Manis Pahit Kebersamaan Anelka dengan Arsenal

Backpass

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Manis Pahit Kebersamaan Anelka dengan Arsenal

Usia Nicolas Anelka baru 18 tahun 7 bulan (dan 26 hari) ketika ia mencetak gol pertamanya sebagai pemain Arsenal. Minggu, 9 November 1997, The Gunners menjamu Manchester United di Highbury. Tujuh menit pertandingan berjalan, Anelka membuat jala gawang kawalan Peter Schmeichel bergetar. Laga pekan ke-14 Liga Primer 1997/98 itu sendiri berakhir 3-2 untuk kemenangan tuan rumah.

Gol ke gawang United hanyalah satu dari enam gol Anelka di Liga Primer 1997/98. Di Piala FA, Anelka malah hanya mencetak satu gol. Namun golnya ke gawang Newcastle United terhitung sangat penting karena dicetak di menit ke-69 dalam pertandingan final. Gol pengganda keunggulan tersebut mengunci kepastian Arsenal meraih dwigelar Liga Primer dan Piala FA.

Anelka didaratkan di Highbury pada 22 Februari 1997. Arsenal hanya perlu mengeluarkan 550 ribu paun untuk mengambil sang penyerang muda berbakat dari Paris Saint-Germain. Sebagai pemain muda yang belum matang, Anelka lebih akrab dengan bangku cadangan. Semuanya berubah ketika Ian Wright menderita cedera pada masa sibuk klub-klub Inggris, Natal 1997.

Memasuki musim 1998/99, status penyerang utama sudah menjadi milik Anelka. Menit bermainnya (di Liga Primer saja) meningkat menjadi 2.806 menit (35 pertandingan) sepanjang musim itu, dari 1.493 menit (26 pertandingan) di musim sebelumnya. Dengan meningkatnya jam terbang, meningkat pula produktivitas Anelka. Ia mengakhiri musim sebagai pencetak gol terbanyak Arsenal (19 gol) dan peraih penghargaan PFA Young Player of the Year.

Sang bakat mentah semakin matang dari musim ke musim. Dengan 1997/98 dan 1998/99 sebagai acuan, maka 1999/2000 tampak jauh lebih menjanjikan. Namun ternyata di musim tersebut, nama di atas nomor 9 berganti dari Anelka menjadi Suker.

Pada 18 Mei 1999, hanya dua hari setelah Liga Primer 1998/99 berakhir, Anelka berujar: “Satu hal yang bisa aku katakan kepada kalian adalah aku tidak bisa memahami media-media Inggris, yang menyebabkan masalah besar bagiku di level pribadi.” Anelka santer diberitakan sedang mengusahakan kepindahan keluar dari Arsenal.

Pada 4 Juni, Arsene Wenger meminta FIFA menginvestigasi pendekatan ilegal Real Madrid atas Anelka. “Sang pemain terikat kontrak empat setengah tahun, dan pendekatan langsung seperti apa pun terhadap sang pemain adalah ilegal,” ujar manajer Arsenal tersebut.

Pertengahan Juni, Lazio ikut meramaikan suasana dengan mengajukan tawaran sebesar 22 juta paun kepada Arsenal. Agen sang pemain memanfaatkan situasi ini untuk mempermulus kepindahan Anelka dari Arsenal ke Madrid. Pihak Anelka sendiri menegaskan bahwa prioritas sang pemain adalah Madrid, namun Lazio tidak mundur begitu saja.

“Prioritasku adalah bergabung dengan Real Madrid namun jika itu tidak berhasil, kenapa tidak Lazio saja? Aku lebih suka itu ketimbang harus kembali ke Arsenal,” ujar Anelka pada 29 Juni, di sela-sela liburannya. Pada kesempatan yang sama, sang pemain menyerang balik keluhan Wenger tentang pendekatan ilegal Madrid.

“Semua klub melakukannya. Arsenal melakukan hal yang sama kepadaku agar aku mau meninggalkan Paris Saint-Germain,” ujar Anelka.

Agen sekaligus saudara kandung sang pemain, Claude Anelka, ikut mendorong kepindahan sang penyerang. “Arsenal harus bergerak cepat jika mereka ingin kesepakatan terjalin,” ujarnya pada 1 Juli. “Jika tidak, Nicolas akan tinggal satu tahun tanpa bermain. Tidak masalah.” Lazio masih belum menyerah.

Sehari sebelum Juli berakhir, Wenger mengaku kalah. Ia “99 persen yakin” Anelka tak akan kembali bermain untuk Arsenal. Pada 31 Juli, Madrid kembali mengajukan tawaran untuk Anelka. Biaya transfer sebesar 23,5 juta paun disepakati pada hari pertama Agustus. Hari berikutnya, Anelka menandatangani kontrak berdurasi tujuh tahun.

Pada akhirnya, Arsenal yang terbukti diuntungkan. Mereka menjual Anelka seharga 40 kali lipat dari biaya yang mereka keluarkan saat mendaratkan sang pemain. Sebagai bagian dari kesepakatan, Arsenal mendapatkan Davor Suker yang berpengalaman. Anelka sendiri kesulitan beradaptasi dan sebagai akibatnya, tidak sukses di Madrid.

Terlepas dari cara yang ditempuhnya untuk keluar dari Arsenal, Anelka masih menyimpan rasa hormat yang besar terhadap klub dan manajernya -- terutama terhadap manajernya. Dalam lebih dari satu kesempatan di mana ia diminta mengenang keriernya bersama Arsenal, Anelka selalu mensyukuri kepercayaan dan kesempatan yang Wenger berikan kepadanya saat ia masih sangat muda.

Komentar