Keseriusan Rusia jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2018

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Keseriusan Rusia jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2018

Empat tahun lagi, Piala Dunia akan digelar di negeri Vladimir Putin. Ini merupakan kali pertama Piala Dunia diselenggarakan di wilayah Eropa Timur. Sebelumnya, Uni Soviet kalah dari Italia saat dilakukan voting untuk Piala  Dunia 1990. Saat itu, Austria dan Yugoslavia turut serta dalam proses pemilihan.

Keberhasilan Rusia mendapat kepercayaan dari anggota komite eksekutif FIFA, membuat mereka sedetail mungkin mengurusi penyelenggaraan yang digelar pada Juni-Juli tersebut. Pada Agustus lalu, sempat tersiar kabar sejumlah negara barat berencana memboikot penyelenggaraan. Pasalnya, masih adanya ketakutan akan ancaman keamanan.

Maklum, saat ini Rusia telah memiliki stigma negatif dalam benak masyarakat. Bukan atas apa yang mereka lakukan, tapi atas apa yang sutradara dan para pengarang tulis. Rusia begitu lekat dengan kejahatan terselubung, mafia, dan kebencian yang ekstra pada Amerika Serikat. Maka, wajar rasanya jika penyelenggaraan tersebut diiringi dengan rasa was-was yang terkesan berlebihan.

Rusia pun terus berbenah. Mereka mulai merenvoasi dan membangun stadion baru. Penyelenggaraan Piala Dunia akan vital bagi Rusia, karena inilah saatnya bagi mereka untuk meningkatkan citra mereka di mata dunia.

Rusia akan menggunakan 12 stadion yang terletak di 11 kota di Rusia. Pemilihan kota penyelenggara menjadi penting karena luasnya wilayah Rusia yang mencakup Eropa dan Asia. Kota-kota tersebut—Kaliningrad, Kazan, Moskow, Nizhny Novgorod, Roston-on-Don, Saint Petersburg, Samara, Saransk, Sochi, Volgograd, dan Yekaterinburg—terletak di Rusia bagian barat dan tengah. Tidak ada satupun kota di Rusia timur yang menjadi penyelenggara karena luas wilayah serta iklim yang kurang mendukung.

Dari jumlah tersebut, sepuluh di antaranya merupakan stadion yang baru dibuka. Sementara itu, Stadion Luzhniki dan Stadion Central Yekaterinburg hanya akan direnovasi.

Total biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan infrastruktur diperkirakan mencapai 19,5 miliar dollar. Untuk pembangunan akses jalan, Dinas Perhubungan Rusia telah menganggarkan 700 juta dolar untuk membangun jaringan jalan baru serta memperbaiki yang telah ada. Rencananya, jaringan jalan tersebut akan lebih ditata untuk menghindari terjadinya penumpukan kendaraan saat penyelenggaraan.

Selain itu, Federasi Sepakbola Rusia, RFU, pun tengah menyiapkan skuat terbaiknya untuk berlaga di liga. Mereka membentuk tim satuan tugas untuk mengembangkan para pemain muda agar siap tampil empat tahun mendatang.

Suatu hal yang kurang menyenangkan bukan jika tim tuan rumah tak berkutik menghadapi tamu-tamunya. Nantinya para pemain muda tersebut disertakan dalam Liga Rusia dan dilatih langsung oleh pelatih kepala, Fabio Capello.

Sekjer RFU beranggapan, pembentukan tim baru di liga yang berisi para pemain muda, menjadi jalan terbaik untuk menunjang penampilan timnas Rusia. Tim tersebut rencananya dinamakan “Rusia 2018”.

Timnas Rusia sendiri dianggap tidak mewarisi kekuatan tim Uni Soviet seperti pada era 50-an. Mereka gagal lolos kualifikasi unti Piala Dunia 2006 dan 2010. Penampilan tim beruang madu di Piala Dunia 2014 pun sama sekali tak mengesankan. Dari tiga laga yang dilalu, mereka hanya mendapatkan dua poin hasil dua kali imbang.

Maka wajar jika RFU amat berambisi membentuk timnas yang kuat, yang terdiri dari pemain muda yang telah memiliki jam terbang tinggi.

Kekuatan timnas Rusia baru benar-benar akan teruji pada Piala Konfederasi 2017 mendatang. Kompetisi ini menjadi turnamen terakhir jelang perjalanan mereka di Piala Dunia.

Dalam penyelenggaraan Piala Dunia mendatang, Rusia mewajibkan penonton yang akan datang, untuk memeroleh visa terlebih dahulu. Penonton harus langsung mengurus visa di negaranya atau kantor perwakilan Rusia lainnya.

Rusia tampaknya benar-benar serius dalam penyelenggaraan Piala Dunia ini. Presiden Vladimir Putin secara khusus telah meminta Kementrian Dalam Negeri untuk mengamankan anggaran untuk tahun 2018. Sang Presiden sebenarnya tak suka-suka amat dengan sepakbola. Ia lebih memilih menonton pertandingan hoki es. Baginya sepakbola dijadikan sebagai alat untuk menganggungkan kembali nama besar Rusia pasca perang dingin yang bubar hampir seperampat abad silam.

Komentar