Bedah Taktik Finalis UCL: Real Madrid

Taktik

by Dex Glenniza 58480

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Bedah Taktik Finalis UCL: Real Madrid

Liga Champions, sesuai namanya, adalah liganya para juara. Maka dari itu, pertemuan antara juara Italia melawan juara Spanyol seolah menegaskan hal ini. Musim ini, Juventus adalah juara Serie A Italia, sementara Real Madrid adalah juara La Liga Spanyol.

Setelah menjuarai La Liga, Los Blancos mengincar gelar double dengan menjuarai Liga Champions UEFA di akhir pekan ini di Stadion Millenium, Cardiff, yang sekaligus akan menjadi gelar Liga Champions ke-12 dan dua gelar juara berturut-turut bagi mereka jika mereka berhasil menang. Jika bisa mencapainya, Real Madrid dipastikan akan mencatatkan dua sejarah sekaligus.

Real Madrid adalah kesebelasan dengan penyerangan terbaik di Liga Champions musim ini. Pasukan asuhan Zinedine Zidane tersebut berhasil mencetak 32 gol dengan rata-rata 19,6 tembakan per pertandingan. Kedua angka tersebut adalah angka terbaik di antara seluruh kesebelasan yang terlibat di Liga Champions 2016/2017.

Zidane sejauh ini berhasil menguasai ruang ganti untuk menjadi pemimpin bagi para pemain bintang Real Madrid. Di atas kertas, Zidane memiliki formasi andalan 4-3-3 dengan dua pemain sayap yang menjadi fokus penyerangan, yaitu Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo.

Namun pada saat Bale cedera, ia memainkan formasi 4-3-1-2 (atau bisa juga dibaca 4-4-2 berlian) dengan Isco bermain di posisi lubang, di belakang Ronaldo dan Karim Benzema sebagai ujung tombak.

Casemiro sebagai kunci ketika bertahan

Dengan tiga pemain di depan, baik saat memainkan formasi 4-3-3 maupun 4-3-1-2, mereka bisa menekan pertahanan lawan secara bergantian, bahkan sampai bek sayap lawan. Namun tidak seperti Juventus yang melakukan penjagaan pemain dalam menekan, Real Madrid lebih kepada memotong jalur operan lawan.

Melalui pendekatan ini, Real Madrid berhasil mencatatkan 16,9 intersep per pertandingan di Liga Champions yang merupakan angka tertinggi musim ini.

Meskipun begitu, Real Madrid tetap memiliki gelandang bertahan yang agresif dalam diri Casemiro. Ia bermain di area di depan bek Real Madrid untuk menutup jalur operan lawan, melakukan pressing, yang pada akhirnya bertujuan untuk merebut bola.

Ketika Real Madrid terlalu berkonsentrasi menyerang, mereka kadang bisa hanya menyisakan empat pemain untuk bertahan, yaitu dua gelandang dan dua bek tengah. Di sini Casemiro menjadi kunci keseimbangan Real Madrid ketika salah satu dari dua full-back terlambat turun.

Hal ini wajar karena Real Madrid memiliki Marcelo dan Daniel Carvajal sebagai full-back yang lebih terkenal karena kemampuan penyerangan mereka dibandingkan karena kemampuan bertahan mereka.

Sama seperti kebanyakan kesebelasan di Eropa, dan sama seperti Juventus juga, Los Merengues bertahan dengan formasi 4-4-2 ketika sedang tidak menguasai bola.

Ketika situasi full-back yang terlalu naik ini terjadi, Casemiro akan turun meng-cover salah satu posisi full-back yang ditinggalkan, sementara Isco, Luka Modrić, atau Bale (jika bermain) akan turun ke wilayah tengah, sehingga akan menciptakan bentuk 4-4-2 sejajar atau 4-1-4-1 saat bertahan.

Real Madrid juga hampir selalu berusaha mencoba menekan lawan secara vertikal, yang membuat lapangan tengah menjadi penuh, sehingga memudahkan mereka dalam merebut penguasaan bola.

Namun melihat bentuk 4-4-2 mereka yang tidak melebar saat bertahan, ditambah ketika kedua full-back belum sempat kembali ke belakang, Real Madrid pun mudah dieksploitasi dari wilayah sayap. Fakta bahwa mereka menderita 16 umpan silang per pertandingan menunjukkan hal ini.

Umpan-umpan silang yang menghujani gawang Los Merengues ini sebenarnya secara tidak sengaja dirancang oleh Zidane sedemikian rupa, karena ini juga menunjukkan jika Real Madrid sulit sekali ditembus dari tengah. Mereka mencatatkan 20,5 tekel per pertandingan, dengan possession mencapai 54,8%.

Membebankan serangan melebar kepada full-back

Ketika menyerang, Real Madrid akan melakukan sebaliknya dari ketika bertahan, yaitu mereka akan berusaha bermain selebar mungkin. Saat menyerang ini justru Toni Kroos yang berposisi lebih dalam, bukan Casemiro, untuk menyambungkan permainan dari para pemain belakang ke pemain depan.

Di saat tanggung jawab build up permainan diberikan kepada Kroos, Luka Modrić atau Isco yang berada di depannya akan bergerak melebar ataupun menuju kotak penalti, sementara itu kedua full-back akan bergerak naik dan melebar, dan Ronaldo diberikan free role yang membuatnya bebas bergerak ke mana saja.

Kemudian ketika Los Blancos memainkan 4-3-1-2 dengan Isco di posisi lubang, pergerakan Isco akan menjadi kunci.

Ia akan bergerak diagonal yang akan berdampak pada adanya dua pemain di wilayah sayap saat Real menyerang, dua pemain untuk menyambut umpan silang (salah satunya lebih berkonsentrasi kepada second ball), sementara satu full-back di sisi seberang akan naik menciptakan opsi untuk mengubah fokus sayap, baik secara sengaja maupun tidak sengaja (misalnya crossing terlalu kuat atau tidak ada yang menyambut sehingga sampai ke sisi seberangnya).

Sebuah ironi adalah bahwa Real Madrid yang memiliki kelemahan dalam mengantisipasi umpan silang, juga adalah salah satu kesebelasan yang paling banyak memanfaatkan umpan silang ketika menyerang. Mereka mencatatkan rata-rata 23 umpan silang per pertandingan, yang merupakan angka terbanyak kedua di Liga Champions musim ini setelah Bayern München.

Meskipun begitu, salah satu kelemahan dari skema penyerangan ini adalah Real Madrid terlalu membebankan permainan melebar mereka kepada kedua full-back. Hasilnya, ada ruang kosong di belakang full-back yang bisa dieksploitasi oleh lawan, apalagi di final nanti lawan mereka adalah Daniel Alves, Alex Sandro, dan Juan Cuadrado yang bersiap memanfaatkan ruang kosong tersebut.


Selengkapnya: Organisasi Terstruktur dalam Pertahanan dan Penyerangan Real Madrid


Komentar