Masa Depan Liga Inggris di Tangan Asia?

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Masa Depan Liga Inggris di Tangan Asia?

Saat ini sponsor utama Liga Inggris adalah Bank Barclays, sebuah bank multinasional yang berbasis di London, Inggris. Namun, kabar terbaru pada Mei lalu, Barclays berniat menarik diri untuk tidak lagi menjadi sponsor Liga Inggris.

Sepintas, kita melihat bahwa operator Liga Inggris,  Premier League, tak perlu khawatir. Ibarat magnet, Liga Inggris mampu menyedot apapun karena daya tariknya yang begitu kuat. Barclays pergi, sponsor pun akan berdatangan.

Pertanyaannya adalah siapa sponsor tersebut? Di mana gedung pusatnya didirikan?

Melihat tren yang ada pada saat ini, bukan tidak mungkin sponsor Liga Inggris pada musim 2016/2017 berkantor di Asia. Sebuah wilayah yang dicap sebagai “Kumpulan negara dunia ketiga”.

Berdasarkan laporan Guardian, Barclays menggelontorkan 40 juta pounds per tahun untuk menjadi sponsor utama. Jumlah ini sebenarnya jauh lebih kecil dari dana 2,3 miliar pounds yang dikeluarkan SkySports dan BTSports demi bisa menyiarkan tayangan Liga Inggris per tiga tahun.

Barclays menilai dengan menyeponsori Liga Inggris, dampak terhadap peningkatan ekonomi mereka tak begitu signifikan. Malah, seperti yang dikutip Guardian, salah seorang pejabat bank berkata bahwa sponsorship tersebut “tak memiliki nilai” atau “zero value”.

Saat ini, Asia benar-benar merajai sponsor yang tertempel di dada pemain. Dari 20 klub yang berlaga pada musim ini, sembilan di antaranya menggunakan sponsor utama dari Asia.

Itu baru dari sponsor yang tertera di jersey, belum lagi sponsor pendamping atau “official partner”. Musim kompetisi 2013/2014 misalnya, berdasarkan data dari Connected Asia terdapat 34 sponsor dari Asia yang menyeponsori Chelsea, Tottenham Hotspur, Manchester City, Liverpool, dan (tentu saja) Manchester United. Dari jumlah tersebut 17 diantaranya ada di kubu Manchester United.

Jumlah ini tak lain karena “koperatifnya” FA, Premier League, dan penyedia hak siar. Mereka mau memajukan jam pertandingan menjadi tengah hari, untuk menggapai pasar Asia. Dengan hal ini, perusahaan multinasional akan lebih mudah beriklan, karena di waktu tersebut terdapat kurang lebih 100 juta orang di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara yang menyaksikan pertandingan Liga Inggris. Bisa dibayangkan bukan?

Maka, menjadi wajar jika ada spekulasi bahwa nantinya Liga Inggris akan disponsori oleh perusahaan Asia. Bosan bukan, dari dulu kita selalu dijejali “Barclays Premier League”? Cobalah sekali-kali “Semen Indonesia Premier League” atau “Sosro Premier League”. Sekaligus sebagai sarana promosi Indonesia dalam hal ekonomi dan pariwisata.

Teh Botol Sosro Oranye

Sumber gambar: fullyfootball.com

Komentar