Perbandingan Skuat Atletico Madrid 2014 dan 2016

Taktik

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Perbandingan Skuat Atletico Madrid 2014 dan 2016

Pertemuan Real Madrid dan Atletico Madrid di final Liga Champions jelas bukan yang pertama. Pada 2014, keduanya bertemu di Lisbon dengan Real Madrid berhasil menundukkan Atleti 4-1. Beberapa pemain Atleti saat ini, tentunya ingin membalaskan dendam atas kekalahan dua tahun silam tersebut.

Dibandingkan Real Madrid, Atletico Madrid saat ini memiliki skuat yang lebih sedikit ketimbang saat mereka bermain di final Liga Champions 2014, dengan hanya menyisakan enam pemain. Sedangkan Real Madrid, masih diperkuat oleh 10 pemain.

Enam pemain yang memperkuat Atletico Madrid di final 2014 yang masih ada hingga kini antara lain Juanfran, Diego Godin, Tiago Mendes, Gabi, Koke, Filipe Luis. Imbas hanya menyisakan enam pemain, pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, pun mengubah formasinya, sekaligus untuk membuka ruang bagi pemain muda.

Minimnya pemain yang bermain di final 2014 tentu membuat kans Atletico berada di tengah-tengah. Pasalnya, keberadaan pemain baru juga memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, tentu saja mereka memiliki motivasi berlipat ganda. Namun, sisi negatifnya mental bertanding mereka diyakini juga akan down jika ada tekanan berlebih layaknya Atletico di 2014.

Melihat samanya perjalanan yang dihadapi kesebelasan ini dan perbedaan skuat yang mereka miliki, kami pun membuat perbandingan mengenai perubahan dari Atletico 2014 menuju 2016.

Kiper

Sekilas, terlihat tidak ada perbedaan yang mencolok di posisi kiper Atletico ketika mereka berlaga di final Liga Champions 2014 dengan saat ini. Pasalnya, kiper Atletico 2014, Thibaut Courtois dengan 2016, Jan Oblak, memiliki perawakan yang terlihat begitu sama.

Namun, jika melihat catatan statistik, keduanya begitu berbeda meski sama-sama sulit untuk dibobol lawan. Courtois yang kala itu masih berusia 22 tahun nyatanya lebih piawai ketimbang Oblak dalam melakukan penyelamatan.

Menurut Squawka, pemain asal Belgia ini tercatat membuat 2,75 penyelamatan per laga. Angka yang didapat Courtois ini lebih tinggi ketimbang Oblak yang hanya membukukan 2,33 penyelamatan per laga.

Menariknya, meski jumlah penyelamatan Courtois lebih tinggi, bukan berarti ia lebih baik ketimbang Oblak dalam urusan menjaga gawang. Courtois yang pada 2013/14 hanya bermain di delapan laga, bahkan memiliki rerata kebobolan 1,25 per laganya. Sementara di musim ini, Oblak yang tampil di semua partai Atletico di Liga Champions hanya kebobolan tujuh gol atau sekitar 0,58 per laga.

Belakang

Salah satu kunci sukses pertahanan Atletico pada musim ini tentu saja di lini belakang yang terbilang kuat. Meski demikian, lini belakang mereka tidak lebih baik ketimbang 2014 karena mereka sama-sama kebobolan enam gol hingga babak semifinal.

Namun bukan berarti tidak ada yang berubah di Atletico 2016. Di musim ini Atletico tidak lagi mengandalkan Joao Miranda yang hijrah ke Inter. Spot Miranda di posisi bek tengah digantikan oleh Jose Maria Gimenez.

Meski masih berusia muda, Gimenez memang termasuk salah satu penampil terbaik di kesebelasan ini. Ia pun memiliki gaya bermain yang sedikit sama dengan Miranda, yakni menjadi pemain belakang yang membangun serangan.

Tidak hanya itu, ada beberapa aspek yang membuat ia lebih baik jika dibandingkan dengan Miranda, yakni dalam hal melakukan intersep. Dibandingkan Miranda pada musim 2013/14, Gimenez lebih baik dalam melakukan intersep, yakni 3,63 intersep per laga. Sementara Miranda hanya mampu membuat 2,88 intersep dalam satu pertandingan.

Tengah

Ada perbedaan yang cukup mencolok jika membandingkan Atletico 2014 dengan 2016, yakni dalam hal formasi. Dalam hal ini, Atletico 2014 memainkan 4-3-3 dengan dua gelandang jangkar serta satu gelandang tengah. Sementara pada 2016, Atletico memainkan 4-4-2 dengan dua gelandang jangkar.

Pada 2014 pos tiga gelandang diberikan kepada Gabi, Tiago, dan Koke, yang difokuskan untuk bertahan. Imbasnya, pola serangan mereka pun ikut tersendat karena tiga gelandang tersebut kerap telat dalam masuk dari lini kedua.

Kesalahan pada 2014 coba diperbaiki oleh Simeone di musim ini. Perbaikan Simeone bahkan langsung mengarah ke formasi yang digunakan oleh kesebelasannya. Di musim ini 4-4-2 pun menjadi pakem utama Atletico.

Formasi ini semakin berjalan maksimal usai Atletico mendatangkan eks kapten Celta Vigo, Augusto Fernandez, tengah musim 2015/16. Kedatangan Fernandez pun membuat peran Gabi sebagai perusak serangan lawan menjadi lebih mudah. Selain di tengah, kedatangan Fernandez juga mengubah sayap Atletico, yang diisi oleh Koke serta Saul Niguez, menjadi lebih dinamis.

Depan

Tidak hanya di lini tengah, lini depan Atletico pada musim 2013/14 juga berubah. Pasalnya, pada saat itu gaya bermain Atletico lebih bisa dimatikan oleh lawan karena mereka hanya menaruh Diego Costa di depan, atau menduetkan Costa dengan penyerang sudah semakin dimakan usia, David Villa.

Kehilangan Diego Costa membuat Simeone bereksperimen dengan memainkan Fernando Torres serta Antoine Griezmann di lini depan. Meski keduanya secara statistik kalah dari Diego Costa, namun bukan berarti keduanya lebih buruk ketimbang striker Chelsea tersebut.

Atletico yang pada 2014 lebih identik dengan striker bertipe targetman di lini depan pun berubah menjadi kesebelasan yang lebih dinamis. Kedinamisan tersebut terlihat dari catatan gol Griezmann yang meningkat ketimbang musim lalu. Sementara Torres yang bertugas lebih dalam ketimbang Griezmann bahkan kerap menjadi penentu kemenangan Atletico di musim ini.

***

Secara garis besar, Atletico musim ini lebih baik dengan Atletico 2014. Namun Real Madrid pun tentunya telah berbenah dan semakin menunjukkan performa baik pada 2016 bersama Zinedine Zidane. Hal ini semakin menunjukkan laga final ini akan semakin menarik dengan kedua kesebelasan memiliki kans yang sama untuk juara.

Komentar