Kembali ke Liga dan Kencangkan Sabuk: Piala Asia Makin Dekat

Timnas Indonesia

by Arienal A Prasetyo

Arienal A Prasetyo

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kembali ke Liga dan Kencangkan Sabuk: Piala Asia Makin Dekat

FIFA Matchday November 2023 menjadi FIFA Matchday terakhir sebelum Indonesia berlaga di Piala Asia 2023 Qatar yang diselenggarakan pada 12 Januari hingga 12 Februari 2024.

Berkaca dari hasil Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Irak dan Filipina, Shin Tae-yong selaku Pelatih Indonesia, harus bekerja lebih keras lagi untuk meraih hasil maksimal di Piala Asia nanti. Kekalahan 1-5 atas Irak dan hasil imbang 1-1 melawan Filipina menjadi hasil yang cukup mengecewakan.

Saat ini, para pemain kembali bermain untuk klub mereka di liga masing-masing. Sekitar satu setengah bulan sebelum Piala Asia dimulai, Indonesia harus mengencangkan sabuk karena lawan-lawan di Piala Asia nanti bukanlah Brunei Darussalam yang bisa dikalahkan dengan mudah pada Kualifikasi Piala Dunia 2026. Di fase grup Piala Asia nanti, Indonesia tergabung di grup D yang akan menghadapi Irak (15/1), Vietnam (19/1), dan Jepang (24/1).

Secara kasat mata, Jepang, Irak, dan Vietnam, merupakan lawan-lawan yang secara peringkat FIFA berada di atas Indonesia. Kita mungkin merasa tidak terlalu kesulitan untuk mengimbangi (atau bahkan mengalahkan) Vietnam sebagai salah satu rival di Asia Tenggara.

Namun, Jepang dan Irak adalah lawan dengan kualitas yang lain. Berdasar ranking FIFA per 26 Oktober, Jepang menjadi negara Asia nomor satu, sedangkan Irak berada di posisi ketujuh.

Irak: Hilangkan Memori 5-1 di Basra

Pada laga Kualifikasi Piala Dunia 2026, Irak telah memberikan pelajaran penting bagi skuad Shin: jangan lakukan kesalahan dan tampil lebih berani.

Gol Irak ke gawang Nadeo Argawinata memang diawali dari kesalahan pemain Indonesia. Gol pertama Irak, misalnya, berawal dari kesalahan Marc Klok yang gagal mengontrol bola dengan baik. Gol kedua Irak jelas karena bunuh diri Jordi Amat yang salah menghalau umpan silang.

Namun, kesalahan Indonesia tidak hanya terletak pada kesalahan individual. Lebih dari itu, secara tim, Indonesia bermain pasif dan tidak cermat terhadap pemain Irak yang melakukan pergerakan tanpa bola.

Alih-alih berani menekan sejak bola dipegang pemain bertahan Irak, Indonesia justru menunggu lawan di area sendiri. Upaya inilah yang menyebabkan para anak asuh Jesus Casas nyaris tanpa gangguan berarti saat membangun serangan. Garis pertahanan Indonesia yang rendah pun mudah dibongkar oleh cairnya pergerakan para penyerang Irak.

Irak memang menjadi tim yang tampil apik sejak ditangani Casas pada November 2022 silam. Mantan Asisten Pelatih Spanyol itu sanggup mengantarkan Irak menjuarai Arab Gulf Cup pada Januari 2023.

Sebagai negara peringkat ketujuh Asia, Irak tentu berpeluang lolos ke Piala Dunia 2026 karena AFC akan mengirimkan 8 wakilnya secara otomatis dan ada satu negara yang akan mengikuti play off inter-konfederasi.

Di bawah asuhan Casas, asa kembali bermain di Piala Dunia sejak terakhir kali pada 1986 rasa-rasanya bukan sesuatu yang mustahil. Piala Asia akan digunakan Irak sebagai ajang untuk membuktikan diri bahwa mereka memang menjadi salah satu kekuatan utama Asia. Semakin jauh melaju di Piala Asia, kepercayaan diri Irak akan semakin tinggi dan itu menjadi modal bagus untuk bisa melaju ke Piala Dunia 2026.

Vietnam: Tetap Sulit Ditaklukkan

Vietnam menjadi negara Asia Tenggara dengan peringkat FIFA tertinggi, yakni 95 (15 AFC). Meski tidak lagi diasuh oleh Park Hang-seo, Vietnam tetap menjadi salah satu tim kuat. Di bawah asuhan Philippe Troussier, Vietnam nyatanya masih mampu mengalahkan tuan rumah Filipina, sedangkan Indonesia hanya meraih hasil seri.

Namun, kita boleh jumawa karena Troussier belum pernah menang atas Indonesia, serta memori kelam Troussier di Piala Asia pun tercipta karena Indonesia.

Pada Piala Asia 2004, Troussier menjadi pelatih Qatar. Di pertandingan pertama, Qatar bertemu dengan Indonesia yang saat itu diasuh oleh Ivan Kolev. Gol Budi Sudarsono dan Ponaryo Astaman membuat Indonesia meraih kemenangan sehingga Troussier pun langsung didepak.

Selain itu, Troussier juga tidak bisa mengalahkan Indonesia di SEA Games 2023. Saat itu, Vietnam berhasil ditaklukkan anak asuh Indra Sjafri dengan skor 3-2 di babak semifinal.

Namun, rekor dan sejarah antara Indonesia dengan Troussier tidak bisa menjadi patokan. Sebab Vietnam adalah tim nasional yang sulit dikalahkan Indonesia karena kemenangan Garuda terakhir kali terjadi pada babak semifinal Piala AFF 2016.

Jepang: Mustahil Melangkahi “Saudara Tua”

Jepang tidak pernah absen di Piala Asia sejak edisi 1988. Bahkan, Samurai Biru menjadi pengoleksi gelar terbanyak dengan empat trofi yang diraih pada edisi 1992, 2000, 2004, dan 2011.

Selain itu, performa Wataru Endo dkk juga membuat publik semakin yakin bahwa merekalah skuad terbaik di Asia saat ini. Di Piala Dunia 2022, Jepang berhasil mengalahkan Jerman dan Spanyol. Meskipun langkah mereka harus kandas di babak 16 besar oleh Kroasia.

Dalam sepuluh pertandingan pasca Piala Dunia 2022, Jepang hanya menelan satu kali kekalahan. Selebihnya, mereka meraih satu kali hasil seri dan sisanya adalah kemenangan. Dua kemenangan pun terasa spesial karena kembali mengalahkan Jerman dengan skor 4-1 dan lalu Turki yang berakhir 4-2.

Salah satu faktor penampilan apik Jepang adalah banyak pemain-pemainnya yang berlaga di liga-liga top Eropa. Sebagai contoh, dari 26 pemain yang dipanggil untuk Piala Dunia 2022, hanya tujuh pemain yang berlaga di J League. Sedangkan sisanya bermain di liga-liga Eropa.

Jepang tentu akan membawa pemain-pemain terbaiknya di Piala Asia nanti untuk kembali meraih gelar yang terakhir mereka raih pada edisi 2011 lalu. Maka dari itu, para pemain belakang Indonesia harus siap untuk menghadapi Kaoru Mitoma, Daizen Maeda, Junya Ito, Ritsu Doan, Takefusa Kubo, serta Daichi Kamada.

Bayangan Skuad Piala Asia

Pemain-pemain yang dibawa Shin di Kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi gambaran siapa saja yang bakal dibawa ke Piala Asia. Tampaknya tidak akan ada pemanggilan kejutan, selain opsi memanggil kembali Sayuri bersaudara serta menyertakan Marselino Ferdinan dan Ivar Jenner yang sedang dibekap cedera.

Di posisi penjaga gawang, Ernando Ari dan Nadeo tampaknya akan menjadi dua pilihan utama Shin. Pilihan yang menarik adalah mencermati opsi ketiga, yang diperebutkan oleh M Riyandi, Syahrul Trisna, serta Reza Pratama.

Di lini belakang, bek senior Fachruddin Aryanto tampaknya sudah tersisih dan digantikan Wahyu Prasetyo yang menjadi pelapis Jordi Amat, Elkan Baggott, dan Rizki Ridho.

Di posisi gelandang, Marselino dan Jenner akan memanaskan persaingan. Di samping Marc Klok, Rachmat Irianto, dan Ricky Kambuaya yang harus terus menjaga performa di klub agar tetap mendapat panggilan. Sementara di posisi penyerang pun kemungkinan tak ada perubahan berarti, kecuali Shin berubah pikiran untuk memanggil Stefano Lilipaly yang tampil gemilang bersama Borneo FC.

***

Siapapun skuadnya, Piala Asia nanti menjadi tolok ukur sejauh mana kita bersaing di kancah Asia. Seperti yang Shin usahakan, level Indonesia berada di Asia dan bukan lagi Asia Tenggara. Bisa jadi, hasil di Piala Asia akan menjadi penentuan sampai kapankah Shin akan melatih Indonesia mengingat kontraknya berakhir pada bulan Juni.

Mengingat hasil mengecewakan dalam dua pertandingan awal Kualifikasi Piala Dunia, sebagai penonton, kita pun harus siap untuk mengencangkan sabuk pengaman agar kita punya pelindung dan terhindar dari “luka” saat Indonesia tampil mengecewakan (lagi).

Komentar