Apa Sih Bagusnya Bayu Pradana?

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi 42671 Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Apa Sih Bagusnya Bayu Pradana?

Sejak 2016, sejak PSSI tidak lagi dihukum FIFA, Bayu Pradana tak pernah luput dalam daftar panggilan pemain tim nasional. Ini artinya, sejak saat itu pula ketika daftar pemain timnas atau susunan pemain timnas rilis, akun Twitter Panditfootball kerap kali diramaikan dengan satu pertanyaan yang terus berulang; "Apa sih bagusnya Bayu Pradana?".

Sejak uji tanding "pertama" menghadapi Malaysia, ketika timnas Indonesia masih ditangani Alfred Riedl (kini Luis Milla), nama Bayu Pradana mulai selalu menghiasi skuat timnas Indonesia. Gelandang Mitra Kutai Kartanegara tersebut sudah mencatatkan 16 penampilan timnas dari total 19 laga sepanjang 2016-2018.

Hanya tiga kali Bayu Pradana tak berlaga di timnas. Absennya Bayu pun lebih karena "aturan" yang membuatnya harus tersingkir. Melawan Myanmar pada Maret 2017, skuat Indonesia diisi oleh pemain U23 seluruhnya. Pada November 2017 melawan Guyana, hanya satu pemain senior yang dipanggil (Ilija Spasojevic). Sementara saat menghadapi Islandia, ia tak masuk dalam polling pemain pilihan masyarakat Indonesia untuk Indonesia XI (ini bukan timnas kan, ya?), tapi ia terpanggil pada laga melawan Islandia beberapa hari berselang.

Dalam data yang kami himpun, dalam 16 kali tampil, hanya tiga kali Bayu Pradana tidak bermain sebagai starter. Belum lagi 10 kali di antaranya ia bermain penuh selama 90 menit. Di Piala AFF 2016, hanya sekali ia masuk sebagai pemain pengganti (enam kali lainnya bermain penuh). Pada laga melawan Fiji dan Puerto Riko pun, ketika Milla menarik keluar enam hingga tujuh pemain, Bayu adalah salah satu pemain yang tetap bermain hingga pertandingan berakhir.

Jadi, apa sih bagusnya Bayu Pradana? Sebelum menuding kalau kapten Mitra Kukar tersebut sebagai pemain titipan, berikut kami coba analisis alasan kenapa Bayu selalu menghiasi skuat timnas Indonesia dalam dua tahun terakhir.

***

Nama Bayu Pradana baru muncul ke permukaan bersamaan dengan mulai naiknya pamor Mitra Kukar. Mitra Kukar sendiri, meski sudah mentas di divisi teratas Liga Indonesia sejak musim 2010/2011, tidak terlalu diperhitungkan sebagai kesebelasan besar sebelum akhirnya mereka mendatangkan pemain-pemain asing berkualitas.

Sebelum itu, Bayu Pradana bermain di Persis Solo, Persipasi Bekasi (sebelum merger dengan Pelita Bandung Raya), Persepar Palangkaraya, dan Persiba Balikpapan. Di Persiba ia termasuk salah satu pemain skuat ISL 2015. Ia dimainkan satu kali sebelum liga berhenti karena PSSI dibekukan FIFA.

Bayu berposisi sebagai gelandang tengah. Lebih spesifik; gelandang bertahan. Karena posisinya inilah, mungkin, tidak banyak melihat kehebatan pemain alumnus Diklat Salatiga ini. Apalagi Bayu bukanlah pemain yang handal dalam menjegal lawan seperti Syamsul Chaeruddin atau Hariono.

Kehebatan Bayu memang bukan menekel atau merebut bola dari kaki lawan. Hanya saja, ia punya kemampuan untuk menghentikan serangan lawan dengan meminimalisasi benturan dengan lawan. Ia pandai membaca arah serangan lawan (kemudian mengintersepnya), men-delay serangan lawan (memberi waktu rekannya untuk kembali ke pertahanan), dan menginisiasi serangan awal timnya.

Kelebihan-kelebihan Bayu Pradana memang tak terdeteksi secara kasat mata atau secara statistik, tak seperti penyerang dengan golnya atau gelandang dengan asisnya. Gerakannya yang bisa membuat lawan batal melancarkan serangan balik misalnya, dengan memberikan pressing awal, memang tak bisa diukur dengan angka statistik. Melihat gaya bermain dan perannya, Bayu lebih cocok disebut penghambat serangan lawan ketimbang pemutus serangan lawan.

Indikator keberhasilan skema pertahanan memang tidak hanya sekadar tidak kebobolan. Ketika lawan melakukan operan pasif (operan yang tidak mengarah ke gawang lawan, contohnya mengembalikan bola ke area pertahanan sendiri) pun menjadi salah satu ukuran keberhasilan skema bertahan. Bayu Pradana punya tugas utama untuk melakukan itu. Sementara tidak ada variabel yang tepat untuk menghitung atau pun mengukur gerakan tanpa bola tersebut secara statistik.

Saat ini, tugas seorang gelandang bertahan tak selesai hanya ketika ia berhasil merebut bola. Karenanya peran yang diemban Bayu tak mudah dimainkan. Karena sebagai gelandang yang tugas utamanya membantu pertahanan, akan sangat riskan melakukan pelanggaran.

Di sepakbola modern, saat ini gelandang bertahan tidak lagi hanya sekadar menekel, menerjang, melanggar, atau merebut bola. Sekarang gelandang juga harus bisa menciptakan situasi saat diserang bisa dengan cepat diubah menjadi situasi menyerang, atau yang lebih dikenal dengan transisi dari bertahan ke menyerang.

Bersambung ke halaman selanjutnya

Komentar