Alan Ball, Muda, Beda, dan Berbahaya

Backpass

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Alan Ball, Muda, Beda, dan Berbahaya

Tim Nasional Inggris bermain sama kuat, 1-1, melawan Tim Nasional Yugoslavia pada 9 Mei 1965. Di hari yang sama, Alf Ramsey, manajer Tim Nasional Inggris saat itu, menemukan pemain yang di kemudian hari menjadi kunci keberhasilan Inggris menjuarai Piala Dunia untuk kali pertama (dan hingga saat ini masih satu-satunya).

Alan Ball Jr., begitulah namanya, menjalani pertandingan pertamanya hari itu. Adalah Ramsey sendiri yang memberi kesempatan tersebut kepada Ball. Hari itu sang pemain berjarak tiga hari dari ulang tahunnya yang ke-20. Namun usia muda tak menghalanginya untuk tampil gemilang.

Ball tak hanya bermain sangat baik. Ia berguna. Ramsey memiliki taktik idaman dan Ball menyempurnakannya. Sir Bobby Charlton yang berada tepat di belakang dua penyerang dalam formasi 4-4-2 berlian memang seringkali disebut sebagai pemain Inggris paling penting di Piala Dunia 1966, namun taktik wingless wonders tidak akan sama tanpa kehadiran Ball di belakang Charlton.

“Ia barangkali adalah pemain terbaik (di pertandingan final Piala Dunia 1966) dan jika bukan karena pengaruhnya, hasil pertandingan pasti sudah berbeda,” ujar Charlton sendiri mengakui peran penting pemain termuda di Tim Nasional Inggris untuk Piala Dunia 1966 tersebut.

“Ia adalah pemain kecil yang sensasional dengan sentuhan dan visi yang luar biasa. Ia memiliki kontrol jarak dekat yang sangat baik dan tidak apa jika ia tidak cepat, karena ia tidak membutuhkannya. Ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas dan selalu mengambil keputusan yang tepat.”

Ball muda memulai karirnya di Blackpool. Pada usia 16, ia sudah berlatih bersama legenda: Sir Stanley Matthews. Menariknya, Status megabintang Matthews tidak membuat Ball merasa kecil. Pernah pada sebuah kesempatan dalam sesi latihan, Ball melepas umpan terobosan untuk Matthews. Karena berharap bola diarahkan tepat padanya, Matthews mengeluh. Ball tidak ciut. “It’s your job to bloody run and get it,” balas Ball.

Setelah Blackpool, Ball membela Everton dan Arsenal. Dalam prosesnya, Ball membuat kedua kesebelasan tersebut memecahkan rekor transfer mereka masing masing: 110 ribu untuk Everton, dan tepat dua kali lipatnya untuk Arsenal. Cedera menghambat karir Ball di Arsenal. Namun hal tersebut tak menghalangi Ball untuk membawa Southampton meraih promosi ke Divisi Satu.

Kerja keras adalah ciri khas Ball. Ia memang dikenal bertenaga. Bagaimanapun, adalah kecerdasan yang membuat karirnya gemilang hingga akhir. Ball mampu menyesuaikan diri. Ketika tenaganya tak lagi dapat diandalkan, Ball mengembangkan sentuhan-sentuhan yang lebih baik.

Dalam artikel mengenai Ball di The Guardian, David Lacey menulis, "Ball adalah seorang petarung yang menjadi pengrajin tanpa kehilangan kegigihannya yang sangat penting.” Opini Lacey diamini oleh Lawrie McMenemy, manajer Ball semasa di Southampton.

“Di awal karirnya ia adalah seorang pelari, petinju, seorang pemain pekerja keras. Di akhir karirnya ia menjadi pemain dengan sentuhan pertama terbaik di permainan ini. Alan memulai kehidupannya sebagai seorang penyapu jalanan dan mengakhirinya sebagai pemain violin utama terbaik yang pernah dimiliki Southampton,” ujar McMenemy.

Ball begitu berguna sehingga setelah Piala Dunia 1966, ia kembali ambil bagian di Piala Dunia 1970. Ball kembali diandalkan untuk membawa Inggris ke Piala Dunia 1974, namun ia mendapat kartu merah pada pertandingan kualifikasi melawan Polandia di Chorzow; karena mencekik pemain Polandia yang menendang Martin Peters. Ball menerima larangan bertanding ketika Inggris menjamu Polandia di Wembley pada Oktober 1973. Tanpa Ball di pertandingan tersebut, Inggris gagal lolos ke Piala Dunia. Ramsey pun harus rela kehilangan jabatannya.

Komentar