Salah vs Mane: Siapa "Pemain Rahasia" Liga Primer 2019/20?

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Salah vs Mane: Siapa "Pemain Rahasia" Liga Primer 2019/20?

Mohamed Salah dan Sadio Mané sama-sama berhasil mencetak 22 gol di Liga Primer Inggris 2018/19. Kedua pemain Liverpool ini mendapatkan gelar top skor bersama Pierre-Emerick Aubameyang (Arsenal) yang juga mencetak 22 gol.

Dari perspektif gim Fantasy Premier League (FPL), Salah menjadi pemain termahal musim ini dengan harga £12.5. Sementara itu Raheem Sterling (£12.0), Sergio Agüero (£12.0), Mané (£11.0), Aubameyang (£11.0), dan Harry Kane (£11.0) berada di bawah Salah.

Apakah harga premium mereka berenam akan terefleksikan dengan baik pada poin FPL mereka di akhir musim nanti? Tidak ada jaminan pasti. Namun melalui statistik, kita bisa mengintip siapa yang kira-kira akan menjadi pemain kunci jika kita harus memilih salah satu.

Memiliki pemain premium di FPL tidak bisa dihambur-hamburkan. Demi terciptanya sinergi, kita mungkin hanya bisa memiliki dua atau tiga pemain premium di skuat FPL kita. Saat ini manajer FPL secara mainstream akan memilih satu pemain premium Liverpool (Salah atau Mané) dan satu pemain premium Manchester City (Sterling atau Agüero).

Jika secara umum pemilihan Sterling vs Agüero akan membuat manajer cenderung berpaling kepada Sterling karena alasan posisinya sebagai gelandang, maka tidak demikian dengan pemilihan Salah vs Mané.

Salah dan Mané diklasifikasikan sebagai gelandang di FPL. Keduanya juga merupakan top skor musim lalu.

Sebenarnya sah saja memiliki Salah dan Mané di skuat FPL kita. Namun memiliki dua pemain premium dari satu kesebelasan yang sama tergolong berisiko. Apalagi Man City (Sterling vs Agüero) memiliki jadwal yang menarik di 11 gameweek awal.

Kita juga sebenarnya bisa menukar Salah dan Mané secara berkala, meski itu tak praktis. Masalahnya, pemilihan pemain premium yang tepat bisa menjadi kunci sukses di akhir musim nanti. Maka dari itu, jika harus memilih salah satu di antara Salah dan Mané, siapa yang kira-kira lebih oke?

Salah Lebih Konsisten di Pertandingan Tandang dan Saat Melawan Kesebelasan Besar

Kalau perbandingan ini kita tinjau musim lalu, mungkin akan ada banyak manajer yang memilih Mané karena perbedaan harga mereka pada awal musim 2018/19 adalah £3.5.

Akan tetapi perbedaan harga Salah dan Mané di FPL musim ini “hanya” £1.0 (Salah lebih mahal). Salah mengalami penurunan harga dibandingkan musim lalu, sementara Mané mengalami peningkatan.

Harga mahal mencerminkan performa. Musim lalu Salah menjadi top skor FPL dengan 259 poin, diikuti Sterling (234 poin) dan baru kemudian Mané (231). Meski sama-sama menjadi top skor, Salah lebih banyak mencatatkan asis (12 banding tiga).

Melihat jumlah pertandingan, Salah juga unggul karena berhasil mencatatkan 6,8 poin FPL per pertandingan dibandingkan 6,4 milik Mané. Meski begitu, karena harga Mané jauh lebih murah, Mané memiliki efektivitas harga yang lebih oke daripada Salah.

Dua perbedaan mencolok antara Salah dan Mané terletak pada permainan mereka ketika tandang dan ketika menghadapi kesebelasan “big six” (Man City, Liverpool, Chelsea, Tottenham Hotspur, Arsenal, dan Manchester United).

Baca juga: Tips Main FPL ala 7 Habits

Salah mencatatkan 7,7 poin per laga kandang (13 gol dan 7 asis dari 19 laga), sementara Mané 8,2 poin (18 gol dan nol asis dari 19 laga). Kemudian saat tandang, Salah mencatatkan 5,9 poin per laga tandang (9 gol dan 5 asis dari 19 laga), lebih baik daripada Mané yang mencatatkan 4,5 poin (4 gol dan 3 asis dari 17 laga).

Selanjutnya jika melawan “big six”, Salah mencatatkan 2 gol dan 2 asis musim lalu, Mané 3 gol dan nol asis. Untuk kategori ini, Salah lebih baik secara poin FPL dibandingkan Mané, tetapi masih kalah jauh jika dibandingkan rekor Sterling saat menghadapi “big six” musim lalu (3 gol dan 7 asis).

Sebaliknya, ketika melawan kesebelasan bukan “big six”, Salah juga lebih baik dengan 7,8 poin per laga (20 gol dan 10 asis dari 28 laga) dibandingkan Mané dengan 7,3 poin (19 gol dan 3 asis dari 26 laga).

Pada enam gameweek awal, Liverpool hanya akan dua kali menghadapi kesebelasan “big six”, yaitu menjamu Arsenal (GW3) dan bertandang ke Chelsea (GW6). Sisanya, The Reds akan menghadapi kesebelasan yang relatif lebih ringan seperti menjamu Norwich City (GW1), bertandang ke Southampton (GW2), bertandang ke Burnley (GW4), dan menjamu Newcastle United (GW5).

Dari perspektif poin FPL, sub-pembahasan ini menyimpulkan jika Salah lebih konsisten daripada Mané baik saat menjalani pertandingan kandang, tandang, melawan kesebelasan kuat, maupun melawan kesebelasan lemah.

Mané Lebih Efektif dan Unggul dalam Skema Taktik Liverpool

Sub-pembahasan di atas hanya melihat pengaruh Salah dan Mané dari segi poin FPL yang sangat dipengaruhi oleh gol, asis, menit bermain, kartu kuning/merah, dan poin bonus. Menggali lebih dalam lagi, ada statistik yang bisa membuka pandangan kita terhadap pengaruh Salah dan Mané pada permainan.

Kebetulannya, Salah dan Mané memiliki area bermain yang berkebalikan. Salah rata-rata heatmap-nya di sayap kanan, sementara Mané di sayap kiri.

Gambar heatmap Mohamed Salah (kanan) dan Sadio Mané (kiri) pada Liga Primer Inggris 2018/19 – Sumber: Fantasy Football Scout

Meski bermain di sayap, kedua pemain ini sama-sama sering mendapatkan bola di kotak penalti lawan: Salah 8,5 penalty area touches per laga, Mané 5,7. Lagi-lagi Salah lebih unggul.

Hal ini juga langsung terefleksikan kepada tembakan di dalam kotak penalti mereka, yaitu Salah 2,5 tembakan di dalam kotak penalti per laga (1,7 on target)—sekaligus yang terbaik di liga—dan Mané 2,0 (1,2).

Tidak hanya di sayap, kedua pemain bisa saja bermain sebagai penyerang tengah, seperti yang Salah sering mainkan saat Jürgen Klopp memasang formasi 4-2-3-1 antara gameweek 12 sampai 24. Meski pada masa-masa itu, statistik Salah tidak sebaik saat dia bermain di sayap kanan.

Bukan hanya asis, Salah juga unggul dalam jumlah chances created (68 banding 45), big chances created (16 banding 7), umpan silang (57 dan 39), dan umpan silang sukses (16 banding 6).

Gambar chances created (asis berwarna hijau) Mohamed Salah (kanan) dan Sadio Mané (kiri) pada Liga Primer Inggris 2018/19 – Sumber: Fantasy Football Scout

Dari tadi Salah sepertinya selalu unggul daripada Mané. Salah bukan hanya fasih mencetak gol, tapi juga mengkreasinya. Namun ada satu hal yang membuat Mané lebih unggul. Hal yang sangat berkaitan dengan taktik Liverpool di bawah Klopp: peluang dari sundulan.

Mané mencetak 6 gol sundulan (dari total 22 tembakan via sundulan), sementara Salah tidak pernah (dari total hanya lima tembakan sundulan). Ini bukan sembarang angka-angka, karena sejak Klopp memastikan para pemainnya fasih bermain dalam formasi 4-3-3, para full-back Liverpool jadi lebih sering membanjiri kotak penalti lawan dengan crossing.

Seluruh (22) gol Mané dicetak dari dalam kotak penalti (Salah 21). Empat di antaranya adalah sundulan. Keempat gol sundulan Mané diasis oleh Trent Alexander-Arnold (dua), Andrew Robertson (satu), dan James Milner (satu) dari posisi bek sayap. Sementara dua sisanya diasis oleh Jordan Henderson.

Sepanjang musim lalu, Liverpool mencatatkan 173 umpan silang sukses (terbaik ketiga di liga) dari total 721 usaha (terbaik kelima). Angka ini meningkat pada 14 gameweek terakhir (ketika Liverpool sudah fasih bermain menyerang) dengan 286 usaha crossing (terbaik bersama Man City).

Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Mané yang justru bisa lebih prolific daripada Salah, karena dia bisa langsung memanfaatkan umpan silang dan unggul di udara; sementara Salah hanya mengandalkan second balls. Apalagi Salah yang bertindak sebagai creator juga seharusnya membuat Mané mudah mencetak gol.

Kemudian secara persentase konversi, Mané juga jauh lebih unggul daripada Salah. Mané mencatatkan 48,3% akurasi tembakan (Salah 46%) dan 25,3% konversi gol (Salah 16,1%). Ini artinya, Mané lebih efektif.

Gambar expected goals Mohamed Salah (kanan) dan Sadio Mané (kiri) pada Liga Primer Inggris 2018/19 untuk menunjukkan kuantitas (banyaknya titik) dan kualitas (warna titik yang lebih hijau dan ukuran yang lebih besar adalah lebih baik) – Sumber: Fantasy Football Scout

Lebih Baik Memilih Salah daripada Salah Memilih

Mengingat Salah lebih banyak menembak (berpotensi gol) dan mengkreasi peluang (berpotensi asis), Salah seharusnya lebih unggul dari perspektif FPL. Selama sang pemain berhasil mencetak banyak gol dan asis di FPL, masa bodoh dengan efektivitas yang rendah.

Lalu tidak seperti musim lalu, perbedaan harga antara Salah dan Mané juga membuat manajer tak memiliki “rasa bersalah” jika memilih Salah.

Para manajer FPL juga biasanya lebih memilih pemain yang konsisten. Sejauh ini Salah bisa selalu konsisten, setidaknya dalam dua musim terakhir.

Salah juga punya dua faktor lain yang membuatnya unggul: (1) Pemain Mesir ini bertindak sebagai penendang penalti kedua Liverpool setelah James Milner, dan (2) Salah lebih bugar jika kita meninjau keterlibatannya di Piala Afrika 2019.

Soal penalti, Liverpool mendapatkan 7 penalti musim lalu yang lima di antaranya dihasilkan dari pemain lawan yang melanggar Salah (di FPL, ini akan menghasilkan asis jika pemain yang bersangkutan tak menjadi eksekutor).

Baca juga: Dampak VAR untuk EPL dan FPL

Sebagai penendang penalti utama Liverpool, Milner berhasil mencetak tiga gol penalti, sementara Salah mencetak tiga gol penalti. Namun Milner yang sudah uzur dan memiliki banyak pesaing di posisinya—baik sebagai gelandang maupun bek sayap—akan membuat Salah berpotensi menjadi penendang penalti utama The Reds.

Akan tetapi Salah perlu berhati-hati, beberapa aksi cerdiknya (baca: diving) musim lalu memang bisa menghasilkan penalti untuk Liverpool. Musim ini, dia bisa terkena kartu kuning karena adanya VAR.

Selanjutnya, keterlibatan Salah bersama Tim Nasional Mesir di Piala Afrika 2019 yang hanya sampai babak 16 besar membuatnya bisa beristirahat lebih lama daripada Mané yang mencapai final bersama Senegal (kalah 0-1 melawan Aljazair).

Dari segi fisik (Salah lebih bugar) dan mental (Mané habis kalah di final), Salah lebih unggul daripada rekannya asal Senegal tersebut.

Dilema FPL Lainnya

Untuk ukuran FPL, dilema dalam memilih Salah atau Mané bukan satu-satunya dilema yang umum terjadi dari dua pemain dalam satu kesebelasan yang sama.

Bagi dilema yang bersifat lintas posisi seperti Sterling vs Agüero (Manchester City) atau Roberto Pereyra vs Gerard Deulofeu (Watford), manajer biasanya cenderung memilih pemain yang berposisi lebih dalam.

Kemudian untuk yang sama-sama berada dalam satu posisi, beberapa dilema FPL lainnya yang hadir musim ini antara lain adalah (diurutkan berdasarkan potensi mendulang poin secara subjektif menurut Pandit Fantasy Premier League scouts, dengan pemain yang disebutkan terlebih dahulu kami anggap lebih unggul):

  • Everton: Gylfi Sigurðsson (£8.0) vs Richarlison (£8.0); yang punya jadwal oke di enam pekan pertama,
  • Everton: Lucas Digne (£6.0) vs Seamus Coleman (£5.5),
  • Liverpool: Andrew Robertson (£7.0) vs Trent Alexander-Arnold (£7.0), plus Virgil van Dijk (£6.5),
  • Bournemouth: Joshua King (£6.5) vs Callum Wilson (£8.0),
  • Arsenal: Pierre-Emerick Aubameyang (£11.0) vs Alexandre Lacazette (£9.5),
  • Crystal Palace: Wilfried Zaha (£7.0) vs Luka Milivojevic (£7.0),
  • Burnley: Chris Wood (£6.5) vs Ashley Barnes (£6.5),
  • Southampton: Nathan Redmond (£6.5) vs James Ward-Prowse (£6.0),
  • Leicester City: Youri Tielemans (£6.5) vs James Maddison (£7.0),
  • Wolverhampton Wanderers: Raúl Jiménez (£7.5) vs Diogo Jota (£6.5),
  • Manchester United: Luke Shaw (£5.5) vs Aaron Wan-Bissaka (£5.5).

Meski banyak dilema yang bisa membuat kepala kita pusing, Salah vs Mané menjadi dilema yang kami anggap terbesar dan terpenting menjelang musim baru FPL ini. Pemilihan antara kedua pemain ini (jika tak mau memiliki keduanya) kami anggap bisa menjadi “kunci” atau “rahasia” sukses dalam menjalani musim 2019/20.

Gambar: Liverpool FC


Tulisan ini meneruskan konten "pemain rahasia" Liga Primer Inggris yang sudah ada sejak 2016/17. Aspek statistik menjadi hal terdepan dalam tulisan-tulisan ini, namun kali ini kami memutuskan untuk meninjaunya khusus dari statistik yang berkaitan langsung dengan poin FPL. Apalah arti angka-angka kalau poin FPL tidak maksimal... He he he.

Berikut adalah tiga tulisan terdahulu:

Idrissa Gueye, "Pemain Rahasia" Liga Primer 2016/17

Gylfi Sigurdsson, "Pemain Rahasia" Liga Primer 2017/18

Raheem Sterling, "Pemain Rahasia" Liga Primer 2018/19

Komentar