Tips Mencetak Gol dengan Sundulan dari Ahlinya

Sains

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Menulis dan menyunting di Pandit Football. Menulis untuk Tirto jika cuaca sedang bersahabat. Menulis kalimat pendek, membaca artikel panjang.

Tips Mencetak Gol dengan Sundulan dari Ahlinya

Tubuhnya tidak menjulang seperti Peter Crouch atau tinggi besar seperti Zlatan Ibrahimovi?, namun Tim Cahill – yang masih aktif bermain walau sudah berusia 37 tahun – adalah salah satu yang terbaik untuk urusan duel udara. Ia seorang gelandang namun mencetak banyak gol di dalam kotak penalti dengan keahliannya menyundul bola.

“Untuk melompat lebih tinggi dari lawan kita harus memiliki daya ledak dalam kaki-kaki kita,” ujar Cahill sebagaimana dikutip dari FourFourTwo. “Kekuatan ini dibentuk di gym. Memiliki kekuatan seperti itu di tubuh bagian bawah memberi kita tambahan kekuatan untuk melompat dan itulah yang meluncurkan tubuh kita ke udara. Fokus dalam melakukan latihan plyometrics dan dynamic seperti lunge dan squats. Begitu sudah di udara dan berbenturan dengan lawan, kita membutuhkan kekuatan tubuh atas untuk mengatasinya dan memenangi bola.”

Dalam artikel yang berbeda dari sumber yang sama, Cahill membagi menu latihan yang biasa ia lakukan. Cahill biasanya melakukan box jump dengan box yang tingginya seperempat dari tinggi badannya. Cahill melakukannya sebanyak tiga set, dengan sepuluh repetisi per set-nya. Squat juga ia lakukan dalam tiga set; hanya saja jumlah repetisinya hanya enam kali per set. Itu latihan plyometrics; untuk latihan dynamic­-nya, Cahill biasanya berlari selama dua menit sebanyak tujuh hingga delapan kali dan berjalan selama satu menit di antara setiap larinya.

Lompatan yang tinggi bukan satu-satunya rahasia kemenangan dalam duel udara. Pemilihan waktu (timing) juga penting. Dengan pemilihan waktu yang tepat inilah Cahill mengatasi lawan-lawan yang lebih tinggi darinya.

“Setiap pekan aku bermain melawan orang yang jauh lebih tinggi dariku dan untuk mengalahkan mereka aku harus menghitung dengan tepat pergerakan masuk ke dalam kotak penalti,” ujar pemain berkebangsaan Australia ini. “Aku memperhatikan pemain yang menguasai bola, bereaksi terhadap umpannya, mengamati terbangnya bola, dan tiba di saat yang tepat. Jangan asal menyundul – sambut bolanya. Jika kita melompat lebih dulu dari lawan, kita memiliki waktu untuk menentukan kapan kita akan menyundul bola.”

Michael Ballack – yang, seperti Cahiill, juga tidak menjulang atau tinggi besar – memiliki pendapat yang sama dengan Cahill mengenai timing. “Timing sangat penting,” ujar eks pemain Bayern München dan Chelsea ini. “Ada pemain yang besar dan kecil, namun pemain yang kecil dapat melompat sama tingginya dengan pemain besar dan dengan pergerakan yang tepat mereka dapat mengalahkan lawan dalam perebutan bola.”

Tips Cahill setelah melatih kekuatan dan menghitung pergerakan adalah menggunakan lengan. Bukan berarti mencetak gol dengan tangan seperti Diego Maradona, namun lengan yang berfungsi sebagai pengatur keseimbangan juga dapat menentukan ketinggian lompatan dan kekuatan sundulan.

“Begitu kita di udara, penting untuk menjaga agar lengan kita tetap terbuka agar kita dapat menggunakannya sebagai alat untuk mengangkat tubuh kita lebih tinggi,” ujar Cahill. “Lengan-lengan akan mendorong kita ke atas, dan menahan gangguan lawan. Lengan-lengan kita juga bisa membantu kita menentukan posisi untuk mendapat tambahan kekuatan dalam sundulan. Perhatikan bola sepanjang waktu begitu ia mendekati kita, lalu gunakan kening untuk mengarahkan bola ke titik yang kita inginkan.”

Penempatan bola, tentu saja, bukan hanya urusan kening. Yang bersentuhan dengan bola memang kening, namun banyak bagian tubuh lain seperti leher yang juga terlibat dalam keberhasilan penempatan bola demi menyulitkan penjaga gawang.

“Setelah berada di posisi yang tepat untuk mencetak gol, persoalannya tinggal teknik yang tepat,” ujar Cahill. “Untuk mengarahkan bola dengan akurat menggunakan kepala, postur tubuh bagian atas harus tepat sehingga kita dapat menggunakan otot leher untuk melepas sundulan bertenaga ke sudut bawah atau melambungkan bola melewati penjaga gawang.”

Tips terakhir dari Cahill, dan ini yang paling penting, adalah berani. Semua tips yang sudah diberikan tak akan berguna tanpa keberanian.

“Aku tak mengenal rasa takut ketika menyundul,” ujar Cahill. “Menurutku hanya akan ada satu pemenang. Kita harus berani menyakiti kepala sendiri. Pegang itu dan sembilan dalam sepuluh perebutan bola kita akan keluar sebagai pemenang. Aku menyundul bola seolah itulah hal terakhir yang aku lakukan.”

Seperti Ballack yang sepakat dengan Cahill dalam urusan timing, Rio Ferdinand sependapat dengan Cahill tentang keberanian. Pemain berkebangsaan Inggris yang menghabiskan sebagian besar karirnya bersama Manchester United tersebut berujar: “Pertama dan yang utama, jangan takut menyundul bola. Itu penting dan tidak sebodoh kedengarannya – kita harus berkomitmen terhadap setiap sundulan karena jika tidak, kita akan tersakiti.”



Komentar