Malaikat Juga Tahu, Inggris yang Jadi Juaranya

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Malaikat Juga Tahu, Inggris yang Jadi Juaranya

Tak ada yang bisa menahan malu saat digadang-gadang mampu berbicara banyak, tapi nyatanya mendapatkan hasil yang amat mengecewakan. Hal inilah yang dialami kesebelasan negara Inggris U-21 yang pulang dengan kepala tertunduk. Mereka hanya menempati posisi juru kunci pada Piala Eropa U-21 yang dihelat di Republik Ceko 17-30 Juni lalu.

Inggris memang tidak beruntung. Mereka mesti tergabung dalam grup B yang dihuni Portugal, Swedia, dan Italia. Portugal dan Italia jelas bukan kesebelasan yang mudah dikalahkan baik di level junior maupun senior. Keduanya memiliki sejarah kejayaan yang panjang di sepakbola.

Meskipun demikian, Inggris tidaklah mengecewakan; setidaknya dalam tiga pertandingan yang dilakoni pada babak grup Inggris selalu unggul dalam jumlah total tembakan ke gawang. Dalam penguasaan bola pun Inggris dominan, meski kalah 48:52 persen saat menghadapi Portugal. Dalam dua pertandingan sisa, Inggris unggul hingga 60% saat menghadapi Swedia dan 58% saat dikandaskan Italia.

Inggris gagal lolos karena hanya mengumpulkan tiga poin hasil sekali kemenangan atas Swedia. Di sisi lain, Italia pun menelan pil pahit karena kalah head to head atas Swedia yang membuat mereka hanya menempati peringkat ketiga.

Tidak lolosnya Inggris dan/atau Italia ke semifinal menjadi bahan perbincangan banyak pihak. Padahal, kesempatan mereka besar untuk bisa mencapai babak final karena lawan yang dihadapi “hanyalah” Denmark, karena Jerman hanya menempati peringkat kedua klasemen grup A.

Di luar dugaan, Jerman dibantai Portugal 0-5 sedangkan Denmark dikalahkan tetangganya Swedia 1-4. Partai final tentu seperti menjadi de javu karena Portugal dan Swedia pernah bertemu pada fase grup. Kala itu, keduanya berbagi poin 1-1.

Suasana tersebut kembali terulang setelah kedua kesebelasan bermain imbang hingga 120 menit tidak tercipta satupun gol. Swedia kemudian keluar sebagai juara lewat babak adu tendangan penalti. Empat penendang Swedia sukses menceploskan bola, sedangkan kegagalan William Carvalho membuyarkan mimpi Portugal untuk meraih gelar.

Di luar kemeriahan partai final, ada satu kenyataan yang sejatinya bisa mengubah hasil akhir pertandingan.

Jika sepakbola adalah matematika, kita tahu pasti bahwa grup B adalah grup yang ketat. Bagaimana mungkin kesebelasan wakil dari grup A bisa dibantai dengan skor yang begitu jauh.

Pertandingan semifinal Piala Eropa U-21 memang seperti hitung-hitungan matematika. Portugal sebagai juara grup mampu mengandaskan Jerman dengan catatan cleansheet; sedangkan Swedia yang menjadi runner-up, yang lebih lemah daripada Portugal, hanya mampu mencetak empat gol, itu pun kebobolan karena Denmark adalah juara grup yang lebih hebat dari Portugal.

Sepakbola juga matematika pada partai final yang mengulang pertandingan  grup B. Sepanjang 90 menit dan 120 menit, tidak ada yang bisa mencetak gol lebih banyak.

Pertandingan kemudian dilanjutkan lewat adu penalti di mana hitung-hitungan matematika tidak berlaku lagi. Swedia bisa unggul karena sebelumnya mereka tak pernah adu penalti dengan Portugal.

Jika sepakbola adalah matematika, maka Inggris adalah juaranya, karena Swedia tidak pernah kalah di Piala Eropa U-21 kecuali oleh Inggris. Sayangnya sepakbola bukan matematika. Namun, di luar itu, kita patut memberi selamat kepada Inggris yang sukses mengalahkan sang juara Eropa U-21, yang bahkan Portugal serta Italia—yang mengalahkan Inggris di fase grup—saja tidak bisa mengalahkan John Guidetti dan kawan-kawan.

Malaikat juga tahu, Inggris-lah yang jadi juaranya. Tentu saja malaikat yang dimaksud adalah malaikat dari jenis yang suka becanda!

Sumber gambar: Telegraph.co.uk

Komentar