Menjawab Mitos pada Sepakbola dengan Sains

Sains

by Dex Glenniza 55066 Pilihan

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Menjawab Mitos pada Sepakbola dengan Sains

Mungkin kita sering mendapatkan saran-saran yang harus dilakukan sebelum bertanding sepakbola. Banyak orang yang mengatakan hal itu hanya mitos, ada juga yang percaya akan kebenaran hal tersebut. Bukan hal yang baru memang ketika seseorang percaya dengan mitos-mitos yang dianggap bisa membawa kemenangan. Namun tentu akan timbul perdebatan soal apakah mitos-mitos tersebut benar atau tidak.

Pada artikel ini, mari kita mencoba untuk menempatkan mitos, rumor, atau spekulasi tersebut ke arah yang lebih logis dan ilmiah. Para pecinta olahraga mungkin akan kecewa karena cerita menarik mereka tidak lebih dari sekedar mitos lama.

Performa pada Pertandingan Tidak Tergantung dari Makanan Apa yang Kita Makan

Mungkin hal ini kita anggap sebagai fakta yang bisa kita dapatkan dari literatur-literatur sains. Secara umum diet nutrisi yang dibutuhkan oleh pemain sepakbola adalah sekitar 40% karbohidrat, 40% lemak, dan 20% protein. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa diet makanan yang kaya akan karbohidrat dapat meningkatkan performa berlari kita.

Semakin banyak karbohidrat maka akan semakin cepat bisa berlari, terutama pada akhir-akhir pertandingan. Namun selama ini pemain sepakbola tidak pernah memperhatikan hal ini dan memakan apa saja yang ada di depan mereka tanpa memikirkan kebutuhan atau batas nutrisi mereka.

Hasil: Fiksi

Minuman Olahraga adalah Pemasaran Semata

Air adalah kebutuhan dan dehidrasi adalah musuh setiap atlet. Air putih memang minuman yang baik untuk menggantikan cairan yang hilang di dalam tubuh. Namun, dalam kasus tertentu Minuman olahraga lebih disarankan dibandingkan dengan air putih. Awalnya penelitian tentang ini muncul ketika Gatorade pertama kali keluar dan terkenal di dunia olahraga.

Sebuah minuman tidaklah baik jika bertahan lama-lama di dalam perut, sehingga kandungan gulanya pun harus terbatas. Namun sebuah minuman juga tidak akan berefek jika langsung dicerna dan dikeluarkan melalui urin dan keringat, artinya bahwa penting sekali memperhatikan volum minuman dan kandungan garam.

Air putih biasa tidak memiliki keuntungan-keuntungan ini. Sebuah minuman yang memiliki kandungan gula, garam, dan mikronutrien yang tepat akan lebih efektif untuk tubuh atlet pada saat berolahraga.

Hasil: Fiksi

Sama Saja Apapun Minuman Olahraganya

Secara umum ada tiga jenis minuman olahraga: minuman pengganti cairan tubuh, minuman karbohidrat, dan minuman energi. Minuman pengganti cairan tubuh mengandung kandungan gula dan garam untuk penyerapan yang cepat dan retensi cairan untuk mencegah dehidrasi dan meningkatkan performa. Minuman karbohidrat dirancang sebagai bahan bakar ekstra untuk otot.

Sementara minuman energi banyak mengandung kafein yang banyak bekerja pada sistem saraf pusat, memberikan efek berdebar-debar yang dapat meningkatkan denyut jantung. Kafein adalah diuterik, artinya dapat meningkatkan volume urin, sedangkan banyak membuang cairan selama latihan tidaklah baik.

Hasil: Fiksi

Jangan Minum Air Es atau Air Dingin Saat Olahraga

Apa yang terjadi jika kita langsung menenggak air es begitu selesai olahraga? Memang nikmat, namun ketika organ tubuh dialiri air es, jelas metabolisme terganggu, karena pada saat olahraga suhu dalam tubuh kita memanas.

Itu fatal bagi jantung karena bisa membuat pembuluh darah menyempit, sehingga aliran darah ke jantung terganggu. Namun air dingin juga bukan hal yang haram, air dingin dapat menjadi baik untuk dikonsumsi setelah olahraga jika diminum secara perlahan-lahan.

Dengan memasukan air dingin perlahan-lahan kita bisa membuat suhu tubuh kita yang panas setelah olahraga, sedikit demi sedikit kembali ke suhu normal. Langsung meminum air dingin dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kepala pusing karena sistem saraf pusat tidak siap menerima pergeseran respons dari panas ke dingin terlalu cepat.

Hasil: Fakta

Halaman selanjutnya: Mitos gula merah, permen karet, seks, dan balsem

Komentar