Soal Pesawat, Jangan Main-Main dengan Kevin-Prince Boateng!

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Soal Pesawat, Jangan Main-Main dengan Kevin-Prince Boateng!

Kevin-Prince Boateng tengah menghadapi masa-masa sulit. Konon kabarnya, FC Schalke 04, klub yang ia bela, tengah menyiapkan sanksi berat atau denda besar bagi dirinya. Pasalnya, sang pemain membuat ulah dengan membuat keributan di bandara.

Begini ceritanya; Schalke 04 saat itu tengah dalam perjalanan dari Dusseldorf menuju Lisbon. Die Koenigsblauen, julukan Schalke 04, akan melawat ke kandang Sporting Lisbon dalam lanjutan Liga Champions Eropa.

Pemain berusia 26 tahun tersebut dikabarkan terlibat pertengkaran dengan kru pesawat. Boateng marah karena ia menganggap pelayanan yang diberikan maskapai penerbangan, terasa buruk. Kalut, ia pun menyerang kru pesawat.

Minggu lalu, pihak klub telah meminta Boateng untuk hadir di kantor. Kesaksiannya akan dijadikan rujukan untuk menentukan sanksi apa yang tepat bagi dirinya.

Boateng dikenal begiu sensitif soal penerbangannya dengan pesawat. Saking sensitifnya, ia lebih memilih menggunakan jet pribadi untuk berpergian.

Soal kenyamanan ini sebenarnya sudah terlihat jelang Piala Dunia 2014. Boateng pernah menghardik Federasi Sepakbola Ghana, GFA, karena mengirim mereka ke Piala Dunia dengan pesawat kelas ekonomi. “Penerbangan dari Miami ke Brasil butuh 12 jam. Kami duduk di kelas ekonomi dengan kaki yang sakit. Bagi seorang profesional, itu adalah penghinaan,” kata Boateng seperti dikutip SportBild.

Boateng pantas marah. Sebelumnya, pada pertandingan persahabatan menghadapi Montenegro pada Maret 2014 lalu, Boateng sampai-sampai menyewa pesawat khusus untuk mengangkut rekan-rekannya yang bermain di Italia seperti Sulley Muntari, Michael Essien, Kwadwo Asamoah, dan Emmanuel Agyemang Badu.

Padahal, pertandingan persahabatan tersebut tidak berarti begitu besar bagi Ghana, baik secara kualitas permainan, maupun dari bonus yang diberikan. Namun, mereka memilih berangkat lebih dahulu agar sampai lebih cepat dan tepat waktu.

Pihak GFA sendiri tidak sanggup membayar tiket pesawat, sehingga mereka yang datang ke Podgorica, Montenegro, atas biaya pemain itu sendiri. Komitmen ini pula yang kemudian disesali Boateng saat berangkat ke Piala Dunia.

Selain dikirim dengan menggunakan pesawat kelas ekonomi, Boateng pun dikabarkan kehilangan koper yang berisi sepatu bola miliknya. Namun, berdasarkan penuturannya, tidak ada perhatian dari maskapai penerbangan maupun dari federasi. Ironisnya, setelah melewati itu semua, Boateng malah dipulangkan dengan alasan berseteru dengan Gyan Asamoah. Padahal, dua pemain tersebut mengaku hanya bercanda saat latihan.

Hubungan Boateng khususnya dengan pesawat terbang makin bertambah saat timnas Ghana mengancam mundur dari Piala Dunia. GFA pun mengirim pesawat yang berisi koper dengan total tiga juta dollar di dalamnya.

Boateng sepertinya memiliki perhatian istimewa terhadap pesawat terbang. Di udara, ia ingin pelayanan penuh dan memuaskan. Bukan tanpa alasan tentunya, karena apapun bisa terjadi di udara.

Kalau sudah tahu begini, agaknya Schalke akan berpikir ulang untuk membawa sang pemain terbang bersama. Selain takut suasana hati sang pemain menjadi buruk, membiarkan Boateng pergi berarti mengurangi resiko klub akan dipermalukan.

Sumber gambar: kevin-princeboateng.blogspot.com

Komentar