Tanpa Jeroen Zoet, Atlético Berpeluang Menang Tanpa Adu Penalti Atas PSV

Analisis

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Tanpa Jeroen Zoet, Atlético Berpeluang Menang Tanpa Adu Penalti Atas PSV

Laga perempat final Liga Champions 2015/16 yang mempertemukan Atletico Madrid dengan jagoan Belanda, PSV Eindhoven, Rabu (16/3) dini hari, terpaksa diakhiri lewat adu tendangan penalti. Adu penalti tersebut berakhir dengan skor 8-7 untuk Atletico. Ini terjadi karena hasil dari dua pertandingan ditambah perpanjangan waktu berakhir dengan skor 0-0.

Atletico yang bertindak sebagai tuan rumah langsung tancap gas sejak menit pertama. Mengandalkan duet Antoine Griezmann dan Yannick Ferreira-Carrasco di lini depan, Atletico langsung mengincar gol karena mereka tidak mampu mencetak gol away dalam pertemuan pertama yang berlangsung di kandang PSV.

Agresivitas yang ditunjukkan Atletico ternyata sudah dipahami Pelatih PSV, Phillip Cocu. Ia pun memainkan tiga bek yang ditunjang dengan dua gelandang bertahan untuk membuat lini belakang PSV rapat. Dan hal tersebut terbukti di pertandingan, yang mana Atletico kesulitan mengalirkan bola dengan cepat ketika memasuki sepertiga pertama daerah permainan PSV.

Garis Pertahanan Rendah Sulitkan Pemain Atletico

Tak mampunya Atletico mencetak gol di pertemuan pertama membuat mereka bermain agresif sejak menit pertama. Agresivitas Atletico dalam menyerang rupanya sudah diantisipasi oleh Cocu. Ia pun berinisiatif memainkan garis pertahanan rendah, yang membuat Atletico tak bisa memanfaatkan kecepatan Griezmann dan Ferreira-Carrasco melalui umpan terobosan.

Anak asuh Cocu tak hanya memainkan garis pertahanan rendah, mereka juga berupaya mempersulit upaya Atletico di sepertiga akhir daerah mereka dengan memasang sebanyak mungkin pemain di daerah tersebut. Hal ini dibuktikan dengan formasi bertahan 5-3-2 yang diusung oleh PSV ketika bertahan.

Akibat dalamnya garis pertahanan PSV, pemain Atletico memilih memainkan umpan silang ke jantung pertahanan PSV. Statszone mencatat bahwa Atletico melepaskan 41 umpan silang ke kotak penalti, di mana presentase keberhasilan hanya 22 %. Kecilnya angka keberhasilan umpan silang Atletico disebabkan oleh duet striker mereka yang tak terlalu tangguh dalam duel udara. Belum lagi trio bek PSV, Nicolas Isimat-Mirin, Hector Moreno, dan Jeffrey Bruma, memiliki postur tubuh yang lebih tinggi ketimbang kedua striker Atletico tersebut.

Tak hanya itu, upaya Atletico melalui tembakan jarak jauh juga tak berhasil menjadi gol. Bahkan, dari sembilan tembakan jarak jauh yang dilepaskan oleh Atletico, hanya tiga tembakan yang mengenai sasaran.

Perubahan Formasi Atletico Tak Berhasil

Publik Vicente Calderon sempat memiliki harapan untuk menang di waktu normal ketika Fernando Torres dimasukkan pada menit ke-56, untuk menggantikan Augusto Fernandez yang bermain sebagai gelandang bertahan.

Torres pun langsung bermain sebagai ujung tombak, yang mana peran Griezmann dan Ferreira-Carrasco digeser ke sayap, sementara Koke dan Saul Niguez bertugas untuk mengeksploitasi sisi tengah pertahanan PSV.

Meski sempat merepotkan pertahanan PSV lantaran ia berani melakukan dribel di daerah pertahanan PSV, pada akhirnya upaya memasukkan Torres malah tak berbuah apa-apa. Kecermatan Torres dalam mencari ruang tak terlihat di laga ini. Minimnya umpan terobosan yang dilepaskan kepada El Nino, serta tangguhnya pemain belakang PSV dalam mengawal daerah permainannya membuat ia hanya sempat mengancam gawang Jeroen Zoet tiga kali.

Tangguhnya Jeroen Zoet Dalam Mengawal Gawang PSV

Performa kiper PSV, Jeroen Zoet menjadi pembeda dalam laga ini. Ia bahkan bisa disebut sebagai pemain tersibuk dalam pertandingan ini. Bagaimana tidak, kiper berusia 25 tahun ini membuat tujuh penyelamatan istimewa, di antaranya adalah one-on-one Griezmann dengan dirinya pada awal-awal pertandingan, tembakan luar kotak penalti Felipe Luis, hingga sepakan keras Fernando Torres dari dalam kotak penalti.

Delapan gol yang bersarang di gawangnya saat adu penalti memang tak bisa disalahkan kepadanya begitu saja, sebab ia begitu istimewa ketika pertandingan masih berada di waktu normal. Bahkan, jika tanpa performa apik yang ditunjukkan Zoet, bisa jadi PSV akan kalah dalam 90 menit.

ed: fva

Komentar