Pergantian Pemain dan Respons Taktik yang Membuat Indonesia Ungguli Myanmar di Babak Kedua

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Pergantian Pemain dan Respons Taktik yang Membuat Indonesia Ungguli Myanmar di Babak Kedua

Tim Nasional Indonesia mengawali perjalanan mereka di Piala AFF U18 dengan hasil sempurna. Menghadapi Myanmar di Stadion Thuwunna, Myanmar, Selasa (5/9), Indonesia berhasil meraih kemenangan tipis 1-2. Bisa dibilang itu adalah kemenangan yang dramatis karena sebelumnya Indonesia tertinggal terlebih dulu melalui Myat Kaung Khant pada babak pertama, yang kemudian berhasil dibalas melalui dua gol Egy Maulana Vikri pada babak kedua.

Dalam pertandingan tersebut, pelatih Indra Sjafri menurunkan formasi 4-5-1 dengan Muhammad Riyandi sebagai penjaga gawang, Nurhidayat Harisdan Rachmat Irianto berduet sebagai bek tengah, kemudian Rifad di bek kanan dan Firza Andikan di bek kiri. Di sektor tengah Indra menempatkan Luthfi Kamal, M Iqbal, dan Egy. Sementara di pos sayap ada Saddil Ramdhani dan Feby Eka yang menopang Hanis Saghara sebagai penyerang utama.

Nervous di babak pertama

Pada babak pertama terlihat Indonesia tampil kurang tenang dalam melakukan kontrol dan melepaskan operan. Hal tersebut kemudian mampu dimanfaatkan oleh Myanmar yang sering melakukan serangan setelah berhasil mencuri bola lepas dari para pemain Indonesia. Selain itu, kerap terlambatnya Rifad Warasabessy untuk turun setelah melakukan overlapping juga kerap dimanfaatkan Myanmar. Tampak mereka banyak membombardir sisi kanan pertahanan Indonesia.

Kekurangtenangan dan telat mundurnya pemain Indonesia untuk bertahan akhirnya berbuah petaka pada menit 27. Berawal dari kesalahan salah satu pemain Indonesia yang bolanya berhasil dicuri, Myanmar langsung melakukan serangan balik cepat. Barisan pertahanan Indonesia telat mundur yang kemudian membuat Myanmar leluasa untuk mencari ruang kosong.

Ada empat pemain Myanmar yang berhasil masuk ke kotak 16, sementara hanya ada dua pemain bertahan yang mencoba untuk menutup pergerakan mereka. Tentu saja hal tersebut bukan masalah bagi Myat Kaung Khant yang bergerak dari lini kedua untuk menjebol gawang Indonesia setelah memanfaatkan umpan silang dari rekannya.

Tertinggal satu gol Indonesia mencoba langsung merespons, namun medium pressing yang diterapkan Myanmar agak menyulitkan Indonesia untuk membangun serangan. Akibatnya jura Piala AFF U18 tahun 2013 itu banyak memainkan bola di area pertahanan sendiri. Bahkan ketika bola yang dikuasi Indonesia berhasil melewati tengah lapangan, zonal marking yang dilakukan Myanmar kembali membuat Indonesia kesulitan menembus area kotak penalti lawan.

Akibatnya, tidak banyak peluang yang dihasilkan pada babak pertama meski mereka unggul dari penguasaan bola yang mencapai 65 persen. Hanya ada dua tembakan yang dilepaskan, namun itu pun lebih bersifat spekulatif. Sementara Myanmar pada babak pertama tampil lebih efektif dengan total tujuh tembakan yang empat di antaranya mengarah ke gawang.

Selain itu, Egy yang di plot sebagai gelandang serang juga berhasil diredam pergerakannya oleh para pemain Myanmar yang membuat Indonesia jadi minim kreasi serangan. Egy lebih banyak turun ke belakang untuk menjemput bola. Kemudian Muhammad Iqbal yang posisinya berada di belakang Egy pun lebih sering kalah duel dan kehilangan bola.

Pergantian tepat dari Indra Sjafri

Pelatih Indra Sjafri kemudian melakukan perubahan pada babak kedua dengan memasukkan Syahrian Abimanyu untuk menggantikan Iqbal. Pergantian yang bisa dibilang sangat tepat, karena masuknya Abimanyu membuat aliran serangan Indonesia lebih baik terutama di babak kedua. Ia mampu mengawal area tengah dengan baik, hal yang kemudian membuat Egy fokus untuk melakukan serangan.

Beberapa kreasi serangan dilakukan Indonesia untuk membongkar ketatnya pertahanan Myanmar di babak kedua. Mereka tidak terfokus menjadikan lini tengah sebagai poros serangan. Indonesia lebih berani dari mulai melancarkan umpan panjang yang beberapa kali membuat bola berhasil masuk ke area pertahanan Myanmar, namun sayang belum terlalu maksimal karena masih bisa diredam oleh barisan pertahanan Myanmar.

Pada babak kedua, permainan Indonesia terlihat lebih cair, selain kreasi serangan dari umpan panjang, para pemain Indonesia juga lebih berani untuk melakukan pergerakan tanpa bola yang cukup menyulitkan lini pertahanan Myanmar untuk melakukan pengawalan. Selain itu, sisi kanan penyerangan Indonesia yang digalang Saddil Ramdani dan Rifad Warasabessy lebih aktif membantu serangan.

Kreasi serangan dari sayap kanan akhirnya berbuah gol bagi Indonesia pada menit 71, berawal dari umpan silang Rifad, bola berhasil disundul Egy untuk menjebol gawang Myanmar. Skor kemudian berubah menjadi 1-1, dan Indonesia terus melakukan gempuran ke area pertahanan Myanmar.

Kembali berawal dari penyerangan di sektor kanan, Indonesia berhasil mencetak gol melalui Egy yang melakukan solo run setelah mendapat umpan terobosan Rifad. Tanpa pengawalan, Egy berhasil melepaskan bola ke sudut kiri gawang Myanmar.

Kesimpulan

Kunci kemenangan Indonesia dalam pertandingan tersebut ada di babak kedua, Indonesia tampil lebih berani dan agresif dalam melakukan tekanan ke jantung pertahanan lawan, dengan kreasi serangan yang atraktif. Indonesia berani mencoba berbagi pola serangan baik itu melalui umpan pendek yang dikombinasikan dengan umpan panjang. Selain itu, peran Rifat yang kerap melakukan overlapping berhasil menjadi kreator dari dua gol yang diciptakan Egy.

Kemudian, kejelian Indra Sjafri dalam melakukan pergantian pemain juga menjadi salah satu kunci dari kemenangan tersebut. Tidak hanya pergantian Syahrian yang masuk mengganti Iqbal, namun pergantian Firza dan Samuel Christiason juga Asnawai Mangkualam yang masuk menggantikan Febby Eka juga terbilang tepat, karena pergantian-pergantian tersebut membuat alur serangan Indonesia semakin mengalir deras. Terlebih dengan masuknya Asnawi yang sukses melepaskan key pass untuk terciptanya gol kedua Indonesia.

Foto: Twitter PSSI

Komentar