Antonio Candreva, Penyusup yang Diterima Menjadi Laziale

PanditSharing

by redaksi

Antonio Candreva, Penyusup yang Diterima Menjadi Laziale

oleh: Reyhan Gufriyansyah*

Tidak ada satu manusia pun yang bisa menebak bagaimana nasib seseorang, termasuk nasib Antonio Candreva. Sempat malang melintang sebagai pemain pinjaman di berbagai klub di Italia, akhirnya Candreva menambatkan hatinya untuk Lazio.

Candreva memang lahir di Roma. Namun, ia punya darah Albania yang mengalir dari kakeknya. Candreva adalah bagian dari etnis Arbëreshë atau Italo-Albanians yang kebanyakan tinggal di Italia bagian selatan. Walau demikian dia sudah sepenuhnya menjadi warga negara Italia dan telah membela tim nasional Italia U-18 sampai timnas senior.

Membela timnas Italia pada awalnya lebih tepat disebut sebagai mimpi. Jangankan membela timnas, masuk skuat utama Udinese saja begitu sulit. Ini pula yang membuatnya kerap berpindah-pindah kesebelasan, sebelum akhirnya berlabuh di kesebelasan yang mengubah nasibnya: Societa Sportiva Lazio.

Perjuangan mendapatkan “hati” Lazio termasuk Laziale tidaklah mudah, perjalanan yang panjang penuh caci akhirnya berlanjut menjadi puji.

Titik Balik Karier Candreva

Awal tahun 2012 menjadi titik balik bagi karier Candreva. Datang ke Lazio sebagai pemain pinjaman, Candreva diharapkan mampu membantu Lazio mengarungi separuh musim Serie A 2011/2012 di bawah asuhan Edy Reja.

Alih-alih mendapat dukungan dari Laziale, Candreva malah dicaci habis-habisan oleh Ultras Lazio sejak kedatangannya pertama kali ke klub pertama di kota Roma tersebut. Kedatangan Candrez memang patut dipertanyakan Laziale. Kemampuan Candreva dinilai biasa saja, mengingat tak ada satupun klub yang meminjamnya dari Udinese bersedia mempermanenkannya.

Namun, bukan itu yang membuat Ultras Lazio menolaknya habis-habisan. Komentar Candreva di World Soccer jelan Derby della Capitale 2009-lah yang membuat Ultras Laziale tak suka.  Saat itu, sebagai pemain Livorno, Candreva diminta pendapatnya terkait derby paling panas di Italia tersebut. Waktu itu Candreva terang-terangan mendukung AS Roma mengalahkan Lazio. Candreva juga menambahkan bahwa dirinya adalah seorang Romanista, dan pada masa remajanya poster Francesco Totti dan Danielle de Rossi, selalu terpasang di kamarnya.

Komentarnya waktu itu berbuntut panjang. Ultras Lazio sangat membencinya mengenakan jersey biru langit. Bagi Laziale dia ada seorang “penyusup” yang bermain untuk tim kesayangan mereka. Kebencian ini kemudian berlanjut saat Candreva menjalani debutnya bersama Lazio saat melawan AC Milan. Masuk menggantikan Hernanes pada menit ke-88, Laziale mengejeknya dengan siulan dan teriakan “boo” saat ia masuk ke lapangan dan saat ia menguasai bola.

Hingga pada 7 April 2012, Lazio menjamu salah satu rival mereka yaitu, Napoli. Di pertadingan ini Candreva diberi kesempatan penuh dari Edy Reja untuk memulai pertandingan sebagai pemain inti. Pertadingan malam itu dibuka dengan tiupan peluit dari Paolo Mazzoleni. Seperti biasa Laziale memberikan siulan dan teriakan “boo”saat Candreva menguasai bola. Hingga keadaan berubah saat Candreva tiba-tiba melakukan tendangan keras mendatar yang tidak bisa diantisipasi oleh M. De Sanctis, kiper Napoli saat itu. Gol! 1-0 Lazio memimpin.

Saat itu keadaan begitu emosional, Candreva berlari menuju arah Curva Nord dan sedikit menaiki papan pembatas untuk menggapai hiruk pikuk Ultras Lazio menyambut golnya. Hampir seluruh pemain Lazio malam itu berlari ke arah Curva Nord merayakan gol bersamanya, kemudian di papan pembatas itu juga ia dirangkul oleh kapten Lazio, Tomasso Rocchi dan “vice captain”, Stefano Mauri. Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Lazio malam itu.

Sejak saat itu Candreva terus berusaha meyakinkan Laziale dengan penampilannya walau dari bangku cadangan dan terus membantah bahwa ia adalah seorang Romanista. Semuanya dapat saja berubah, tetapi perubahan sikap ultras Lazio tentu tergantung Candreva sendiri. Seperti halnya Sinisa Mihajlovic yang “dimaafkan” oleh Curva Nord setelah mencetak gol ke gawang AS Roma pada Derby della Capitale, maka sebuah gol ke gawang tim kedua Kota Roma pada derby tersebut akan mampu meluluhkan hati Ultras Lazio.

Ultras Lazio sesungguhnya memberi kemudahan bagi Candreva. Melalui rilis di situs Irriducibili Lazio, Ultras Lazio menantang secara terbuka Candreva untuk datang ke depan curva sud (tempat Romanista mendukung AS Roma di Stadion Olimpico) dan mencium logo Lazio di jerseynya pada derby nanti. Itu bukanlah tawaran yang mudah, karena hanya ada satu orang yang berani melakukannya sejauh ini, dia adalah Paolo Di Canio, mantan pemain lazio yang pada masa mudanya pernah bergabung dengan Ultras Lazio.

Waktu “pembuktian” pun tiba. Pada 11 November 2012, Lazio menjamu AS Roma di Olimpico. Cuaca kota Roma yang dingin tidak bisa menyembunyikan begitu panasnya pertandingan malam itu yang nantinya menghasilkan sembilan kartu kuning dan dua kartu merah.

AS Roma lebih dulu memimpin melalui gol Eric Lamela pada menit kesembilan. Lazio berusaha mengejar ketertingglan dengan mengusai pertandingan, hingga pada menit ke-34 Lazio mendapatkan tendangan bebas karena Hernanes dijatuhkan oleh Lamela. Tendangan bebas tersebut berjarak sekitar 35 meter dari gawang AS Roma. Hernanes dan Candreva tampak berdiskusi untuk menentukan siapa yang mengambil tendangan bebas itu.

Candreva kemudian mengambil ancang-ancang untuk melakukan tendangan. tendangan keras kaki kanannya kemudian ditepis ke gawang sendiri oleh Goicoechea, kiper AS Roma saat itu. Saat itu, Candreva berbalik arah dan lari ke arah Curva Nord dan melakukan perayaan gol menghadap Curva Nord di lapangan. Skor berakhir 3-2 bagi kemenangan Lazio. Bagi Laziale kemenangan atas AS Roma lebih penting daripada kemenangan atas tim manapun.

Walau Candreva tidak melakukan perayaan gol  ke arah Curva Sud malam itu, gol nya ke gawang AS Roma dinilai Ultras Lazio sudah cukup sebagai bukti cintanya kepada Lazio. Sejak saat itu tidak ada lagi siulan dan teriakan “boo” saat ia bermain. Candreva pun akhirnya “ditebus” Lazio dari Udinese, dan menjadikannya pemain tetap Lazio. Candreva pun telah menghadiahi Lazio dengan pundi-pundi golnya dan sebuah trofi Coppa Italia 2012/2013. Bola liar dari tendangannya ke gawang Lobont disambar Senad Lulic yang membawa Lazio mengalahkan AS Roma pada final Coppa Italia 2012/2013.

Memiuz, salah satu video editor dan channel di YouTube, membuat sebuah “video dokumenter” mini berdurasi 3 menit lebih yang menceritakan kisah perjalanan karir Candreva di Lazio,bagaimana Candreva diejek Ultras Lazio saat pertadingan pertamanya bersama Lazio, sampai dirinya disanjung Ultras Lazio saat mengalahkan AS Roma di final Coppa Italia 2012/2013.

Kini, “penyusup” itu berubah menjadi seorang Laziale. Tak tanggung-tanggung, saat dipermanenkan Lazio dari Udinese, Candreva setuju untuk menerima tawaran kontrak dari Lazio selama 5 tahun! Candreva pun saat ini menjadi salah satu pemain penting Lazio dan juga menjadi pemain kesayangan Laziale dengan julukan Antonio “Romoletto” Candreva!


Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Antonio_Candreva, http://www.marsilinotizie.it/2015/07/falconara-albanese-accoglie-lasso-della-lazio-antonio-candreva/, http://www.kompasiana.com/galuhtrianingsihlazuardi/irriducibili-lazio-dari-nesta-simeone-hingga-candreva_550e179aa33311a92dba7e13

*Penulis adalah mahasiswa psikologi Universitas Syiah Kuala juga penyiar di Oz Radio Banda Aceh. Berakun twitter @Reyhan_Rysya

foto: lazialitalia.com

ed: fva

Komentar