Piala Eropa 2020: Perancis Tunjukkan Mengapa Mereka Favorit Juara

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Piala Eropa 2020: Perancis Tunjukkan Mengapa Mereka Favorit Juara

Timnas Perancis mengawali Piala Eropa 2020 dengan performa impresif. Bertanding di Fussball Arena, Muenchen, anak asuh Didier Deschamps membungkam tuan rumah Jerman dengan skor 1-0. Kemenangan ini, selain membawa Les Bleus dalam posisi menguntungkan, juga menegaskan kelayakan mereka sebagai favorit juara.

Tampil menyandang gelar juara dunia, tentu tak sedikit pihak yang menjagokan Perancis meraih trofi Henri Delaunay. Paul Pogba dan kawan-kawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan performa usai menjuarai Piala Dunia 2018. Perancis masih menorehkan penampilan kokoh dan lolos ke semifinal UEFA Nations League 2020/21.

Komposisi skuad yang mentereng sudah cukup jadi alasan menjagokan Perancis. Data pun bicara demikian. The Analyst membuat model prediksi berdasarkan bursa taruhan dan data Stats Perform, perusahaan yang menjadi induk Opta. Hasil proyeksi mereka, Perancis memiliki peluang juara sebesar 20,5% pada awal turnamen. Setelah mengalahkan Jerman, probabilitas itu semakin besar menjadi 22,5%, nyaris dua kali lipat dari favorit kedua, Belgia (13%).

Dalam pertandingan kontra Jerman, Les Bleus menunjukkan kualitas yang membawa mereka jadi juara dunia. Perancis mempraktikkan benar-benar adagium yang menyatakan bahwa pertahanan memberikanmu gelar juara.

Skuad asuhan Deschamps masih menghadapi pertandingan dengan basis pertahanan solid. Perancis bertahan dengan rapat dan menyerang dengan efisien. Saat keunggulan tercapai, lawan akan naik lebih tinggi dan Les Bleus dengan senang hati melancarkan serangan balik cepat. Tim ini sangat sulit dihadapi.

Baca juga: Jadwal Lengkap dan Stadion Piala Eropa 2020

Seperti Didominasi, tetapi Sebetulnya Tidak

Sepanjang Piala Dunia 2018, Perancis mampu menang tanpa perlu tampil dominan. Di antara para semifinalis, Les Bleus mencatatkan angka terendah dalam metrik yang mengindikasikan dominasi seperti penguasaan bola, rata-rata tembakan, serta kualitas peluang (xG). Namun, nyatanya mereka hampir selalu menang.

Lawan mungkin lebih sering menekan Perancis. Namun, itu bukan berarti mereka mendominasi Raphael Varane dan kawan-kawan. Blok rapat Les Bleus selalu sigap mengantisipasi aliran bola ke area berbahaya. Ketika menguasai bola, mereka berupaya menyerang seefisien mungkin dengan cover yang layak di belakang.

Jika Perancis berhasil unggul, maka pertandingan akan menjadi milik Perancis. Pasalnya, lawan akan mengambil risiko lebih dan Kylian Mbappe selalu siap menyerang ruang di belakang bek dengan kecepatannya.

Hal ini ditunjukkan ketika Perancis membungkam Jerman pada Rabu (16/6/2021) lalu. Apabila meninjau statistik, sekilas die Mannschaft terlihat lebih unggul dan layak menang. Anak asuh Joachim Loew lebih dominan dalam penguasaan bola (62%), lebih banyak menembak (10), dan mencatatkan xG kumulatif lebih baik (0,8 berbanding 0,4). Gol tunggal Les Bleus pun merupakan gol bunuh diri yang rawan disalahartikan sebagai keberuntungan semata.

Akan tetapi, di Fussbal Arena, Perancis lah yang sejatinya “menghajar” Jerman. Statistik kualitas peluang (xG) tidak utuh menggambarkan bagaimana kedua tim saling mengancam. Statistik tersebut tidak merekam dua gol yang dianulir karena offside tipis, satu tembakan membentur tiang, satu umpan silang berujung gol bunuh diri, dan satu aksi yang memaksa Mats Hummels melakukan tekel darurat yang brilian.

Jerman memang lebih banyak menekan Perancis. Namun mereka tidak memunculkan situasi yang mesti direspons lawan secara darurat. Les Bleus bermain rapat dan lawan kesulitan membongkar pertahanan mereka.

Dalam laga ini, Deschamps menurunkan formasi dasar 4-3-3. Lini depan Perancis, secara posisional, memiliki akses pressing terhadap tiga bek Jerman. Tiga striker didukung oleh trio gelandang yang berisikan Paul Pogba, N’Golo Kante, dan Adrien Rabiot. Pogba bermain lebih ofensif dan sering menjadi pengumpan dari half-space kanan. Sedangkan Kante dan Rabiot bermain lebih suportif dan cenderung menjaga kerapatan lini tengah.

Sementara itu, Benjamin Pavard dan Lucas Hernandez bermain melebar saat timnya menguasai bola, merapat jika lawan sedang menekan. Penetrasi mereka diandalkan dalam serangan Les Bleus dari sayap.

Perancis membiarkan Jerman bermain di sepertiga pertahanan, tetapi sukses menutup akses operan mereka ke kotak penalti. Raphael Varane dan kawan-kawan tidak terburu-buru merebut bola dan pilih bertahan dengan disiplin pemosisian. Melansir data StatsBomb, rata-rata PPDA (passes allowed per defensive actions) Perancis ada di angka 35,2. Artinya, jika dirata-rata, mereka membiarkan Jerman memainkan 35 operan sebelum berupaya merebut bola.

Anak asuh Deschamps dengan senang hati membiarkan Jerman memainkan bola. Perancis merespons permainan ofensif lawan dengan baik. Kendati die Mannschaft mencatatkan 279 sentuhan di sepertiga akhir, mereka hanya mencatatkan 22 sentuhan di kotak penalti.

Jerman memang membuat tujuh tembakan dari dalam kotak penalti. Namun, kesigapan lini belakang dan penyelesaian yang kurang baik membuat empat di antaranya tidak tepat sasaran dan dua upaya diblok.

Sebaliknya, Perancis bermain lebih efisien. Les Bleus hanya mencatatkan 93 kali sentuhan di sepertiga akhir, tetapi bisa mendapatkan 13 sentuhan di kotak penalti lawan. Satu di antaranya berbuah gol bunuh diri Mats Hummels.

Di lain sisi, para penyerang Jerman juga tampil tak maksimal. Joachim Loew menurunkan dua gelandang serang yang diharapkan bisa mengeksploitasi ruang antar-lini. Thomas Mueller dan Kai Havertz beberapa kali mendapatkan ruang di antara lini tengah dan lini belakang. Namun, serangan yang dibangun dari situ kerap menemui kegagalan.

Mueller, khususnya, tampil mengecewakan ketika mendapat bola. Meskipun menjadi target utama umpan progresif Jerman, gelandang Bayern Muenchen itu enam kali kehilangan bola. Ia pun gagal bekerja sama dengan Kai Havertz dan Serge Gnabry untuk memasuki kotak penalti lawan.

Setelah gol bunuh diri Hummels, pertandingan ini menjadi milik Perancis. Jika meninjau rata-rata posisi Les Bleus, terlihat bahwa Kylian Mbappe seringkali jauh terpisah di area depan dari rekan-rekannya. Striker Paris Saint-Germain tersebut merupakan outlet utama serangan balik dan beberapa kali merepotkan Jerman dengan kecepatannya.

Skema ini berbuah satu gol Karim Benzema yang dianulir karena offside. Mbappe juga sempat mencetak satu gol, tetapi dianulir akibat terperangkap offside.

Baca juga: Piala Eropa: Lahan Subur untuk Panen Kejutan

Perancis sangat berbahaya dalam serangan balik. Strategi ini akan makin efektif jika Les Bleus berhasil mencuri keunggulan. Apabila lawan mau mengambil risiko lebih dan menempatkan lebih banyak pemain di depan, Perancis akan menyambutnya dengan senang hati. Mereka mendikte permainan sejak dalam posisi bertahan.

Hal tersebut membuat Perancis sulit dihadapi. Kualitas seperti itulah yang membawa mereka menjuarai Piala Dunia 2018 serta menjadi favorit di turnamen kali ini.

Menanti Efek Benzema

Karim Benzema dipanggil kembali setelah absen lima tahun. Kendati baru melakoni dua partai uji coba, ia tampil baik di laga pertama Piala Eropa 2020. Penyerang Real Madrid ini membuktikan bahwa ia mampu mengemban peran Olivier Giroud dengan sama baiknya.

Di Piala Dunia 2018, Perancis mengandalkan Giroud di pos no.9. Kualitas yang menonjol dari sang pemain adalah caranya menautkan permainan (link-up play). Meskipun tak mencetak gol, perannya vital dalam menyokong permainan Les Bleus serta penampilan tajam Mbappe dan Griezmann.

Benzema bisa melakukan hal yang sama. Di Real Madrid, di bawah asuhan Zinedine Zidane, penyerang berusia 33 tahun itu menautkan permainan dengan baik. Benzema sering bergerak turun, menyeret bek tengah untuk mengikutinya dan membuka ruang di belakang untuk rekan-rekannya. Ia juga bisa melibatkan diri dalam alur serangan sekaligus mengirim umpan terobosan.

Di Perancis, ia mampu menggantikan Giroud. Namun, ada satu hal yang membedakannya dengan penyerang Chelsea tersebut: jaminan gol. Benzema selalu mencetak lebih dari 20 gol La Liga dalam tiga musim terkini.

Giroud sendiri semakin jarang mendapat kesempatan bermain dua musim belakangan. Sebaliknya, Benzema masih menjadi pemain kunci Real Madrid. Masuk akal belaka jika Deschamps lebih memilih nama terakhir.

Keberadaan Benzema pun membuat Perancis semakin berbahaya. Les Bleus memiliki striker komplet yang kapabel menautkan permainan sekaligus tajam di depan gawang.

Kiprah Benzema dan Perancis menarik dinanti. Di pertandingan kedua, anak asuh Deschamps dijadwalkan menghadapi Hungaria. Tambahan tiga poin kemungkinan besar akan memastikan partisipasi Perancis di fase gugur.

Komentar