Begini Cara Mengalahkan Liverpool-nya Jürgen Klopp

Analisis

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Begini Cara Mengalahkan Liverpool-nya Jürgen Klopp

Liverpool bersama Juergen Klopp memang perkasa, melawan tim dengan skuat luar biasa. Namun, saat melawan tim lemah, Liverpool justru kalah. Mengapa?

Semalam (6/12), Newcastle United berhasil mengandaskan Liverpool 2-0 di St. James Park. Skuat asuhan Steve McClaren tersebut seperti bukan menghadapi Liverpool yang agresif, yang mampu mengalahkan Manchester City 4-1 dan Chelsea 3-1. Bahkan berulang kali Newcastle berhasil masuk ke area pertahanan Liverpool lewat serangan balik.

Sebelum pertandingan, McClaren seperti mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Dari pernyataannya, McClaren secara tidak langsung mengunggulkan Liverpool untuk menang. Tidak lupa, ia pun menyiratkan adanya masalah di dalam tim yang belum terselesaikan. Belum lagi sejarah pertemuan yang tidak menyenangkan antara McClaren dengan Klopp saat ia melatih Mainz di Bundesliga.

Saat pertandingan berlangsung, yang terjadi sebenarnya tidak demikian. Ketimbang melakukan serangan mati-matian, Newcastle justru bermain sabar. The Magpies seperti bukan kesebelasan yang tengah berjuang di zona degradasi dengan lebih menunggu para pemain Liverpool melakukan serangan.

Namun, bukan berarti kalau Newcastle tengah memarkir bus di area pertahanan. Mereka bermain seperti biasanya, tapi tak begitu agresif dalam menyerang. Newcaslte lebih memilih serangan balik untuk membongkar pertahanan Liverpool.

Para pemain Newcastle berusaha mengunci area tengah lapangan. Hal ini membuat Nathaniel Clyne dan Alberto Moreno maju hingga pertahanan The Magpies untuk membantu serangan. Sisi itu pula yang kemudian dimaksimalkan Newcastle untuk dieksploitasi saat serangan balik.

Lini tengah Liverpool yang dihuni Lucas Leiva, Joe Allen, Jordon Ibe, Roberto Firmino, dan James Milner, tidak terlihat mendominasi. Duet Allen dan Leiva pun seringkali mudah ditembus oleh serangan Newcastle. Ketidakhadiran Philippe Coutinho seperti mengurangi kreativitas di lini serang Liverpool. Selain itu, Klopp yang mengandalkan kedua sisi untuk menyerang, terbukti tidak efektif. Jordon Ibe selalu terlihat terlalu lama membawa bola dan mengirimkan umpan yang salah.

Baca juga: Klopp Harusnya Beristirahat Lebih Panjang

Meredam Agresifitas Liverpool
Umpan Liverpool
[Grafis umpan Liverpool]
Kemenangan Liverpool atas Swansea 1-0, merupakan kemenangan pertama Klopp di Liga Inggris, di Stadion Anfield. Sebelumnya, mereka kalah 1-2 atas Crystal Palace—yang membuat Klopp tak bisa melupakannya, serta hasil seri atas Rubin Kazan (di Liga Champions) dan Southampton. Padahal, catatan permainan tandang mereka terbilang baik, salah satunya saat mengandaskan Manchester City dan Chelsea.

Salah satu alasan logis dari kemenangan Liverpool tersebut tak lain dari tepatnya strategi yang diterapkan Juergen Klopp dengan strategi tim lawan. Strategi yang mengandalkan pressing dan kecepatan melakukan serangan balik, hanya bisa dilakukan untuk lawan yang dominan menguasai bola dan berambisi melakukan serangan.

Namun, hal tersebut tidak ditunjukkan oleh Newcastle United yang bermain lebih menunggu. Pada akhirnya, bukan Liverpool yang menekan, justru mereka yang ditekan.

Kala menghadapi Newcastle, Liverpool unggul 58% penguasaan bola. Saat menghadapi City, penguasaan bola Liverpool cuma 43%. Penguasaan bola saat menghadapi Newcastle tak jauh saat mereka mengalahkan Chelsea dengan 56%. Bedanya, jumlah tendangan yang dilakukan Liverpool jauh lebih sedikit dengan 10 tendangan berbanding 19 tendangan saat menghadapi Chelsea. Ini menunjukkan kalau Liverpool sejatinya tak menemukan celah yang besar untuk mengonversinya menjadi peluang.

Selain itu, Liverpool pun jarang bisa menghentikan para pemain Newcastle. Berdasarkan Whoscored, jumlah dispossed (ditekel oleh lawan yang bukan karena mencoba untuk melewati lawan) Newcastle hanya sembilan kali. Bandingkan dengan Manchester City dan Chelsea dengan 19 kali. Ada dua simpulan  dari statistik tersebut: kemampuan tekel Liverpool menurun, atau memang Liverpool yang tak pernah melakukan tekel karena Newcastle yang bermain bertahan.

Newacstle sendiri tidak bertahan hingga area kotak penalti. Newcastle memaksa Liverpool mengirim umpan ke sayap sedari area tengah lapangan. Liverpool hampir sulit mengirim umpan ke area depan kotak penalti Newcastle. Bola-bola panjang ke arah pertahanan Newcastle pun hampir selalu bisa dipatahkan.

Defensive Liverpool
[Defensive Action Liverpool. Bulat: Sapuan; Silang: Tekel; Wajik: Potongan. Sumber: FourFourTwo]

Dari grafis aksi pertahanan Liverpool di atas, terlihat kalau Liverpool lebih sering melakukan aksi pertahanan di sisi kiri. Hal ini tak lepas dari upaya para pemain Newcastle yang mengeksploitasi fullback Liverpool yang membantu serangan, dalam hal ini Alberto Moreno yang mendukung pergerakan James Milner, yang kerap bergerak ke sisi kanan.

[Grafis aksi James Milner yang meskipun beroperasi di sisi kiri, tetap aktif bergerak ke sisi kanan. Sumber: Four Four Two]
[Grafis aksi James Milner yang meskipun beroperasi di sisi kiri, tetap aktif bergerak ke sisi kanan. Sumber: Four Four Two]
[Grafis Umpan Newcastle. Sumber: FourFourTwo]
[Grafis Umpan Newcastle. Sumber: FourFourTwo]
Dari grafis umpan Newcastle di atas, terlihat kalau McClaren memusatkan serangan kepada Moussa Sissoko di sisi kanan. Wijnaldum sendiri tidak banyak bergerak di sisi kiri melainkan bergerak ke sisi tengah. Ini yang membuat sisi kiri Newcastle terlihat mati, padahal mereka memang memaksimalkan sisi kanan di mana James Milner yang bergerak ke sisi kanan. Grafis di atas pula memperlihatkan bagaimana Newcastle lebih sering mengirimkan umpan-umpan panjang. Dari situ pula gol Newcastle berasal.
Baca juga: Klopp Jangkiti Liverpool dengan Virus Kepercayaan Diri

Mereka yang Berpotensi Mengalahkan Liverpool

Dengan dua kekalahan yang dialami Klopp di liga, terlihat ada faktor utama yang bisa membikin Liverpool kalah lagi. Faktor tersebut adalah membuat Liverpool tak agresif baik saat bertahan maupun menyerang.

Kesebelasan macam Leicester yang mengandalkan serangan balik, maupun Everton yang kerap membiarkan lawannya menyerang, bisa menjadi mimpi buruk buat Liverpool dengan Juergen Klopp-nya andai Klopp tak memiliki formula lain.

Kesebelasan yang lebih menunggu, ketimbang meyerang secara frontal, bisa saja merepotkan Liverpool pada akhirnya. Setidaknya, dengan bermain seperti itu, mereka bisa menghambat agresifitas Liverpool yang merupakan senjata utama Juergen Klopp.

foto: dailymail.co.uk

Komentar