Satu dari Dua Langkah Terakhir Chelsea untuk Menjadi Juara

Analisis

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Satu dari Dua Langkah Terakhir Chelsea untuk Menjadi Juara

Arsenal memiliki kenangan manis dari kemenangan 5-3 di Stamford Bridge, Oktober 2011 lalu. Arsenal juga memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi dari rangkaian sembilan kemenangan beruntun di semua ajang. Tapi, keduanya tak berarti apa-apa.

Pertama, para pemain Chelsea yang akan mereka hadapi kali ini bermain di bawah arahan langsung Jose Mourinho. Nama tengahnya, Mario dos Santos, jelas bukan berarti “kelemahan Arsenal” namun Mourinho tampak tahu betul cara agar tak kalah dari Arsenal.

Dua belas kali Mourinho bermain melawan Arsenal (atau Arsene Wenger karena setiap kali Mourinho berhadapan dengan Arsenal, manajer kesebelasan lawan selalu Wenger) dan tak sekalipun ia kalah. Persentase kemenangan Mourinho pun melebihi lima puluh persen; ia hanya bermain imbang melawan Arsenal sebanyak lima kali saja.

Kedua, Chelsea yang Arsenal hadapi kali ini adalah pimpinan klasemen sementara Premier League. Itu saja seharusnya (dan memang sudah sewajarnya) membuat Arsenal gentar. Namun jika mereka merasa inferior melawan kesebelasan peraih poin terbanyak sekaligus pemilik selisih gol terbesar sekaligus pemilik jumlah kebobolan paling sedikit, Arsenal tak dapat disalahkan.

Chelsea yang mereka hadapi kali ini hanya mengenal satu peringkat sepanjang musim: peringkat pertama. Premier League adalah dunia yang luas dan Chelsea hanya (dan hanya mau) mengenal lima persen darinya. Wajar, mengingat mereka menempati lokasi yang diinginkan oleh semua kesebelasan. Dan Chelsea jelas tak akan menjual properti mereka, sebesar apapun tawaran yang masuk.

Arsenal yang sepanjang musim selalu berhasil mencetak gol jika bermain di Emirates Stadium terdengar mengerikan. Tapi Chelsea bisa tetap tenang. Kalaupun mereka kalah dalam pertempuran, Chelsea akan tetap berada dalam posisi terdepan untuk memenangi peperangan. Mereka berjarak sepuluh poin dari kesebelasan terdekat.

Arsenal, bagaimanapun, tak dapat mengharapkan kemudahan pertandingan. Chelsea tak akan begitu saja membiarkan kemenangan menjadi milik Arsenal. Alasannya apa lagi jika bukan karena mereka ingin menjadi juara sedini mungkin. Jika Chelsea memenangi pertandingan ini, mereka hanya perlu mengumpulkan satu kemenangan lagi untuk secara resmi menjadi juara Premier League 2014/15.

Demi hasil terbaik, Mourinho pasti menurunkan susunan pemain terbaik. Hanya Diego Costa saja pemain utama yang berhalangan tampil. Tak masalah. Pemain yang menggantikan perannya, Didier Drogba, tak kalah bagus. Melawan Laurent Koscielny dan Gabriel (jika Per Mertesacker dinyatakan masih belum siap bermain) yang lebih muda darinya, Drogba jelas akan kesulitan adu cepat. Loic Remy jelas lebih tepat, namun ia masih cedera sehingga Mourinho hanya memiliki Drogba. Sekali lagi, tak masalah. Kalah cepat, belum tentu Drogba kalah cerdas. Terutama melawan Gabriel yang masih baru di Premier League.

Selain Alex Oxlade-Chamberlain dan Mikel Arteta yang sudah sembuh dari cedera namun belum bugar sepenuhnya, Wenger tidak memiliki keterbatasan pemain. Semua siap bermain dan siap memberikan yang terbaik. Bukan hanya ketika menyerang, namun juga ketika bertahan. Bukan hanya melawan Drogba, namun juga melawan Eden Hazard bahkan Gary Cahill, Branislav Ivanovic, dan John Terry. Tiga pemain belakang tersebut tak hanya tangguh ketika bertahan, namun juga mampu memanfaatkan bola-bola mati menjadi gol.

Melawan Chelsea, Wenger diharapkan kembali meninggalkan sifat keras kepalanya agar Arsenal mampu meraih kemenangan seperti ketika bermain tandang melawan Manchester City. Menyerang lewat kiri boleh dibilang merupakan satu-satunya peluang Arsenal dan mereka harus memanfaatkannya sebaik mungkin.

Menyerang lewat kanan tidak mungkin dilakukan karena di sana ada Hazard. Jika serangan Arsenal di sisi kanan gagal, bola berada dekat dengan pemain Chelsea paling berbahaya saat ini. Menyerang lewat tengah? Silakan saja. Di sana ada Nemanja Matic dan Ramires (atau Kurt Zouma). Dua pemain ini saja sudah terlalu tangguh untuk dikalahkan. Tugas Arsenal menembus lini tengah Chelsea akan lebih sulit lagi jika Francesc Fabregas, gelandang serang Chelsea, turun membantu keduanya. Lini tengah Chelsea berisi tiga gelandang yang kemampuan bertahannya di atas rata-rata.

Maka menyerang lewat kiri, area operasi Mesut Ozil, adalah pilihan paling masuk akal. Apalagi jika Mourinho memilih Oscar ketimbang Willian, yang lebih disiplin ketika bertahan, di posisi penyerang sayap kanan. Untuk memaksimalkan serangan Arsenal di sisi ini, Alexis Sanchez nampaknya akan lebih banyak bermain di sisi kiri.

Komentar