Tak Diarahkan saat Menyerang, Dortmund Menang

Taktik

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Tak Diarahkan saat Menyerang, Dortmund Menang

Borussia Dortmund, seperti pekan lalu, kebobolan dua kali. Namun, Borussia Dortmund, juga seperti pekan lalu, meraih kemenangan. Tiga gol dari Pierre-Emerick Aubameyang, ?lkay Gündo?an, dan Marco Reus menandai kemenangan ketiga Dortmund dalam tiga pertandingan terakhir. Sebuah prestasi tersendiri, mengingat Dortmund mengalami serangkaian hasil buruk sepanjang putaran pertama; dan harus menghabiskan masa jeda kompetisi di zona degradasi karenanya.

Menang dengan selisih satu gol memberi anggapan menang beruntung terhadap Dortmund, tapi tidak begitu adanya. Benar, memang, mereka membiarkan VfB Stuttgart mencetak dua gol cuma-cuma; satu melalui penalti dan satu lainnya lewat sepak pojok. Namun, ketika menyerang, Dortmund terlihat seperti kesebelasan yang tidak mungkin tidak mencetak gol.

“Bagaimanapun kami harus bersifat kritis terhadap diri sendiri terlepas dari kemenangan ini,” kata ?lkay Gündo?an selepas pertandingan dini hari tadi, “Kami memiliki keunggulan, tapi tidak dapat terus menyerang sebagaimana seharusnya dan kemudian kami akhirnya kebobolan gol ceroboh, seperti yang kami alami malam ini dari sepak pojok di penghujung pertandingan; yang tak seharusnya kami biarkan terjadi.”

Gündo?an ada benarnya. Koordinasi pertahanan Dortmund belum cukup baik untuk ukuran kesebelasan besar. Namun, itu semua tidak menutupi keistimewaan serangan Dortmund pada pertandingan dini hari tadi, yang terletak pada lima “penyerang” mereka.

Sama seperti Dortmund saat lolos ke final Liga Champions tahun 2013, Jürgen Klopp hanya mengarahkan pasukannya untuk bersiaga dalam kondisi tanpa bola. Selebihnya, ketika memiliki bola dan menyerang, Klopp membiarkan pasukannya mengatur serangan mereka sendiri. Semalam, kebebasan tersebut diterjemahkan dengan baik oleh empat pemain depan (Pierre-Emerick Aubameyang, Marco Reus, Shinji Kagawa, dan Kevin Kampl) plus Gündo?an.

Kelima pemain tersebut seringkali tampak bertukar posisi sembari bertukar umpan dari kaki ke kaki. Gaya menyerang yang cair dan cepat ini berhasil menimbulkan kekacauan di area pertahanan Stuttgart. Semua gol Dortmund lahir dari permainan terbuka; namun hanya satu yang boleh dibilang tercipta berkat instruksi Klopp.

Gol ketiga Dortmund, gol Reus, adalah buah dari kesalahan yang dilakukan Timo Baumgartl. Kesalahan Baumgartl tak akan terjadi jika para pemain Dortmund tidak mempraktekkan Gegenpressing hingga pertandingan benar-benar selesai.

Dua gol pertama Dortmund (mengingat Klopp sendiri yang mengaku bahwa dirinya tidak benar-benar memberi instruksi mengenai serangan) sepenuhnya milik para pemain. Pergerakan Reus dari sisi kiri menimbulkan kepanikan di antara para pemain Stuttgart. Ditambah lagi, pergerakan Reus membuat perhatian terfokus kepadanya sehingga Kagawa dan Aubameyang hanya membutuhkan dua sentuhan untuk mencetak gol pertama Dortmund.

Gol kedua Dortmund sendiri tak bisa tidak disebut sebagai buah manis dari inisiatif para pemain Dortmund. Kagawa berlari mendekati garis tepi (ke area yang, jika dilihat dari starting line up, merupakan wilayah kekuasaan Kampl) dari posnya sebagai penyerang lubang, membuka ruang untuk Gündo?an yang naik membantu serangan.

Lewat sebuah umpan menggunakan tumit, Kagawa membuat bola berada dalam penguasaan Gündo?an. Berlari tanpa kawalan berarti, Gündo?an dengan leluasa menempatkan bola di gawang kawalan Sven Ulreich.

Semua serangan dan ancaman yang hadir dari pergerakan cair tersebut, bagaimanapun, tak akan tersaji jika Dortmund tidak berhasil mengatasi masalah utama yang menjadi penyebab di balik penampilan buruk mereka sepanjang Hinrunde: kepercayaan diri.

“Mental block kadang merupakan bagian dari sepakbola, namun tiga pertandingan terakhir telah memberi kami kesempatan untuk melewati masalah tersebut,” ujar Gündo?an.

Dortmund, saat ini, hanya berjarak sembilan angka dari zona Champions League. Jika performa serangan semalam dapat dipertahankan dan koordinasi lini belakang dapat diperbaiki, bermain di Eropa musim depan bukan lagi mimpi.

Komentar