Gylfi Sigurdsson, "Pemain Rahasia" Liga Primer 2017/18

Analisis

by Dex Glenniza 31041

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Gylfi Sigurdsson, "Pemain Rahasia" Liga Primer 2017/18

Sepakbola adalah permainan tim. Namun patut diakui juga secara langsung ataupun tidak, ada beberapa pemain yang menjadi nyawa atau pemain paling berpengaruh bagi kesebelasannya. Seperti N`Golo Kanté bagi Leicester City dan Chelsea saat menjadi juara Liga Primer Inggris, masing-masing pada musim 2015/2016 dan 2016/2017.

Menjelang Liga Primer musim 2017/2018 yang akan bergulir, sebenarnya Kanté kami perkirakan masih akan menjadi pemain berpengaruh bagi kesebelasannya. Namun, pengaruh Kanté tersebut sudah bukan rahasia lagi, yang membuat kami ingin melihat kepada kemungkinan pemain-pemain lainnya.

Hal ini membuat kami mendaratkan pandangan kami kepada salah satu pemain papan bawah Liga Primer musim lalu. Pemain tersebut adalah Gylfi Þór Sigurðsson, dengan nama tengah yang bisa dibaca dengan nama “Thor”. Ya, seperti nama Dewa Norwegia yang sudah terkenal menjadi karakter superhero.

“Sangat sulit memperkirakan harga Gylfi [Sigurdsson] di jendela transfer sekarang. Tapi bagi kami, ia tidak ternilai,” kata Huw Jenkins, pemilik Swansea City.

“Tidak ternilai” atau “priceless” seperti menjadi cap yang berlebihan di dunia sepakbola akhir-akhir ini. Padahal semuanya bisa dibeli dengan uang meskipun harganya sangat tinggi. Tapi secara statistik, ia mungkin merupakan pemain rahasia Liga Primer Inggris musim lalu, seperti sebelumnya kami juga sempat menuliskannya bagi Idrissa Gana Gueye di awal musim 2016/2017 dari perspektif yang lebih kepada aspek permainan defensif.

Akan tetapi, pemain asal Islandia ini lebih menjadi pemain rahasia bagi kesebelasan papan tengah dan papan bawah. Kemudian kali ini juga kami melihat dari aspek statistik yang lebih bersifat ofensif.

Si spesialis bola mati

Swansea hanya mencetak 45 gol, peringkat ke-13 di liga soal yang paling banyak mencetak gol. Sembilan di antaranya dicetak oleh Sigurdsson. Namun, bukan gol yang paling mendefiniskan pemain asal Islandia ini, karena Swansea berada pada peringkat keempat soal membuat peluang dari bola mati (set piece) dengan 61 peluang dan peringkat kedua dalam membuat asis dari bola mati dengan 12 asis.

Eksekusi bola mati adalah hal yang paling menjelaskan Sigurdsson, yang membuat Swansea musim lalu menjadi kesebelasan paling efisien urutan ketiga dalam hal mengkonversi peluang bola mati menjadi gol. Hal ini dikombinasikan juga dengan keunggulan udara dari penyerang mereka, Fernando Llorente.

Sigurdsson mencatatkan asis dari bola mati terbanyak musim lalu dengan delapan asis dari total 13 asisnya. Sebanyak 61,5% dari seluruh asisnya ini berhasil ia kreasikan dari set piece. Di bawahnya ada Christian Eriksen dan Kevin De Bruyne yang sama-sama mencatatkan enam asis dari bola mati.

Jika kita memandang asis Sigurdsson bukan hanya dari bola mati, ia memang masih berada di bawah De Bruyne dan Eriksen. Ia berada pada urutan ketiga soal asis, tapi dengan menciptakan 20 peluang lebih sedikit daripada kedua pemain di atasnya tersebut. Ini artinya, Sigurdsson memang lebih efisien dan merupakan pemain spesialis bola mati (alert khusus bagi para manajer Fantasy Premier League).

Bukan hanya asis, Sigurdsson juga berhasil mencatatkan peluang paling banyak dari bola mati di antara pemain Liga Primer Inggris lainnya dengan 52 peluang.

Total sembilan gol dan 13 asis yang berhasil Sigurdsson catatkan membuatnya menjadi satu-satunya pemain dari papan bawah Liga Primer yang mencatatkan lebih dari 20 gol+asis. Tidak heran, total 22 gol+asisnya ini membuat ia berkontribusi kepada 49% dari seluruh gol yang Swansea cetak.

Kita juga harus ingat jika Swansea merupakan kesebelasan yang kurang stabil musim lalu di mana mereka memiliki tiga manajer dalam satu musim, yaitu Francesco Guidolin (sampai 3 Oktober), Bob Bradley (27 Desember), dan Paul Clement. Namun pemain kelahiran 8 September 1989 ini tetap bisa terus menunjukkan pengaruhnya di kesebelasan asal Wales tersebut.

Butuh finisher untuk menunjukkan pengaruhnya

Sejauh ini Sigurdsson digosipkan pindah ke Everton atau kembali ke Tottenham Hotspur. Dari kedua kesebelasan tersebut, kita akan sangat sulit meninjau apakah Sigurdsson akan cocok bermain di sana atau tidak. Akan tetapi, jika kita menyoroti aspek bola mati, kita mungkin bisa menilainya.

Everton dan Spurs sama-sama mencatatkan banyak peluang dari bola mati, yaitu 62 untuk Everton dan 60 untuk Spurs. Namun dari peluang sebanyak itu, Everton hanya berhasil menghasilkan asis dari bola mati sebanyak tujuh (konversi 11,3%), sementara Spurs 10 (16,7%).

Sedangkan Swansea berhasil mencatatkan 61 peluang dari set piece dengan 12 di antaranya (19,7%) menghasilkan asis. Sigurdsson sendirian berhasil mencatatkan konversi 15,4% (delapan asis) dari 52 peluang bola matinya, yang merupakan angka konversi tertinggi di liga.

Dibandingkan dengan Spurs misalnya, mereka sebenarnya sudah memiliki Eriksen dengan 15% konversi (6 asis dari 40 peluang bola mati). Sementara Everton tidak memiliki set piece taker khusus karena peran asis dari bola mati ini dibagi kepada Ross Barkley dan Kevin Mirallas (sama-sama 7,1%).

Masalah lainnya bagi Sigurdsson adalah kebanyakan orang menilainya sebagai pemain yang lebih berbahaya ketika bola mati saja, artinya ia memiliki dampak yang kurang tinggi saat situasi permainan terbuka (open play).

Sebagai perbandingan, secara total Eriksen mencatatkan 137,6 menit untuk setiap gol atau asis, sementara Sigurdsson yang merupakan mantan rekannya di Spurs tersebut hanya berhasil mencatatkan 151,3 menit per gol atau asis.

Lagipula jika Sigurdsson kembali pindah ke Spurs, ia kemungkinan akan menjadi pemain pelapis lagi sehingga ia tidak bisa membuat dampak yang besar untuk kesebelasannya. Apalagi Bamidele Alli dan Son Heung-min juga bermain baik sepanjang musim 2016/2017.

Hal berbeda akan terjadi jika ia pindah ke Everton karena baik Barkley (223,5 menit untuk setiap gol atau asis) dan Mirallas (208 menit) memiliki angka pengaruh yang lebih sedikit daripada Sigurdsson sehingga Sigurdsson bisa saja menjadi upgrade yang tepat bagi kesebelasan asuhan Ronald Koeman tersebut.

Akan tetapi, satu faktor yang membuat Sigurdsson menjadi “senjata rahasia” bagi Swansea adalah dari cara bermain mereka dan pemain-pemain yang menjadi tujuan operan Sigurdsson. Swansea memiliki Llorente serta Alfie Mawson yang biasa diservis oleh umpan-umpan Sigurdsson terutama saat situasi bola mati.

Membeli Sigurdsson saja sepertinya tidak akan meningkatkan kemungkinan mencetak peluang atau gol yang lebih tinggi tanpa memiliki pemain yang unggul duel udara seperti Llorente atau Mawson. Pemain lain yang bisa saja mendapatkan keuntungan dari keberadaan Sigurdsson adalah Romelu Lukaku yang sayangnya sudah pindah dari Everton ke Manchester United.

Olivier Giroud juga sebenarnya bisa dimanjakan jika memiliki pemain seperti Sigurdsson. Bukan kebetulan juga Giroud digosipkan pindah ke Everton. Sementara Sandro Ramírez, penyerang bertinggi badan hanya 175 cm ini yang baru Everton didatangkan dari Málaga bukanlah tipikal pemain seperti ini karena ia hanya memenangkan 39% duel udara saja selama musim lalu.

Kesebelasan yang tepat bagi Sigurdsson

Sebenarnya kita masih bisa menemukan banyak contoh lainnya. Akan tetapi, selain bertahan di Swansea, ada satu kesebelasan yang paling bisa memaksimalkan “pemain rahasia Liga Primer” ini untuk musim 2017/2018 jika para personel dan taktik kesebelasan tidak berubah banyak. Kesebelasan tersebut adalah West Bromwich Albion asuhan Tony Pulis.

WBA berhasil mencetak 20 gol dari bola mati yang merupakan kedua terbanyak di Liga Primer di bawah Chelsea (22 gol dari bola mati) dan di atas Swansea (17). Ini membuat 47% gol WBA berasal dari set piece. 12 asis WBA didapatkan dari bola mati, dengan 10 di antaranya dari tendangan sudut.

Apalagi The Baggies memiliki pemain-pemain seperti Gareth McAuley, Salomón Rondón, Craig Dawson, dan jangan lupa: Rickie Lambert.

Salah satu yang menjadi permasalahan sekarang adalah berapa sebenarnya harga Sigurdsson? International Centre for Sports Studies (CIES) melaporkan harganya "hanya" 18,6 juta paun, sementara Transfermarkt menilai pemain asal Islandia ini dengan harga 21,25 juta paun. Everton sendiri dilaporkan telah menawar Sigurdsson dengan harga 30 juta paun, kemudian ditolak, dan kemudian menawar lagi dengan 40 juta paun.

Jadi dijual atau tidak, Sigurdsson memang "priceless" bagi Swansea, sama seperti yang dikatakan oleh pemilik kesebelasan yang bermarkas di Stadion Liberty tersebut. Harganya yang tak ternilai ini juga semakin dimantapkan karena mantan pemain Reading dan Hoffenheim ini memiliki status sebagai pemain homegrown di Inggris.

Sama seperti Kanté atau Gueye yang kadang “terlupakan” dengan aspek-aspek defensifnya, dengan pengaruhnya sendiri sebagai spesialis kreator melalui bola mati, Gylfi Sigurdsson bisa saja menjadi “senjata rahasia” Liga Primer Inggris untuk musim 2017/2018, asalkan ia tidak salah memilih kesebelasan.

Komentar