Menerka Alasan AC Milan Memilih Marco Giampaolo

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Menerka Alasan AC Milan Memilih Marco Giampaolo

Marco Giampaolo sudah diumumkan sebagai pelatih anyar AC Milan per Rabu, 19 Juni 2019. Pelatih berusia 51 tahun itu jadi pelatih pengganti Gennaro Gattuso yang mengundurkan diri setelah musim 2018/19 berakhir. Penunjukan Giampaolo sendiri tampaknya menjadi upaya Milan untuk kembali berjaya dengan mengandalkan dua penyerang.

Giampaolo sebetulnya belum pernah sekalipun mengangkat piala. Rekam jejaknya memang tidak terlalu spesial.

***

Sebagai pemain karier Giampaolo mentok di liga amatir sebelum cedera pergelangan kaki memaksanya pensiun pada usia 30 tahun. Sebagai pelatih dia tercatat pernah dipecat oleh Cagliari (dua kali), Catania, dan Cesena karena hasil buruk.

Tentu Milan punya lebih banyak alasan positif untuk memilih Giampaolo. Lagipula empat tahun terakhir merupakan karier terbaik pelatih berdarah Swiss-Italia tersebut. Namanya memang mencuri perhatian khalayak Serie A sejak menukangi Empoli pada musim 2015/16.

Giampaolo ketika itu merupakan suksesor Maurizio Sarri yang hengkang ke Napoli. Empoli saat itu tampil atraktif bersama Sarri. Ternyata penampilan atraktif Empoli yang membawa Sarri ke Napoli mampu dilanjutkan oleh Giampaolo. Sempat mampir ke peringkat 7 di pekan ke-19, Empoli finis di urutan ke-10, posisi terbaik Empoli dalam satu dekade terakhir. Sarri hanya mampu menyelesaikan musim di peringkat 15 bersama Empoli.

Ideologi permainan menyerang Sarri pun tak hilang di bawah asuhan Giampaolo. Giampaolo sendiri memang mengakui bahwa ia memang tidak ingin menghilangkan filosofi menyerang yang sudah dibentuk oleh Sarri. "Aku mengenal Maurizio Sarri sudah sangat lama dan akan ada kelanjutan soal ide yang akan kami mainkan di lapangan. Ini warisan yang tidak akan dilupakan."

Meski melanjutkan filosofi Sarri, sebetulnya Giampaolo memainkan pola permainan yang berbeda. Jika Sarri mengandalkan pola dasar 4-3-3, Giampaolo mengandalkan pola dasar 4-3-1-2 atau 4-4-2 berlian. Duet Massimmo Maccarone dan Manuel Pucciareli disokong oleh empat gelandang tengah yang tiga di antaranya adalah Riccardo Saponara, Leandro Paredes, dan Piotr Zielinski.

Berkat keberhasilan Giampaolo memainkan dua penyerang di tengah tren tiga penyerang saat ini juga yang membuatnya dipilih oleh Sampdoria menggantikan Vincenzo Montella. Sampdoria sendiri memang gemar menunjuk pelatih yang fasih memainkan pola dua penyerang seperti Walter Zenga, Delio Rossi, Giuseppe Iachini, Domenico Di Carlo, dan Luigi Delneri. Sinisa Mihajlovic yang di awal-awal musim menggunakan pola 4-3-3 pun mulai menggunakan pola 4-3-1-2 pada putaran kedua Serie A 2014/15.

Dengan pola dua penyerang tersebut, Giampaolo mampu mengasah ketajaman para penyerangnya. Di Empoli, Maccarone yang sudah berusia 35 tahun mampu mencetak 13 gol dengan Saponara yang mencatatkan 10 asis. Di Sampdoria, Giampaolo berhasil menyulap Quagliarella yang berusia senja jadi pencetak gol terbanyak tim dalam tiga musim berturut-turut.

Musim pertama Giampaolo di Sampdoria (2016/17), Quagliarella mencetak 12 gol ketika Luis Muriel dan Patrick Schick masing-masing mencetak 11 gol. Musim kedua Quagliarella mencetak 19 gol sementara Duvan Zapata 11 gol. Musim ketiga atau musim terakhir Giampaolo di Sampdoria sebelum hengkang ke Milan, Quagliarella yang sudah berusia 36 tahun sukses meraih capocanonniere atau top skor Serie A dengan 26 gol (mengalahkan Zapata, Krzysztof Piatek dan Cristiano Ronaldo). Tandem Quagliarella, Gregoire Defrel, mencatatkan 11 gol.

Perlu diketahui, Piatek merupakan penyerang yang bermain dalam pola dasar yang menggunakan dua penyerang, tepatnya 3-5-2, ketika bermain di Genoa yang dilatih Ivan Juric. Penyerang Polandia tersebut bertandem dengan Christian Kouame. Di Genoa, Piatek mencetak 19 gol dari 21 pertandingan (13 gol di Serie A) sementara di Milan ia mencetak 13 gol dengan jumlah pertandingan yang sama.

Musim ini, Milan punya penyerang tengah berkualitas lain seperti Patrick Cutrone dan Andre Silva yang kembali dari masa peminjaman di Sevilla. I Rossoneri pun tengah dikaitkan dengan penyerang tengah lain, salah satunya Andrej Kramaric.

Selain, mungkin, hendak mencari tandem Piatek, mengandalkan dua penyerang bagi Milan tampaknya merupakan upaya mereka mengembalikan Milan seperti dulu. Terakhir kali Milan juara yakni pada musim 2010/11, Milan asuhan Massimilliano Allegri bermain dengan pola dasar 4-3-1-2 di mana Zlatan Ibrahimovic berduet dengan Alexandre Pato atau Robinho, ditambah Antonio Cassano dan Filippo Inzaghi di bangku cadangan.

Begitu juga ketika juara pada 2003/04 yang mengandalkan Kaka sebagai gelandang serang dan duet Andriy Shevchenko-Jon Dahl Tomasson. Pun ketika trio Zvonimir Boban (berkaitan atau tidak, Boban baru ditunjuk sebagai Direktur Sepakbola Milan), Olivier Bierhoff dan George Weah mengantarkan Milan meraih scudetto pada 1998/99. Ketika Carlo Ancelotti membawa AC Milan juara Liga Champions pada 2003 pun dia mengandalkan duet Shevchenko-Inzaghi.

Di samping soal dua penyerang ini, penunjukan Giampaolo tampaknya jadi cara hemat Milan untuk berprestasi setinggi-tingginya. Gennaro Gattuso diisukan mundur karena Milan tidak ingin jor-joran di bursa transfer. Sementara itu Giampaolo dengan pengalamannya mampu mengasah ketajaman pemain-pemain senior seperti Quagliarella dan Maccarone, atau pemain potensial seperti Zapata, Schick, dan Muriel.

Milan memang dikabarkan akan mengetatkan pengeluaran untuk mengembalikan stabilitas tim. Apalagi Milan saat ini "dipimpin" oleh eks CEO Arsenal, Ivan Gazidis. Sebagaimana Arsenal yang lebih mengandalkan talenta-talenta pemain muda, Milan tampaknya lebih ingin membangun tim dengan pemain-pemain muda dan pemain akademi.

Saat ini Milan punya pemuda potensial dalam diri Cutrone, Gianluigi Donnarumma, Davide Calabria, Lucas Paqueta, dan Franck Kessie. Selain itu masih ada Mattia Caldara dan Andrea Conti yang juga masih berusia 25 tahun. Manuel Locatelli pun akan kembali dari masa pinjaman di Sassuolo [ralat: Locatelli dipermanenkan Sassuolo].

Giampaolo punya pengalaman bagus soal pengembangan pemain muda. Dia adalah pelatih yang memaksimalkan bakat-bakat muda seperti Leandro Paredes (eks Empoli yang sekarang di PSG), Mario Rui (Napoli), Piotr Zielinski (Napoli), Riccardo Saponara (Fiorentina), Milan Skriniar (eks Sampdoria yang sekarang di Inter), Lucas Torreira (Arsenal), Bruno Fernandes (Sporting Lisbon), Patrick Schick (AS Roma), dan Duvan Zapata (Atalanta). Sementara itu Karol Linetty, Denis Praet, Joachim Andersen, Bartosz Berezynski, Nicola Murru dan Gianluca Caprari adalah para pemain muda yang direkrut Sampdoria untuk jadi andalan Giampaolo hingga musim 2018/19.

Sampdoria (dan Empoli) memang hanya finis di papan tengah selama dilatih Giampaolo. Tapi selain sepakbola menyerang dan skema dua penyerang, Giampaolo terbukti mampu mengalahkan tim-tim besar. Juventus takluk di markas Sampdoria dalam dua musim terakhir. Napoli merasakan kekalahan dari Sampdoria juga musim lalu. Milan tercatat mengalami tiga kekalahan dari Sampdoria asuhan Giampaolo dalam tiga musim terakhir. Roma dikalahkan Sampdoria dua kali dan imbang satu kali tiga musim terakhir. Inter ditumbangkan Giampaolo dua kali di musim pertamanya bersama Sampdoria.

***

"Visi Elliott jelas: menyelesaikan masalah finansial lalu kembali ke jalur yang benar, membiarkan klub tumbuh dan menjadi klub modern," kata Ivan Gazidis pada La Gazzetta dello Sport seperti yang dikutip Forza Italian Football. "Elliot tidak pernah menentukan batas waktu dan aku tidak berjanji untuk mempercepat hal itu semua."

"Kalau orang-orang mencari seorang pesulap yang menjetikkan jarinya, mengeluarkan banyak uang dan menyelesaikan semua masalah, kalian tidak akan menemukannya di sini. Sudahi soal ilusi dan kebohongan itu. Kisah dengan janji-janji manis yang tak pernah terwujud itu sudah berakhir," sambungnya.

Oleh karenanya dengan pola dasar 4-3-1-2, filosofi menyerang, dan catatan gemilangnya bersama Sampdoria dalam tiga musim terakhir, Milan merasa Marco Giampaolo adalah pelatih paling tepat sebagai pengganti Gattuso. Keadaan finansial Milan yang belum stabil menjadi faktor utama Milan belum tertarik mendatangkan pelatih dengan prestasi mentereng.

Komentar