Mengapa Drama Korea Kalah Tenar Ketimbang Drama Turki?

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mengapa Drama Korea Kalah Tenar Ketimbang Drama Turki?

Dalam beberapa pekan terakhir, layar kaca Indonesia disemarakkan dengan siaran drama Turki. Fenomena ini tentu menambah khazanah siaran drama impor selain dari Meksiko, India, dan Korea Selatan.

SCTV dan ANTV dianggap sebagai pelopor penayangan drama Turki. Pada akhir Maret silam, SCTV menayangkan drama berjudul “Elif”, sedangkan ANTV menayangkan drama “Abad Kejayaan” yang mampu membius pecinta drama di Indonesia.

Kehebohan tersebut membuat stasiun televisi lain, Trans TV, turut menayangkan drama Turki dalam waktu penayangan yang hampir bersamaan. Tentu saja, selain untuk menjaring penonton yang keranjingan menyaksikan pria ganteng brewokan, penayangan dalam waktu yang sama bermaksud untuk menjegal alokasi share dan rating televisi lawan.

Penasaran dengan kehebohan yang terjadi di kalangan ibu-ibu dan pembantu (asisten rumah tangga—begitu kata pecinta eufimisme), penulis menyempatkan diri barang 30 menit untuk menyaksikan drama Turki yang tersohor itu.


foto: pinterest

Setelah 30 menit yang “melelahkan” itu,  penulis melihat terdapat sejumlah kesamaan antara drama Turki dengan sinetron Indonesia. Satu hal yang paling jelas adalah latar cerita yang mengambil situasi masyarakat sehari-hari. Konflik di dalamnya pun hampir mirip mulai dari persahabatan, percintaan, dan aksi kriminal.

Bisa dibilang kalau drama Turki adalah upgrade dari sinetron Indonesia. Meski hasilnya tak signifikan; macam upgrade Windows 98 ke Windows ME/2000. Ada teknik sinematografi yang jauh lebih menyenangkan untuk disaksikan, lebih indah untuk dinikmati.

Mencari yang Lebih Baik

Seorang pelatih atau manajer sepakbola cuma punya waktu dua kali dalam semusim untuk memperbaiki skuat yang ia miliki. Bursa transfer pada awal musim digunakan untuk membangun skuat, sedangkan pada tengah musim untuk merespons apa yang kurang sepanjang setengah musim kompetisi.

Perubahan ini bisa berakhir baik atau malah sebaliknya. Pemain yang datang bisa jadi tak lebih baik dari fondasi yang telah dibangun, atau malah merusaknya.

Musim ini Liverpool terbilang aktif di bursa transfer. Dikutip dari Transfermarkt, Liverpool sudah menghabiskan 77 juta pounds untuk belanja pemain. Alokasi terbesar dihabiskan untuk mendatangkan Christian Benteke senilai 32 juta pounds.

Selain Benteke ada nama Roberto Firminho dan Danny Ings yang diproyeksikan bermain di area penyerangan Liverpool. Lini serang Liverpool pada musim ini pun terbilang melimpah dengan kehadiran Daniel Sturridge, Divock Origi, Fabio Borini, Mario Balotelli, dan Jerome Sinclair.

Setelah kepergian Luis Suarez serta cederanya Daniel Sturridge, Liverpool seperti sulit menemukan sosok yang tepat di lini serang. Balotelli dan Ricky Lambert yang ditransfer pada musim lalu belum menunjukkan performa yang meyakinkan. Lambert bahkan sudah ditransfer ke West Bromwich Albion pada musim ini.

Pada pertandingan menghadapi Stoke City, Benteke diplot sebagai pengalur awal serangan Liverpool. Serangan dari belakang diberikan kepada Benteke yang turun menjemput bola. Benteke kemudian mengalirkan bola tersebut ke kedua sisi Liverpool, baik kepada Jordon Ibe dan Adam Llalana atau Coutinho yang diplot sebagai gelandang serang. Sayangnya, bola umpan silang yang biasanya jadi makanan empuk Benteke tak kunjung datang.

Sepanjang pertandingan Benteke cuma melepaskan satu tendangan. Namun, hal tersebut tidak bisa menjadi patokan kinerja Benteke pada pertandingan selanjutnya. Pasalnya Rodgers pun masih mengutak-atik pola serangan Liverpool. Selain itu, persiapan Benteke terbilang singkat setelah resmi bergabung.

Musim lalu, bersama Aston Villa, Benteke mencetak 13 gol dengan dua assist. Jumlah ini masih berada di bawah Eden Hazard sebagai gelandang serang yang mencetak 14 gol dan sembilan assist.

Sejumlah kekhawatiran muncul terkait bergabungnya Benteke ke Liverpool. Secara kemampuan, Benteke bisa disejajarkan dengan para penyerang top lain di Liga Primer Inggris. Namun, pada musim lalu, ia bersama Aston Villa mengalami musim yang kurang menyenangkan. Villa mengalami krisis mencetak gol. Dari 22 pertandingan, mereka cuma mencetak 11 gol.

Bekas pelatih Aston Villa, Paul Lambert, sampai harus mencari cara lain agar para penyerang yang dihuni Gabriel Agbonlahor, Benteke, Andreas Weimann, dan Darrent Bent tersebut punya imajinasi caranya mencetak gol. Lambert meminta empat penyerang tersebut duduk bersama dan main FIFA 15.

(Meski pada akhirnya Lambert tersisih dari Aston Villa karena tak sanggup membawa The Villans keluar dari zona degradasi. Posisi Lambert diambil alih Tim Sherwood)

Rodgers, seperti halnya manajer lain yang merasakan ada yang salah dengan fondasi tim mereka, pastilah mengalami dilema. Jika skuat dipertahankan, ada kemungkinan kualitas bisa meningkat. Konsekuensinya adalah capaian prestasi yang terbilang lama. Sementara jika menambah skuat, prestasi bisa didapat dengan instan, tetapi juga merusak prestasi yang sudah ada.

Namun, soal mendatangkan penyerang, Rodgers sepertinya masih nyaman melanjutkan tradisi Liverpool yang jarang membeli pemain mahal berlabel bintang. Rodgers lebih suka cara Liverpool sejak era 2000-an yang mengorbitkan penyerang-penyerang kelas satu seperti Michael Owen, Fernando Torres, dan Luis Suarez. Bukan tidak mungkin suatu hari nanti, status "The Next Torres" disandang Divock Origi, Danny Ings, atau Sinclair.; bukan tidak mungkin.

Suka dengan yang Membikin Nyaman


Drama Korea "Doctor Stranger" foto: noonasoverforks.com

Penulis lantas memahami mengapa drama Korea tidak ngetren-ngetren amat di kalangan ibu-ibu dan penikmat sinetron pada umumnya. Hal paling terlihat jelas adalah tidak adanya pemeran perempuan drama Korea yang pakai kerudung, dan jarang pemeran pria yang brewokan. Pemeran pria dalam drama Korea terlampau cute untuk dicintai oleh kalangan ibu-ibu.

Faktor yang paling utama adalah adanya kesamaan antara kultur di drama Turki dengan yang biasa ditayangkan di sinetron Indonesia. Selama 30 menit itu hampir tidak ada perbedaan dengan cara pengambilan gambar, latar cerita, hingga konflik yang ada di dalamnya.

Salah satu sorotan penulis adalah tidak begitu berbedanya rumah-rumah di drama Turki dengan set yang ada di sinetron Indonesia.Lain dengan drama Korea yang kerap mengambil set di apartemen, karena cuma orang kaya yang punya rumah di kota.

Ini yang barangkali memberikan kenyamanan bagi ibu-ibu pecinta sinetron. Drama Turki menyajikan kesamaan-kesamaan yang tentu tak perlu waktu untuk penyesuaian. Lain halnya dengan drama Korea yang lebih banyak digandrungi anak muda, yang sebagian besar “menyasar” aktor utama, meskipun naskah cerita juga menjadi alasan utama.

Drama Korea yang tayang di stasiun televisi di Indonesia umumnya sudah melewati proses sulih suara sehingga orisinalitasnya serta keseruannya berkurang. Selain itu, penonton drama Korea umumnya menyaksikan di depan layar komputer ketimbang televisi.

Sebagian orang, termasuk ibu-ibu itu, lebih senang menyaksikan apa yang membuat mereka nyaman, ketimbang memulai hal-hal yang baru. Meski sudah menyentuh “Korea-Korea-an” sejak 2009, tapi penulis baru menonton dramanya pada 2014. Pasalnya, penulis masih lebih nyaman dengan serial televisi produksi Amerika Serikat, macam The Walking Dead dan rekan-rekannya, hingga serial anime produksi Jepang.

Hal serupa juga barangkali yang dialami oleh sejumlah pelatih atau manajer sepakbola. Ada pelatih yang gemar membeli pemain muda ketimbang pemain tua yang sudah terbukti kapasitasnya. Ada pula pelatih yang lebih senang membeli pemain kelas dua, dan berharap ia akan menjadi lebih kuat, meski ujung-ujungnya berakhir di tim semenjana.

Jika Alan Pardew tetap melatih Crystal Palace hingga beberapa tahun ke depan, barangkali akan terjadi eksodus pemain Prancis yang biasanya ke Arsenal dan Newcastle, pindah ke Selhust Park. Ini karena Pardew teramat nyaman dengan transfer pemain-pemain berkebangsaan Perancis. Pun dengan Rodgers yang tampaknya lebih senang bekerjasama dengan para pemain Inggris.

***


Jadi begini pembaca yang budiman...

Ada kalanya Anda menyadari satu pola transfer satu kesebelasan dalam periode tertentu saat ditangani pelatih tertentu. Kita tentu mengingat bagaimana Arsenal bersama Arsene Wenger pada awal 2000-an gemar membeli pemain yang terbilang murah dan tidak terpakai di klubnya saat itu. Wenger kemudian menyulap pemain-pemain tersebut menjadi pemain kelas satu. Kebiasaan ini terus berlanjut dan meningkat saat Arsenal membangun Stadion Emirates yang berdampak pada menurunnya alokasi uang transfer yang diberikan untuk Wenger.

Hal serupa juga terjadi di Liverpool, seperti yang sudah dijabarkan di atas, amat jarang membeli pemain bintang, padahal mereka punya kemampuan untuk itu.

Mengapa pola ini terjadi? Jawabannya bisa jadi karena mereka sudah terlampau nyaman dengan hal itu. Wenger barangkali punya kepuasan tersendiri bisa mengorbitkan pemain; pun dengan Liverpool yang menjaga asa para pemain asli Inggris untuk tetap bisa berlaga di kesebelasan besar di kompetisi teratas.

Jadi apa hubungannya dengan drama Turki?

Saat stasiun televisi berbondong-bondong menyiarkan drama Turki, kita tahu kalau mereka bisa menarik massa yang besar. Anda juga tentu bisa menjawab kenapa drama Korea tidak begitu laku; ratingnya kecil. Penonton dengan segmentasi ibu-ibu sudah terlalu nyaman dengan siaran sinetron Indonesia yang ternyata mirip-mirip dengan drama Turki. Pola seperti ini akan sulit untuk diubah, sama halnya seperti apa yang dilakukan pelatih atau kesebelasan seperti bursa transfer.

foto: sparksnetwork.com

Komentar