Saat Liga Champions Menyadarkan Inggris kalau Uang Bukan Segalanya

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Saat Liga Champions Menyadarkan Inggris kalau Uang Bukan Segalanya

(Penggemar) Kesebelasan-kesebelasan Liga Primer Inggris risau. Jika prestasi Inggris tak membaik, besar kemungkinan jatah mereka di Liga Champions berkurang. Ini tentu bukan hal yang menguntungkan karena tidak ada yang bisa menebak siapa yang akan menempati peringkat keempat klasemen liga—yang akan tersingkir dari Liga Champions.

Tentu menyedihkan melihat salah satu dari Chelsea, Manchester City, Manchester United, atau Arsenal bertanding di babak penyisihan Europa League. Atau melihat salah satu dari keempat kesebelasan tersebut bernasib buruk sehingga mesti kalah dari tim antah berantah lalu dicemooh seluruh dunia.

Sulit menyebut atau menentukan mana liga yang terbaik. Kalau patokannya prestasi, UEFA memiliki patokannya sendiri yang menjelma sebagai angka-angka koefisien. Angka tersebut berasal dari prestasi kesebelasan-kesebelasan liga di kompetisi Eropa dalam waktu lima tahun terakhir.

Dikutip The Guardian, sejak tiga musim terakhir Liga Inggris hanya mengirimkan dua wakil di bakbak perempat final dan satu wakil di semifinal Liga Champions. Jika hal ini terus berlanjut, sementara wakil Italia dan Jerman kian perkasa, Inggris bisa saja hanya mendapat tiga tempat di Liga Champions musim 2017 mendatang. Apabila itu terjadi, maka akan menjadi yang pertama sejak musim 2001/2002 di mana Liga Inggris tak mengirimkan empat wakil di Liga Champions.

UEFA menetapkan jatah tiap liga berdasarkan koefisien yang dipengaruhi prestasi liga tersebut di kompetisi Eropa. Sejak tiga musim terakhir, tidak ada wakil Liga Inggris yang bisa mencapai babak final Liga Champions. Terakhir kali terjadi pada musim 2011/2012 saat Chelsea menjadi juara dengan mengalahkan Bayern Munich.

Kerisauan (penggemar) kesebelasan Liga Primer memang berdasar. Pada gameweek pertama Liga Champions musim ini, hanya Chelsea yang berhasil menang. Sisanya, Arsenal, Manchester United, dan Manchester City ditaklukan lawan-lawannya.

Baca juga: Cara UEFA Menghitung Nilai Koefisien Klub

Salah satu hal yang membuat koefisien Inggris menurun adalah buruknya performa mereka di Europa League. Padahal, kesebelasan dari liga lain seperti Liga Spanyol, Liga Jerman, Liga Italia, dan Liga Portugal, kian agresif di Europa League. Mungkinkah ini menjadi bukti kalau Inggris memang mengalami penurunan secara permainan dan tak bisa bersaing dengan liga lain di Eropa?

Kaya Raya Saja Tidak Cukup

Soal hak siar, Liga Spanyol tak akan pernah menyamai Liga Inggris. Soal uang, Liga Inggris adalah yang terbaik. Kesebelasan yang juara bisa mendapatkan lebih dari 100 juta pounds. Memang, tim juara dari liga lain pun bisa mendapatkan nilai serupa, bahkan lebih. Namun, kesenjangan uang yang didapatkan tim yang degradasi dengan tim yang juara tak terlampau jauh.

Hal ini membuat kesebelasan kecil Liga Inggris masih bisa bersaing dengan tim besar. Uang yang didapatkan bisa untuk memaksimalkan potensi akademi maupun membeli pemain potensial dengan nilai yang lebih rendah.

Setiap musim, kesebelasan yang terdegradasi bisa mendapatkan lebih dari 60 juta pounds hanya dari pendapatan hak siar. Angka ini hampir menyamai dengan yang didapatkan tim juara Liga Champions.

Lalu pertanyaan pun muncul. Untuk apa berprestasi di Liga Champions kalau uang hadiahnya tak lebih besar dari yang ditawarkan Liga Inggris? Logisnya, lebih baik bertahan di Liga Inggris ketimbang terus berkompetisi di Liga Champions setiap musim.

Namun, argumen tersebut tentu mudah dipatahkan. Sebagai sebuah olahraga, tujuan dasar dari sepakbola adalah untuk menjadi pemenang. Keuntungan dari hak siar atau apapun itu sejatinya hanya “bonus” dari sistem liga dan prestasi yang diraih selama ini.

Kekalahan Manchester City atas Juventus misalnya, akan tetap dipersoalkan tak peduli seberapa pentingnya Liga Champions buat neraca keuangan City. Sepakbola adalah tentang kemenangan, kalau kalah ya kalah. Titik.

Soal menang dan kalah ini dirasakan benar oleh Pelatih Bayern Munich, Pep Guardiola. Pep, sejak akhir musim 2013/2014 mulai mematangkan strategi dengan tiga bek. Ia terus melakukan test and trial termasuk pada pertandingan final DFB Pokal musim 2013/2014 dan pertandingan pra musim 2014/2015.

Pep merasa kalau strateginya selama ini belum bisa mengakomodasi kelemahan Bayern yang bisa ditembus oleh kesebelasan lawan khususnya di Liga Champions. Dalam sebuah wawancara Pep menyatakan kalau ia secara khusus menyiapkan formasi tersebut untuk menghadapi Liga Champions. Pep sadar kalau di liga, tidak pernah benar-benar ada pesaing buat Bayern. Satu-satunya pesaing serius, Borussia Dortmund, musim lalu mengawali musim dengan buruk dan hanya berakhir di papan tengah. Lain halnya dengan Liga Champions yang berisi kesebelasan-kesebelasan “juara” dari setiap liga di Eropa.

Liga Champions seperti menampar keras-keras penggemar kesebelasan Liga Inggris. Liga Champions menyadarkan kalau kemenangan masih menjadi tujuan utama dari sepakbola. Peringkat kedua, ketiga, apalagi, keempat, tidaklah dihitung. Liga Champions bukanlah pertarungan soal siapa yang kaya raya dan siapa yang tidak. Lebih dari itu, Liga Champions mengingatkan kita tentang hal yang utama dari sepakbola sebagai olahraga: menjadi juara.

Tentu obrolan (baca: ejekan) semacam ini tidak akan mengenakan hati penggemar kesebelasan besar:

A: “Kok belum tidur?”

B: “Liverpool main malam ini.”

A: “Ini kan Kamis? Oh, maaf lupa. Liverpool kan main di liga malam Jumat.”

foto: mirror.co.uk

Komentar