Bagaimana Keputusan Chicharito Melukai Liga Meksiko

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Bagaimana Keputusan Chicharito Melukai Liga Meksiko

Setelah 10 tahun bermain di Eropa, Javier “Chicharito” Hernandez akhirnya meninggalkan Benua Biru untuk bergabung dengan LA Galaxy. Ditebus menggunakan dana sekitar 8,5 juta Euro, Galaxy memberi kontrak tiga tahun dengan gaji enam juta Dollar per musim untuk Chicharito. Penyerang asal Meksiko itu menggantikan Zlatan Ibrahimovic sebagai pemain dengan gaji termahal di klub. Akan tetapi, pendapatan Chicharito lebih rendah dibandingkan Ibrahimovic yang mencapai 7,2 juta Dollar per musim. Sekalipun keduanya sama-sama mengisi pos designated player di Dignity Health Sports Park.

Presiden LA Galaxy Chris Klein mengaku sudah mengincar Chicharito sejak 2019. Mereka bahkan sudah menjalani negosiasi, tapi perbedaan pendapat muncul saat membicarakan kontrak. Galaxy yang ketika itu sudah memiliki Ibrahimovic, tidak bisa memenuhi permintaan Chicharito. Gaji Chicharto di West Ham United mencapai 9,9 juta Dollar per tahun. Sementara batas gaji liga ketika itu hanyalah 4,24 juta Dollar per tahun. Terlalu jauh dari penghasilan Chicharito di West Ham.

Berkat kepergian Ibrahimovic, pihak Galaxy dapat menghemat pengeluaran mereka. Ibrahimovic juga membuka ruang untuk pemain lain mengisi pos designated player yang ia tinggalkan di Galaxy. Pemain dengan status ini diberi hak untuk mendapatkan gaji di luar batas yang ditentukan Major League Soccer (MLS). Akhirnya Chicharito pun bisa didaratkan oleh Galaxy.

VIDEO: Aksi-aksi terbaik Chicharito saat membela Real Madrid



Harus diakui, keberhasilan Galaxy mendapatkan tanda tangan Chicharito juga dipengaruhi oleh peran Sevilla. Mereka adalah pihak yang berhasil menurunkan gaji Chicharito. Mantan pemain Manchester United itu hanya mendapatkan 3,6 juta Dollar per tahun di Sevilla. Jauh lebih rendah dibandingkan pendapatannya selama membela West Ham. Jadi saat Galaxy kembali mendekati Chicharito dan menawarkan enam juta Dollar per tahun, itu sudah menjadi kenaikan gaji untuknya. Kehadiran mantan direktur Tim Nasional Meksiko, Dennis te Kloese, dalam jajaran direksi juga semakin memudahkan LA Galaxy mendatangkan Chicharito.

Chicharito memang bukanlah magnet media seperti Ibrahimovic. Tapi dirinya jelas layak menyandang status designated players. Pasalnya, ia didatangkan bukan hanya untuk menjalankan tugas di atas lapangan tapi juga mengangkat derajat dan menarik mata lebih banyak orang ke klub. Chicharito sendiri juga mengaku bahwa dirinya datang ke MLS di waktu yang tepat. Meski ada pihak lain yang disakiti dari keputusan ini: Liga MX.

Pada saat Chicharito didaratkan Manchester United dari Chivas Guadalajara, Jorge Vergara selaku pemilik klub saat itu mengatakan bahwa transfer Si Kacang Polong merupakan hari bersejarah dalam sepakbola Meksiko. Masih berusia 21 tahun, Chicharito adalah pemain Meksiko pertama yang pernah didaratkan Manchester United dan membawa status sebagai topskorer Liga MX Clausura ke Old Trafford.

Terlepas dari status Chicharito yang sangat jarang jadi pilihan utama di Manchester United ataupun tim Eropa lainnya –kecuali saat membela Bayer Leverkusen-, kemampuan pemain kelahiran 1 Juni 1988 itu sudah diakui oleh berbagai pihak. Ia dua kali menjuarai Liga Primer Inggris bersama Manchester United, terpilih jadi pemain favorit 1.Bundesliga 2015, dan juga tercatat sebagai pemegang rekor pencetak gol Tim Nasional Meksiko dengan 52 gol dari 109 penampilannya per 23 Januari 2020.

Publik Meksiko sangat mencintai Chicharito. Bahkan menurut pendukung Meksiko, Chicharito tidak tampil buruk di West Ham. Hanya dapat mencetak 17 gol dari 63 penampilan bersama the Hammers, Chicharito disebut disia-siakan oleh pihak klub. Hal ini diutarakan langsung oleh perwakilan suporter Meksiko kepada Guardian.

Kedatangan Chicharito ke LA Galaxy tentu akan menarik banyak perhatian publik Meksiko ke MLS. Bahkan media-media di sana mengangkat tema ini sebagai liputan utama mereka. “MLS menggoda Meksiko,” tulis Cancha dengan menampilkan gambar Carlos Vela (LAFC), Chicharito, dan Alan Pulido (Sporting KC). Hal serupa juga digaungkan oleh Universal Deportes dan Esto yang melihat kedatangan Chicharito sebagai bentuk usaha MLS menarik mata penduduk Meksiko.

Bedasarkan laporan yang beredar, MLS saat ini mendapatkan suntikan dana sebesar 75 juta Dollar dari hak siar televisi. Dari tujuh saluran yang mendapatkan hak siar tersebut dua di antaranya menggunakan Bahasa Spanyol, FOX dan ESPN Deportes. Selain itu, pihak liga juga menggaet Univision untuk laporan pertandingan melalui suara. ESPN, FOX, dan Univision juga merupakan pemegang hak siar Liga MX. Jika pemain-pemain terbaik Meksiko seperti Vela dan Chicharito bermain di MLS, bukan tidak mungkin Liga MX akan kehilangan penonton. Berapa pun angkanya, penurunan penonton jelas akan mempengaruhi nilai liga.

Perlu diketahui bahwa beberapa kesebelasan Liga MX seperti Club America, Atlas, Pachuca, Leon, dan Pumas dinaungi oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di dunia televisi. Akan selalu ada tempat bagi pertandingan mereka disiarkan. Tapi hanya mencakup publik lokal. Padahal, Liga MX dulu dikenal sebagai kompetisi sepakbola terbaik di Amerika Utara.

Para pengurus liga sadar apabila mereka ingin kembali diakui sebagai salah satu kompetisi terbaik, pertandingan-pertandingan yang terselenggara di Meksiko harus bisa diakses oleh dunia. Saat ini, mereka hanya memiliki ESPN, FOX, dan Univision untuk menarik kaum hispanik di Amerika Serikat. Namun, hanya 35 juta Dollar yang didapat Liga MX dari siaran tersebut. Jauh di bawah MLS.

Mungkin terdengar berlebihan, tapi apabila Chicharito memilih pulang ke Meksiko, ia bisa membantu Liga MX mendongkrak popularitas mereka. Sama seperti David Beckham mengangkat pamor MLS saat didatangkan LA Galaxy dari Real Madrid. Tidak perlu menarik terlalu jauh, saat Keisuke Honda dikontrak Pachuca, Liga MX langsung mendapatkan hak siar di Jepang. Kepulangan Chicharito yang sudah dikenal berbagai belahan dunia pasti akan menarik perhatian ke liga tersebut. Tapi dirinya justru memilih Galaxy sebagai pelabuhan pertamanya usai berkarier di Benua Biru.

Padahal, pemilik Chivas Amaury Vergara sudah berusaha memulangkan Chicharito sejak 2019. Hanya saja saat itu Chicharito masih mau berjuang di Eropa dan belum siap untuk pulang. Pindah ke Galaxy, dirinya juga mengatakan bahwa ia belum rela mengakhiri kariernya. “Saya rasa ini adalah waktu yang tepat untuk bermain di MLS. Saya cinta kepada Chivas [Guadalajara], tapi belum saatnya saya untuk pulang. Saya tidak melihat MLS sebagai liga pensiunan,” kata Chicharito kepada Los Angeles Times.

Dengan kata lain, ia hanya berpikir untuk pulang ke Meksiko saat kariernya sudah ada di ujung tanduk. Liga MX yang dulu disebut sebagai kompetisi sepakbola terbaik Amerika Utara justru menjadi tempat pensiun di mata Chicharito. Label yang dulu disamatkan banyak pihak kepada MLS. Chicharito semakin memperkuat argumen ini lewat pengakuannya di situs resmi MLS.

“Negara kami [Meksiko] tidak mau mengakui hal ini. Tapi MLS sudah semakin dekat untuk menjadi liga terbaik di Amerika Utara. Saya tahu hal ini karena selama 10 tahun bermain di luar Meksiko, rekan-rekan satu tim lebih paham tentang MLS dibandingkan Liga MX. Saya melihat Liga MX dan MLS punya ledakan yang berbeda. Hanya saja, Liga MX tidak mau menganggap hal itu. Tidak mau belajar dari hal-hal bagus yang telah dilakukan MLS,” aku Chicharito.

Lucas Zelayaran yang meninggalkan Tigres UANL untuk Columbus Crew juga mengatakan hal yang sama dengan Chicharito. Menyebut MLS sebagai liga yang lebih atraktif, sukses, berkembang dan masih dapat berkembang dibandingkan Liga MX. Wajar saja apabila akhirnya pemain-pemain Meksiko meninggalkan tanah kelahiran mereka dan bermain di MLS. Dibandingkan ‘terperangkap’ di Meksiko, mereka berniat untuk menunjukkan kemampuannya di hadapan dunia, dipantau oleh klub-klub Eropa atau dipanggil ke Tim Nasional Meksiko. Hal itu tidak bisa dilakukan di Liga MX.

Dalam dua turnamen besar terakhir yang diikuti oleh Meksiko, Piala Dunia 2018 dan Piala Emas CONCACAF 2019, mayoritas pemain mereka tidak membela klub Liga MX. Hanya sembilan nama disumbangkan Liga MX untuk Meksiko di Rusia. Sementara di Piala Emas CONCACAF 2019, dari 14 pemain yang dikirim Liga MX, sembilan di antara mereka sudah memasuki level senior atau lebih tua dari 23 tahun.

Ini membuat pemain-pemain muda seperti Efrain Alvarez (17) dan Julian Vazquez (18) lebih memilih bermain di MLS dibandingkan Liga MX. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, banyak pemain MLS yang mendapatkan kesempatan bersama klub divisi utama Eropa. Sementara hanya dalam lima tahun terakhir hanya 15 nama yang diangkut dari Liga MX. Itu sama saja tiga per musim dari ratusan pemain.

Liga MX sangat membutuhkan Chicharito. Pintu sudah dibukakan oleh Chivas agar Chicharito pulang. Tapi dia menolak dan justru merendahkan liga lokalnya. “Saya tidak datang ke sini untuk pensiun. Ini [MLS] adalah liga yang atraktif. Mereka hanya tidak mau mengakuinya,” kata Chicharito.

Komentar