Akankah Marco Silva Menjadi Juru Selamat Hull City?

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Akankah Marco Silva Menjadi Juru Selamat Hull City?

Pada masa awal-awal Liga Primer musim 2016/2017, Mike Phelan sempat dianggap sebagai orang yang akan bikin Hull City jadi hebat. Sekarang, justru nama Marco Silva-lah yang dianggap sebagai juru selamat bagi klub yang bermarkas di KC Stadium ini.

Mike Phelan sebenarnya bukan orang sembarangan. Ia pernah jadi asisten dari Sir Alex Ferguson, dan cukup lama mengabdi untuk The Red Devils, baik itu sebagai pelatih untuk tim utama maupun sebagai asisten manajer dari Sir Alex sendiri. Ia pun sudah cukup kenyang akan pengalaman panasnya kompetisi Liga Primer. Ini menjadi bekal yang bagus baginya untuk menjalani karier baru, per 2016, menjadi manajer.

Tapi nyatanya, menjadi manajer dalam kompetisi seketat Liga Primer bukanlah perkara mudah. Phelan pun kelimpungan, dan hasilnya Hull pun terdampar di papan bawah klasemen. Ditambah dengan masalah yang terjadi antara pemilik klub yakni keluarga Allam, dan suporter Hull, masalah The Tigers pun tambah pelik.

Maka datanglah Marco Silva. Memborong serta semua staf pelatih yang ia bawa ketika ia menangani Olympiakos di Liga Yunani, Silva langsung melakukan apa yang menjadi pekerjaannya di sini, seperti yang diungkapkan oleh Ehab Allam saat kedatangannya ke KCOM Stadium untuk pertama kali.

"Dengan kedatangan Silva, saya berharap bahwa status kami sebagai klub Liga Primer tetap bisa terjaga," ujar Allam seperti dilansir dari situs resmi klub.

Berikut adalah hal-hal yang dilakukan oleh Silva seusai kedatangannya di Hull.

Lebih Memfokuskan Kepada Permainan Tim, Bukan Permainan Individu

Jika dibandingkan dengan klub-klub papan atas Liga Primer, Hull tidaklah diberkati oleh pemain-pemain yang memiliki kemampuan individu yang cemerlang yang dapat mengubah jalannya pertandingan lewat kemampuan individunya. Jika pada masa Mike Phelan Hull kerap mengandalkan sosok Robert Snodgrass dalam menyerang, kali ini Silva berusaha menggeser fokusnya untuk membenahi permainan tim secara keseluruhan. Apalagi Snodgrass pun sudah pindah ke West Ham United.

Di bawah kepemimpinan Silva, Hull bermain secara lebih terorganisir. Hull tidak lagi mengandalkan permainan game-changing individual dan lebih menekankan kolektivitas dalam setiap fase permainan yang dilalui, baik itu fase bertahan, fase menyerang, beserta transisi dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya. Silva sekarang seolah coba membuat Hull sebagai satu unit yang utuh.

Hal ini pun didukung oleh para pemainnya dan mereka coba merespon keinginan dari Silva ini dengan bermain lebih sebagai satu tim. Contohnya dalam sisi penyerangan. Ketiadaan Robert Snodgrass coba ditutupi oleh pemain-pemain depan lain seperti Abel Hernandez, Dieumerci Mbokani, serta dua rekrutan anyar Hull, Evandro Goebel dan Oumar Niasse. Mereka saling menopang di lini depan untuk tetap menyajikan ancaman bagi lini pertahanan lawan.

Mencoba Peruntungan Dengan Mengubah Posisi

Mengubah posisi seorang pemain biasanya akan memunculkan potensi tersembunyi dari seorang pemain. Inilah yang dilakukan oleh Silva. Salah satu kasusnya adalah ia mengubah posisi Sam Clucas dari seorang gelandang tengah menjadi gelandang serang. Hasilnya pun cukup menggembirakan.

Pada masa kepemimpinan Mike Phelan, Clucas lebih banyak berkutat di lini tengah. Ketika didorong menjadi gelandang serang, Clucas menambah daya serang dari Hull dengan permainan yang penuh determinasi yang kerap ia tunjukkan semasa bermain di lini tengah. Meski memang tidak mencatatkan pass completion yang cukup tinggi (hanya 79% saja, menandakan kemampuan umpannya tidak cukup baik), kemampuannya untuk menarik pemain bertahan lawan menjadi nilai lebih yang ia punya.

Jika harus ditanya siapa yang mengubah posisi Clucas seperti ini, Marco Silva-lah orangnya.

KCOM Stadium yang Seram dan Berbahagia

Pada masa kepemimpinan Mike Phelan, KCOM Stadium, markas Hull City, adalah tempat yang teramat sendu. Kemenangan jarang didapatkan di sini, dan membuat para suporter Hull acap kali bersedih. Ditambah dengan masalah yang sedang terjadi antara keluarga Allam sebagai pemilik Hull City dan para suporter Hull perihal kebijakan-kebijakan aneh yang kerap diterapkan oleh keluarga Allam, seperti tidak adanya kelonggaran harga tiket untuk anak-anak dan lansia, membuat suasana KCOM semakin sendu.

Lalu datanglah Silva. Ia sadar bahwa kemenangan di kandang adalah sesuatu yang cukup penting untuk meningkatkan moral para suporter dan menghangatkan kembali stadion. Sadar akan pentingnya kemenangan di kandang, Silva pun seolah memberikan suntikan moral tersendiri kepada anak asuhnya ketika bermain di KCOM.

Hasilnya cukup luar biasa. Empat kemenangan dalam empat pertandingan di kandang secara beruntun menjadikan KCOM kembali menjadi sebuah benteng bagi para tim tamu, sekaligus menjadi tempat yang menyenangkan bagi para suporter. Hal ini juga membuat suasana di Hull menjadi sedikit lebih mencair, seperti yang diutarakan oleh Ehab Allam.

"Sekarang yang terpenting adalah memberikan semua yang ia (Marco Silva) butuhkan agar tim kami tetap bisa berkompetisi. Untuk sementara hal yang lain kita kesampingkan dulu dan biarkan suporter berpesta," ungkapnya seperti dilansir ESPN FC.

***

Paul Merson dan Phil Thompson sempat memberikan kritik terkait kebijakan manajemen Hull mendatangkan Marco Silva. Namun untuk sekarang, tampaknya kedua kritikus yang menyambi sebagai pundit tersebut tidak akan bayak bicara karena Hull sedang berada dalam track yang bagus untuk keluar dari zona degradasi. Lalu, pertanyaan pun muncul. Akankah Marco Silva akan menjadi juru selamat Hull City?

Masih ada 14 pertandingan tersisa, dan semua masih bisa terjadi. Jika Hull tetap bisa mempertahankan penampilannya ini sampai akhir musim, bukan tidak mungkin gelar juru selamat akan menempel kepada Marco Silva.

foto: @Squawka

Komentar