Kenapa Henderson Selalu Diandalkan Klopp?

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Kenapa Henderson Selalu Diandalkan Klopp?

Liverpool berhasil melaju ke final Liga Champions UEFA dan membawa persaingan gelar juara Premier League sampai di hari terakhir; meski pada akhirnya Manchester City yang berhasil menjadi juara liga.

Mereka memiliki banyak pemain berpengaruh yang membuat performa mereka menanjak menjelang akhir musim. Mohamed Salah dan Sadio Mané menjadi top skor di liga, Virgil van Dijk menjadi pemain terbaik Liga Primer, Alisson Becker adalah kiper terbaik Premier League, atau bahkan Trent Alexander-Arnold, seorang talenta muda berbakat yang menjadi bagian penting The Reds musim ini.

Selain kelima pemain di atas, pemain lain di skuat Liverpool dianggap memiliki pengaruh yang tak terlalu signifikan. Apalagi sang kapten, Jordan Henderson. Namun benarkah demikian?

Kombinasi permainan gegenpressing dan kecepatan racikan Jürgen Klopp sering membuat kita lupa akan peran Henderson. Padahal dalam satu bulan terakhir ini, Henderson berhasil menunjukkan kenaikan performanya, terutama dari aspek penyerangan.

Musim ini Henderson hanya bermain 21 kali sebagai starter dan 11 kali sebagai pemain pengganti di liga. Jumlah menit bermainnya (1983) masih jauh di bawah sembilan pemain Liverpool lainnya. Pada posisi yang serupa dengannya, Georginio Wijnaldum (2736 menit) dan Fabinho (2013) jauh lebih sering bermain daripada Henderson.

Perlu diketahui, beberapa pemain yang datang sebelum Klopp menjadi manajer Liverpool mulai tersisihkan setelah Liverpool mendapatkan pemain baru. Simon Mignolet, Alberto Moreno, Dejan Lovren, dan Adam Lallana, contohnya. Bahkan beberapa pemain terpaksa hengkang seperti Nathaniel Clyne, Christian Benteke, Joe Allen, Mamadou Sakho, atau Lucas Leiva. Tapi, bersama James Milner, Henderson masih punya tempat di skema Klopp.

Bagi gelandang mainstream seperti Henderson, pengaruhnya di kesebelasan tak bisa diukur dari gol (satu) dan asis (3). Namun salah satu statistiknya yang menonjol adalah 3,3 long balls per pertandingan.

Angka ini merupakan yang terbaik keempat di Liverpool setelah Van Dijk (mengirimkan 5,3 bola panjang per pertandingan), Alisson (4,8), dan Alexander-Arnold (4,0). Mereka semua adalah pemain belakang; Alisson bahkan penjaga gawang.

Rata-rata posisi bermain Jordan Henderson – Sumber: Wyscout

Berarti Henderson adalah gelandang yang paling sering mengirimkan bola panjang. Tak heran karena rata-rata posisi bermainnya adalah sebagai gelandang bertahan. Pada gambar di atas, kita bisa melihat bahwa rata-rata posisinya berbentuk seperti huruf ‘H’. ‘H’ is for Henderson! Kebetulan sekali...

Peningkatan xG dalam Satu Bulan Terakhir

Meski kelihatannya Henderson lebih defensif, ternyata permainan Henderson juga memiliki dampak kepada penyerangan Liverpool. Dia mengalami peningkatan xG (expected goals) dalam satu bulan terakhir (enam pertandingan terakhir di Premier League).

Dalam 31 pertandingan pertama di liga, Henderson mencatatkan 0,46 xG (peringkat keenam di antara semua gelandang Liverpool) atau 3.291,3 menit/xG. Sedangkan dalam lima pertandingan terakhir dia mencatatkan 1,02 xG (terbaik di antara semua gelandang Liverpool) atau 370,6 menit/xG.

Sepanjang musim ini Henderson mencatatkan rata-rata 0.05 xG per pertandingan. Namun angka tersebut meningkat terutama saat dia bermain melawan Southampton (0,57), Cardiff City (0,39), dan Newcastle United (0,33).


Simak tips beraktivitas fisik selama bulan Ramadan dari Rochi Putiray:


Bahkan di Liga Champions dia mampu mencatatkan angka yang lebih baik lagi saat Liverpool menang 4-0 atas Barcelona. Henderson mencatatkan 0,45 xG pada pertandingan di Anfield tersebut.

Pergerakan Henderson Saat Situasi Long Ball

Wilayah permainan Henderson pada satu bulan terakhir memang lebih ke depan. Seluruh gol dan asis yang dia catatkan musim ini hadir pada enam pertandingan terakhir itu.

Akhir-akhir ini Henderson lebih dilibatkan dalam skema penyerangan Liverpool, meski itu terjadi tidak lebih dari dua atau tiga kali dalam setiap pertandingannya. Skema utama di mana Henderson bisa berkontribusi adalah saat Liverpool mengirimkan bola panjang.

Pergerakan para gelandang Liverpool sangat luar biasa pada situasi tersebut. Ketika dia mencetak gol ke gawang Southampton (05/04), dia berlari mencari ruang kosong saat bola panjang dikirimkan ke wilayah sayap kiri pertahanan lawan.

Gol Jordan Henderson saat melawan Southampton

Kemudian saat melawan Chelsea (14/04), Henderson menunjukkan permainan serupa. Long ball yang dikirimkan Fabinho ke sayap kiri lawan disambut oleh Salah yang kemudian menyundul bola kepada Henderson yang mendapatkan ruang tembak cukup luas.

Peluang Jordan Henderson saat melawan Chelsea

Kontribusi terbaik Henderson mungkin hadir pada gol pertama saat melawan Barcelona di leg kedua yang memengaruhi momentum kebangkitan Liverpool.

Pada gol Divock Origi itu (gol pertama Liverpool), Barcelona terlihat kewalahan menghadapai pergerakan gelandang Liverpool. Mereka seperti tak bisa mencari cara terbaik ketika ditekan secara tinggi sambil menghadapi para pelari di wilayah belakang full-back mereka.

Saai itu Liverpool mengirimkan bola panjang ke belakang pertahanan Barcelona. Bola jatuh di wilayah full-back. Jordi Alba berhasil menyundul bola, tapi Mané memenangi second ball. Dia kemudian mengoper bola kepada Henderson. Henderson menembaknya, Marc-André ter Stegen berhasil menepisnya, tapi Origi mendapatkan bola muntahan yang dia masukkan ke dalam gawang Barcelona.

Kontribusi Jordan Henderson pada gol pertama Liverpool menghadapi Barcelona

Pada pekan terakhir Liga Primer, Henderson juga berperan penting pada gol pertama The Reds ke gawang Wolverhampton Wanderers. Pada gol Mané tersebut, Henderson-lah yang mengoper bola kepada Alexander-Arnold, yang selanjutnya mengirimkan asis (umpan silang) kepada Mané.

***

Liverpool selalu menang dalam enam pertandingan terakhir mereka di Premier League sejak Jordan Henderson berperan lebih ofensif. Mereka mencetak 17 gol dan kebobolan tiga kali. Henderson berkontribusi untuk empat gol tersebut dengan satu gol dan tiga asis. Padahal sebelum itu Henderson belum pernah berkontribusi terhadap gol Liverpool di liga.

Permainan Henderson bisa lebih berpengaruh secara ofensif terutama saat Liverpool mengirimkan long ball ke wilayah belakang bek sayap lawan. Pada situasi itu dia menjadi gelandang yang bergerak naik mencari ruang menembak ketika para pemain bertahan lawan berkonsentrasi kepada wilayah sayap.

Dalam satu bulan terakhir ini bisa dibilang kita disuguhkan sosok Henderson yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Meski trofi Premier League gagal didapatkan, sekarang hanya ada satu pertandingan yang bisa menutup akhir musim Liverpool dengan sebuah trofi, yaitu final Liga Champions UEFA menghadapi Tottenham Hotspur di Madrid.

Komentar