melatih Real Madrid tersebut.

Menurutnya saat ini, tim tidak lagi menonjolkan sisi peningkatan fisik, teknik, dan taktik secara terpisah, “Semuanya terintegrasi sekarang.” Del Bosque pun menganggap kalau mendewakan taktik tidaklah tepat bagi sebuah kesebelasan. Untungnya, kata Del Bosque, mereka telah menemukan keseimbangan untuk memadukan tiga hal utama tersebut, “Aku pikir kami ditakdirkan untuk menjadi juara dunia.”

Sepakbola Spanyol pun menurut Del Bosque telah hampir kehilangan identitasnya. Meski mengekspor pemain ke luar negeri, kesebelasan-kesebelasan Spanyol pun justru mengimpor para pemain luar, “Di sini juga menjadi soal. Pernah Atletico Madrid cuma menurunkan dua pemain Spanyol; Madrid juga pernah dengan tiga pemain. Ada banyak pemain asing tapi aku tak bisa berbuat banyak karena itu merupakan kebijakan klub.”

foto: zimbio.com

Komentar