Pedri: Maestro Baru Timnas Spanyol

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pedri: Maestro Baru Timnas Spanyol

Dua tahun lalu, tidak banyak yang mengenal sosok Pedro Gonzalez Lopez alias Pedri. Ia cuma remaja malu-malu yang baru saja datang ke Barcelona. Ronald Koeman pun tidak tahu sang pemain ketika mengambil alih kursi kepelatihan. Sang pelatih baru memperhatikan Pedri ketika diberi tahu bahwa ia telah bermain lebih dari 30 kali di Segunda Division. Yang membuat pencapaian itu istimewa--bagi Koeman--adalah: usianya baru 17 tahun.

Pada awal 2019/20, Barcelona merampungkan transfer Pedri dari Las Palmas. Kepindahannya efektif berlaku pada akhir musim dan Pedri merumput bersama klub lamanya di Segunda Divison. Ia mendapatkan debut senior pada usia 16 tahun dan menjadi pencetak gol termuda klub asal Kepulauan Canaria tersebut.

Koeman diberi tahu kalau gaya bermain Pedri seperti Andres Iniesta. Ketika melihat permainannya di sesi latihan, pelatih berusia 58 tahun itu segera sadar bahwa ia memiliki gelandang baru dengan bakat spesial.

Pada mulanya, Barcelona ingin meminjamkan Pedri agar mendapatkan menit bermain. Meskipun baru menjalani musim impresif bersama Las Palmas, sang pemain tak punya ekspektasi muluk-muluk. Ia sadar kalau lini tengah Barca yang diisi pemain sekaliber Frenkie de Jong hingga Miralem Pjanic bisa membuat pemain seusianya tersingkir.

Saat pertama datang di Katalunya, Pedri bahkan mengaku tak keberatan bila diminta memperkuat tim B. “Saya berharap Barca B bisa meraih promosi ke divisi kedua karena bermain di sana, seperti yang baru saja saya jalani bersama Las Palmas, ketika Anda masih muda, baik untuk Anda. Saya paham jika mereka memandang saya belum siap di tim utama, jalan terbaik mungkin pergi dengan status pinjaman,” kata Pedri pada Juli 2020 lalu sebagaimana dikutip ESPN.

Akan tetapi, rencana meminjamkan Pedri segera ditinggalkan seiring kekaguman Koeman di sesi latihan. Pada 2020/21, ia dilibatkan ke tim inti. Pemuda kelahiran Tenerife ini hanya melewatkan satu pertandingan Blaugrana di La Liga musim lalu.

Pelatih Timnas Spanyol, Luis Enrique pun turut kepincut dengan talenta Pedri. Saat ia mengumumkan skuad final untuk Piala Eropa 2020, partisipasi Pedri bukanlah kejutan. Namun, yang mengejutkan adalah betapa berpengaruhnya sang pemain di putaran final.

Baru genap 19 tahun pada November mendatang, Pedri selalu tampil 90 menit dalam tiga pertandingan La Furia Roja di fase grup Piala Eropa. Hanya ada tiga pemain yang diberi kesempatan sama oleh Enrique: Aymeric Laporte, Jordi Alba, dan kiper Unai Simon.

Tampil Brilian di Lini Tengah

Di Barcelona, Pedri sering diturunkan sebagai gelandang tengah atau gelandang serang. Sedangkan di Timnas Spanyol, ia sejauh ini dipasang di pos gelandang tengah-kiri, menjadi tandem Koke serta Rodri atau Sergio Busquets.

Pedri berperan menonjol dalam konstruksi serangan timnya. Saat Spanyol berupaya membangun serangan dari lini belakang, pemain berusia 18 tahun itu acap turun menyediakan opsi umpan. Sang pemain kemudian bisa melanjutkan progresi baik dengan giringan atau operan.

Meskipun masih muda, Pedri telah menunjukkan keistimewaan dalam hal pemosisian. Ia bisa memindai situasi dan membuat keputusan dengan cepat. Kemampuan ini berharga bagi permainan tim berbasis penguasaan bola yang menuntut banyak rotasi seperti Timnas Spanyol maupun Barcelona.

Kecepatan membaca situasi membuat Pedri sering lepas dari pressing lawan. Ia cermat membaca ruang dan potensi pergerakan yang tersedia. Di sepertiga akhir, gelandang Barcelona itu bisa menjadi outlet kreatif yang cakap menemukan celah dan mengeksploitasinya dengan umpan cerdas.

Sebagai gelandang berorientasi menyerang, jumlah gol atau asisnya memang tak banyak. Bersama Blaugrana, ia hanya mencetak tiga gol dan tiga asis dari 37 pertandingan La Liga. Di Piala Eropa 2020 sejauh ini, sang pemain juga belum membuat gol ataupun asis.

Akan tetapi, statistik tersebut tidak mencerminkan visi dan kemampuan operan Pedri. Di Barcelona ataupun Spanyol, ia aktif terlibat dalam sekuens pergerakan tim yang membuahkan peluang. Pedri memang jarang membuat umpan final yang berbuah gol, tetapi kapabel mengirim umpan yang memicu proses terjadinya gol.

Misalnya ketika Spanyol bersua Georgia pada 28 Maret silam. Dalam laga itu, ia membuat umpan jauh ke kotak penalti yang mengejutkan lawan.

La Furia Roja menggempur Georgia yang bermain rapat dengan blok rendah. Pada menit 21, Pedri mendapatkan umpan di sisi kiri dekat tengah lapangan dari Bryan Gil. Sebelum menerima umpan, ia telah memindai situasi di sepertiga akhir dan melihat Ferran Torres serta Alvaro Morata yang menempel masing-masing sisi lini belakang.

Waktu itu, Fabian Ruiz memintanya untuk mengirim back pass saja. Namun, berkat kecepatan memindai dan menemukan potensi pergerakan, Pedri mengirim umpan sejauh 30 meter ke Ferran Torres di ujung sisi kanan lini belakang. Operannya melambung mulus, memintas dua blok pressing Georgia yang berisi sembilan pemain.

Lini belakang Georgia kecolongan umpan yang mengarah ke Torres di posisi siap tembak di dalam kotak penalti. Selain menembak, opsi yang tersedia adalah mengirim umpan silang ke Alvaro Morata. Umpan mengejutkan Pedri membuat para pemain Georgia fokus ke sisi kanan, sehingga Morata kini dalam posisi bebas. Sayangnya, Torres gagal menerima umpan itu dan bola melaju melewatinya, menghasilkan tendangan gawang.

Momen jenius seperti itu bukan hanya sekali-dua dilakukan oleh Pedri. Itu bisa diulang. Contoh terkini adalah ketika Spanyol melibas Slovakia 0-5. Sang pemain tak mencetak gol atau asis, tetapi visi umpannya mengawali tiga gol La Roja yang bukan gol bunuh diri.

Pada proses gol kedua Spanyol, misalnya. Berawal dari korner yang berhasil dihalau, Pedri menguasai bola di luar kotak penalti. Begitu menerima bola, ia segera menyadari ruang yang bisa diserang Gerard Moreno. Pedri mengirim umpan cungkil ke pinggir area kiper. Moreno pun mampu mengontrol bola dan mengirim umpan silang yang diselesaikan Aymeric Laporte.

Umpan-umpan yang dibuat Pedri memang tidak berbuah asis. Namun, umpan-umpan itu bisa membongkar lini belakang lawan dan memicu sekuens aksi yang berujung peluang berbahaya. Keputusan Luis Enrique selalu memainkannya pun tak mengherankan.

Di Piala Eropa 2020, Pedri rata-rata membuat 3,67 aksi berbuah tembakan per pertandingan. Di skuad Spanyol, frekuensi yang dicatatkannya hanya kalah dari dua pemain yang sering mengisi pos winger, yakni Pablo Sarabia dan Gerard Moreno.

Selain pandai mengumpan, ia memiliki kontrol bola mumpuni. Saat lawan melakukan press, keawasan Pedri akan situasi sekitar membuatnya bisa menghindar. Di Piala Eropa 2020, eks Las Palmas ini mencatatkan 268 sentuhan, sebagain besar di tengah lapangan dan sepertiga akhir, tetapi baru dua kali kehilangan bola akibat tekel lawan.

Selain itu, Pedri juga mau bekerja keras demi kepentingan tim. Sang pemain rajin terlibat dalam skema pressing timnya, rata-rata membuat 15 press per pertandingan bersama Timnas Spanyol. Etos kerja melengkapi talenta kreatifnya.

Pedri merupakan aset berharga bagi masa depan Timnas Spanyol. Ia berbakat dan mau bermain efektif, tidak berusaha mencari sorotan sendirian. “Cara bermainnya [Pedri], semuanya sungguh simpel tetapi sangat penting. Ia tidak berupaya mengolongi orang atau banyak bertingkah: hanya melakukan hal-hal simpel dan hal-hal yang benar. Itu adalah anugerah. Tidak terlalu umum di sepakbola,” kata Ruben Delgado, eks pelatih Pedri di tim muda Las Palmas.

Masa bermain Pedri masih panjang. Bisa atau tidak dia mencapai level Andres Iniesta tergantung caranya menjalani karier dan keberuntungan dengan cedera. Namun, sebelum itu, kiprah Timnas Spanyol di Piala Eropa 2020 belum selesai dan kontribusinya patut dinanti.

Komentar