Schweinsteiger, Schneiderlin, Schempurna?

Berita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Schweinsteiger, Schneiderlin, Schempurna?

Manchester United go international. Sampai mereka berangkat ke Seattle untuk persiapan International Champions Cup dalam rangka tur pra-musim, mereka sudah mendatangkan pemain Belanda, Italia, Jerman, dan Perancis.

Apakah menjelang 'Idul Fitri ini, berarti Manchester United sudah sadar, kembali fitrah, dan “ingin kembali ke jalan yang benar ? jalannya para juara”?

Pada masanya Sir Alex Ferguson dahulu, meskipun julukan mereka tetap saja Setan Merah, finis di peringkat tiga apalagi empat (apalagi tujuh!) adalah dosa besar (setan tidak peduli dengan dosa). Finis di peringkat dua bisa jadi ketidakberuntungan. Mereka seperti tersadar bahwa takdir mereka adalah menjadi juara.

Ketika David Moyes mengambil alih kemudi dari Opa Ferguson, United terlempar ke posisi tujuh. Sebelum akhirnya ia dipecat dan digantikan oleh Meneer Louis van Gaal, peringkat empat hampir dirayakan dengan suka cita. United telah berubah... tapi mereka akan berubah kembali!

Memphis Depay, Matteo Darmian, Bastian Schweinsteiger, dan Morgan Schneiderlin, empat pemain ini yang sudah menjadi sorotan utama pada jendela transfer musim panas tahun ini. Akan sangat menarik melihat efek dari mereka semua di United pada musim ini. Semua orang sudah tak sabar.

Terutama pemain yang disebutkan paling terakhir, ia yang mengintil di belakang Schweinsteiger (kabarnya Schneiderlin diresmikan 5 menit setelah Schweinsteiger terlebih dahulu diperkenalkan ke publik sebagai pemain United), sudah dipuji sebagai pemain yang paling energik oleh Meneer.

Seperti yang kami kutip dari situs resmi United, “Morgan adalah pemain yang sangat bertalenta yang memiliki energi dan kemampuan yang tinggi. Kemampuannya akan melengkapi pemain-pemain yang sudah kami miliki, dan saya sangat puas karena kami bisa mendatangkannya sebelum tur kami ke Amerika Serikat.”

“Latihan kami [di Amerika Serikat] akan sangat penting dalam rangka persiapan kami di musim yang baru dan akan memberikan Morgan dan pemain lainnya kesempatan untuk mereka tunjukkan kepada suporter mereka.”

United akan bermain melawan Club América (18 Juli), San Jose Earthquakes (22 Juli), FC Barcelona (26 Juli), dan Paris Saint-Germain (30 Juli) selama di Amerika Serikat nanti.

Schneiderlin adalah pembelian bernilai jangka panjang

Pembelian Schweinsteiger sebelumnya sudah dianggap akan membuat lini tengah United semakin solid. Kami juga sempat membahasnya, termasuk juga memasukkan nama Schneiderlin di dalamnya. (Baca selengkapnya: Membayangkan Solidnya Lini Tengah Man United Bersama Schweinsteiger)

Pada musim sebelumnya, pembelian Ander Herrera dan Daley Blind memang bisa meningkatkan daya gebrak lini tengah United, tapi sejujurnya tak satupun dari mereka yang mampu membuat lini tengah United menjadi dominan, layaknya ketika mereka memiliki Roy Keane atau Paul Scholes pada masa sebelum mereka.

Kedatangan Bastian dianggap sebagai pemain yang sebelas-duabelas dengan Michael Carrick. Bastian dan Carrick akan bahu-membahu, dan kadang juga bergantian, menjadi konduktor lini tengah Setan Merah, sebagai sosok pemimpin.

Kalau Schneiderlin jelas dibeli bukan untuk mengisi posisi sang konduktor tersebut saat ini. Pemain berusia 25 tahun ini dinilai sebagai pembelian jangka panjang, ia adalah potongan puzzle yang melengkapi kebutuhan lini tengah United.

Pemain homegrown yang mendaki dari bawah menuju puncak

Lahir di Zellwiller, Alsace, Perancis, pada 8 November 1989, Schneiderlin bergabung dengan akademi RC Strasbourg pada 1995. Kemudian ia mendandatangani kontrak profesional pertamanya pada 2005 dan melakukan debut di tim B.

Debutnya bersama tim utama terjadi pada 2006. Dua tahun ia bersama Racing Club de Strasbourg Alsace, ia memainkan lima pertandingan sebelum akhirnya dijual setelah kesebelasan asal Alsace tersebut terdegradasi dari Ligue 1 Perancis musim 2007/08.

Schneiderlin kemudian pindah ke Inggris untuk bergabung bersama Southampton dengan harga 1,2 juta poundsterling. Ia melakukan debut pada Agustus 2008 pada pertandingan tandang di mana Soton dikalahkan 2-1 oleh Cardiff City.

Sejak itu, eks kapten Perancis U19 ini sudah sangat berkembang di St. Mary’s, berawal dari pemain level Football League One, melalui Football League Championship, ia kemudian mematenkan dirinya sebagai gelandang jagoan di Liga Primer Inggris.

Bermain di bawah asuhan Nigel Adkins dan Mauricio Pochettino, Schneiderlin bermain dalam 260 pertandingan dan mencetak 15 gol, ia juga berhasil mendapatkan gelar pemain terbaik pilihan para suporter Southampton (fans’ player of the season) pada 2012/13.

Di Southampton, ia menjadi pemain penting di mana ia mencetak angka tekel dan intersep terbanyak di Liga Primer dalam tiga musim terakhir. Ia juga sangat berkelas dalam penguasaan bola dengan hobinya mendikte permainan lawan dan menjadi mesin penggerak lini tengah Southampton.

Bandingkan beberapa angka statistik Schneiderlin dengan para gelandang United di musim lalu pada gambar di bawah ini.

Schweini
Perbandingan beberapa statistik Morgan Schneiderlin dengan Bastian Schweinsteiger dan para gelandang Manchester United untuk musim 2014/15

Bermain di Southampton sejak 2008 di usianya yang masih 18 tahun, juga membuat Van Gaal telah mendapatkan salah satu permata di Liga Primer, yaitu pemain homegrown. Meskipun berkebangsaan Perancis, ini tidak menghalangi dirinya untuk menjadi pemain bertipe spesial tersebut. (Baca juga: Mengenal Istilah Pemain Homegrown)

Harga kepindahannya yang mencapai 24 juta poundsterling dinilai menjadi harga yang tidak terlalu tinggi bagi pemain homegrown. (Baca juga: Alex Song dan Kekonyolan Aturan Homegrown)

Malam yang membuat Van Gaal kepincut dengan Schneiderlin

Pada suatu sore yang dingin di Bulan Januari 2015, Southampton mempecundangi United dan berhasil mencetak sejarah dengan menang untuk pertama kalinya di Old Trafford sejak 1988. Pada pertandingan itu, Schneiderlin menjadi pemain kunci yang paling berpengaruh dalam memporak-porandakkan kesebelasan asuhan Van Gaal tersebut. (Baca juga: Southampton dan Sentimen Van Gaal)

Ia tidak bermain sebagai gelandang pusat yang diletakkan di tengah (seperti Carrick). Dalam skema tiga gelandang Soton, Victor Wanyama adalah pemain yang mengisi posisi pusat tersebut, sementara Schneiderlin berposisi di samping Wanyama, bersama juga dengan Steven Davis.

Pada pertandingan yang dimenangkan oleh The Saints dengan skor 1-0 tersebut, Schneiderlin menjadi pemain yang paling jauh menjelajahi lapangan (distance covered) dengan 12,06 km dan juga melakukan sprint lebih banyak daripada seluruh pemain United dengan 60 kali.

Melalui kemampuan pengambilan posisinya yang baik, ia juga berhasil melakukan 6 kali intersep. Kemampuan operannya pun tersorot dengan tingkat keakuratan 94,9%. Tak heran, gol dari Dušan Tadi? hanya tinggal menunggu waktu saja.

“11 Januari bertemu, menjalani kisah cinta ini...” adalah potongan lirik dari lagu Gigi yang pas untuk menggambarkan kisah Schneiderlin dengan Van Gaal. Pada malam 11 Januari 2015 itu, hampir dipastikan menjadi malam di mana Van Gaal jatuh cinta kepada pemain asal Perancis tersebut.

Jadi, Manchester United sudah sempurna?

Dengan kedatangan Schweinsteiger dan Schneiderlin, maka lini tengah United akan bermain lebih seimbang, kuat, cepat, sekaligus elegan. Jika Carrick bermain, maka ketenangan akan menjadi faktor tambahan lainnya.

Namun, dengan kepergian Robin van Persie ke Fenerbahce, dipinjamkannya William Keane ke Preston North End, dan Javier Hernández (Chicharito) yang juga dikabarkan akan dilepas Van Gaal, maka praktis United hanya menyisakan kapten Wayne Rooney dan James Wilson sebagai ujung tombak.

Memphis Depay atau Marouane Fellaini mungkin sesekali dapat mengisi pos ini. Tapi sepertinya memang United membutuhkan penyerang lainnya.

Ditambah juga posisi bek tengah yang divonis berkinerja terlalu buruk musim lalu dengan kesalahan (defensive error) sebanyak 29 kali, United sebenarnya masih butuh setidaknya seorang bek tengah yang dapat diandalkan, seperti Sergio Ramos, atau sejujurnya ?seperti yang kami sarankan juga musim lalu? Ron Vlaar ataupun Ryan Shawcross.

Baik Vlaar maupun Shawcross adalah bek bertipikal pemimpin yang sudah berpengalaman di Liga Primer. Apalagi Shawcross, kapten Stoke City, adalah pemain didikan akademi Manchester United.

Sedangkan Vlaar sendiri sekarang sedang berstatus free agent alias tak bertuan setelah ia menolak perpanjangan kontrak dari manajemen Aston Villa akhir musim 2014/15.

Posisi penjaga gawang juga berada dalam ketidakpastian akibat terbang-tenggelamnya kabar David de Gea yang ingin pindah ke Real Madrid, ditambah Víctor Valdés yang dalam kondisi tanda tanya akibat tidak dibawa Van Gaal ke tur pra-musim.

Namun, dari semua ketidakpastian di atas, satu hal yang pasti: Manchester United memang belum sempurna; tapi dengan kehadiran Schweinsteiger dan Schneiderlin, lini tengah United sudah mencapai sebuah kesempurnaan (...di atas kertas).

Semoga tiga huruf yang identik dengan United di musim 2015/16 nanti adalah tetap LVG, bukan menjadi PHP.

Sumber: The Guardian, ManUtd, Daily Echo, BBC Sport

Komentar