Apakah Timnas Indonesia Perlu Memanggil Kembali Pemain Naturalisasi?

Analisis

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Apakah Timnas Indonesia Perlu Memanggil Kembali Pemain Naturalisasi?

Indonesia berhasil meraih kemenangan di laga perdananya pasca disanksi oleh FIFA, awal September 2016 lalu. Menghadapi Malaysia di Stadion Manahan, Solo, Boaz Solossa dkk., berhasil meraih kemenangan dengan skor telak 3-0.

Melihat hasil akhir pertandingan tersebut, Indonesia memang lebih superior ketimbang tim tamu. Namun, jika melihat permainan timnas Indonesia dalam dua babak, jelas terlihat bagaimana Indonesia tak tampil terlalu baik.

Kemenangan Indonesia di laga tersebut secara tidak langsung akibat buruknya koordinasi pertahanan Malaysia sendiri, yang memang begitu rapuh ketika ditekan oleh pemain Indonesia.

Tak hanya serangan Indonesia yang patut disoroti sebab ketika bertahan kadang pemain Indonesia juga kerap melakukan kesalahan. Bahkan ada satu kesempatan di mana pemain Malaysia hampir mencetak gol usai memanfaatkan kesalahan Dedi Gusmawan.

Tidak heran, demi hasil positif di Piala AFF 2016, November-Desember 2016 mendatang, pelatih Indonesia, Alfred Riedl, dituntut untuk berbenah. Dan salah satu bentuk pembenahan yang diharapkan adalah soal pemanggilan pemain.

Sempat tersiar kabar mengenai ketidak puasan Riedl terhadap pemain saat ini. Ia pun memutuskan memanggil beberapa nama untuk memperkuat tim nasional Indonesia. Di antaranya adalah Jefri Kurniawan (Pusamania Borneo), Abdul Rahman (Bali United), dan Hery Prasetyo (Madura United).

Selain ketiga nama tersebut, Indonesia tengah mendekati pemain naturalisasi yang berkompetisi di kompetisi luar negeri, seperti Stefano Lilipaly. Pemanggilan pemain naturalisasi sendiri cukup menarik perhatian, sebab di awal Riedl sempat mencoba tidak memanggil pemain naturalisasi.

Sontak keputusan tersebut menimbulkan pertanyaan. Pertanyaannya kini, siapa pemain naturalisasi yang pantas membela tim merah putih?

Lini Belakang

Di pertandingan melawan Malaysia, pos bek tengah terlihat begitu menjadi persoalan Indonesia. Kualitas baik yang ditunjukkan oleh Fachrudin Aryanto dan Rudolof Yanto Basna, terlihat hanya mampu disamai oleh Hansamu Yama. Dua nama lain, Indra Kahfi dan Dedi Gusmawan, tampaknya tak akan kembali dipanggil oleh Riedl.

Soal kebutuhan pemain belakang hasil naturalisasi, Indonesia patut bersyukur. Pasalnya, stok di posisi ini seharusnya cukup memenuhi pilihan karena ada nama, seperti Bio Paulin Pierre dan Victor Igbonefo memiliki kualitas yang lebih baik ketimbang pemain lokal.

Bio Paulin menjadi salah satu nama pemain naturalisasi yang layak dipertimbangkan. Statusnya sebagai pemain inti Persipura, membuat Mutiara Hitam mampu melaju kencang dalam beberapa laga terakhir. Ia bahkan memiliki andil yang begitu besar atas keberhasilan Persipura memetik angka penuh dalam delapan pertandingan terakhir.

Tidak hanya Bio, Victor juga layak dipertimbangkan. Statusnya sebagai salah satu bek asing paling berpengalaman di Indonesia membuat ia layak masuk ke dalam skuat Merah Putih di ajang Piala AFF.

Namun minusnya, penampilan Victor saat ini tak sebagus beberapa musim lalu. Royal Thai Navy FC, kesebelasan yang kini ia perkuat bahkan sedang berjuang untuk lolos dari jurang degradasi Liga Thailand.

Lini Tengah

Lini tengah sebenarnya bukan persoalan besar bagi tim nasional Indonesia. Di pertandingan melawan Malaysia, duet Bayu Pradana Andriatmo dan Evan Dimas Darmono tampil begitu padu di tengah.

Permasalahannya sekarang, siapa pemain yang kualitasnya setara dengan mereka? Melihat skuat di laga melawan Malaysia, cadangan kedua pemain ini Adam Alis Setyano dan Ichsan Kurniawan, yang tak bisa dipungkiri kualitasnya berada di bawah mereka.

Melihat nama-nama yang mengisi daftar pemain cadangan, dua pemain menjadi opsi yang sebaiknya diambil oleh Riedl. Dua pemain tersebut adalah Raphael Maitimo dan Stefano Lilipaly.

Maitimo yang kini sukses bersama Arema Cronus jelas bisa diharapkan oleh Riedl. Penampilannya sejauh ini di lini tengah Singo Edan, diyakini bakal membuat persaingan merebutkan posisi gelandang bertahan yang kini dimiliki oleh Bayu Pradana bakal lebih sengit.

Lilipaly menjadi nama kedua di lini tengah yang layak dipertimbangkan oleh Riedl. Kegagalannya menunjukkan penampilan terbaik ketika bermain di Indonesia mampu ia hapus dengan penampilan baiknya di Telstar.

Dalam dua musim terakhir, Lilipaly mampu menjadi sosok yang tidak tergantikan di lini tengah Telstar. Musim 2016/17, Lilipaly bahkan berkontribusi besar atas prestasi Telstar duduk di papan tengah klasemen sementara divisi satu Liga Belanda.

Lini Depan

Jika melihat gaya bermain Indonesia di laga melawan tim nasional Malaysia yang mengandalkan umpan satu dua di depan kotak penalti, Indonesia jelas butuh penyerang cepat. Jika benar-benar memainkan strategi tersebut, nama Greg Nwokolo jelas dapat diharapkan.

Kecepatan dan kelebihan Greg dalam melakukan dribel jelas merupakan sebuah kebutuhan bagi tim nasional Indonesia. Selain itu, pengalaman Greg di tim nasional Indonesia akan menjadi keuntungan bagi tim nasional Indonesia yang sebagian besar skuatnya merupakan nama-nama baru.

Namun, jika Indonesia lebih memilih untuk memainkan bola-bola panjang, nama Sergio van Dijk dan Cristian Gonzales bisa dipertimbangkan. Faktor postur keduanya bisa menjadi keuntungan yang tentu bisa dimanfaatkan oleh pemain Indonesia.

Tiga opsi di atas menjadi pilihan yang harus dapat dipertimbangkan oleh Riedl. Namun memilih ketiganya untuk masuk ke tim nasional jelas merupakan perjudian. Pasalnya, ketiga pemain ini punya potensi kendala dalam kondisi fisik.

Greg, opsi yang memiliki usia paling muda, terkendala dengan masalah kebugaran. Jarangnya ia bermain sejak awal 2016, membuat ia diyakini tidak akan kembali ke kondisi fisik terbaiknya. Sedangkan van Dijk dan Gonzales, terkendala di masalah usia. Usia keduanya yang tak lagi muda, membuat dua pemain ini diragukan untuk dapat kembali menemukan ketajamannya.

***

Melihat pilihan-pilihan di atas, pemain naturalisasi jelas tak selalu menguntungkan. Namun, kualitas yang di atas rata-rata pemain lokal juga bisa saja membuat Indonesia tampil lebih baik. Pilihan bijaknya yang mungkin bisa diandalkan adalah hanya memanggil jika terdesak.

Karena tidak mungkin kita menghambat regenerasi pemain lokal terutama yang berusia muda. Tapi jika posisi tersebut memang punya kualitas yang sangat jauh opsi pemanggilan pemain naturalisasi patut dipertimbangkan. Alasan terbesarnya adalah untuk menaikkan prestasi sementara demi menimbulkan semangat masyarakat kepada sepakbola Indonesia.

Pertanyaannya, mana pos yang akan dibenahi oleh Riedl?

Komentar