Brasil Tidak Selalu Kuning

Cerita

by M. Rifky Herlanda P.

M. Rifky Herlanda P.

Bola adalah teman.

Brasil Tidak Selalu Kuning

Membahas Piala Dunia berarti membahas Brasil. Bukan tanpa sebab; Brasil adalah negara yang hampir tak pernah absen di kejuaraan empat tahunan ini. Selain itu: sejak pertama kali mengikuti Piala Dunia pada 1930 hingga terakhir kali ambil bagian pada edisi 2014, Brasil sudah lima kali memenangi Piala Dunia—terbanyak di antara semua yang pernah ikut serta.

Di edisi 2018, Brasil ambil bagian dengan menjadi negara pertama yang lolos lewat kualifikasi. Brasil akan memainkan pertandingan pertamanya pada 18 Juni 2018, menghadapi Swiss. Pada pertandingan tersebut Brasil akan mengenakan jersey kebesaran mereka, kuning-biru.

"Bagi orang Brasil, kaus kuning itu sakral", kata Carlos Alberto, kapten Timnas Brasil pada Piala Dunia 1970. "Ketika kami memakainya, tentu saja kami merasa bangga tetapi juga membawa tanggung jawab, tanggung jawab untuk menginspirasi dan membangkitkan gairah."

Sekarang jersey kuning Brasil dapat dengan mudah ditemukan di seluruh dunia. Namun ada masa di mana kuning dan Brasil tidak identik.

Hubungan Brasil dan warna kuning berawal di pertandingan final Piala Dunia 1950, saat Brasil kalah dari Uruguay 1-2.

"Tiga orang telah membungkam Maracana: Frank Sinatra, Paus dan saya", kenang striker Uruguay pada saat itu Alcides Ghiggia.

Kekalahan dari Uruguay saat itu seolah menjadi momen penentu. Perlu ada perubahan dalam Timnas Brasil. Salah satu perubahan yang diterapkan adalah perubahan warna jersey.

Kaus putih dengan kerah biru, celana pendek putih, dan kaus kaki putih yang digunakan Brasil saat itu dianggap tidak patriotis. Tidak mencerminkan bendera Brasil yang warna hijaunya mewakili luas hutan, kuning emasnya menyimbolkan kekayaan mentah negara, serta bola biru dan bintang putihnya melambangkan langit Rio de Janeiro di malam hari.

Pada 1953 surat kabar Correio da Manha menggelar kompetisi desain jersey baru Timnas Brasil. Beberapa aturan diterapkan di dalamnya. Seragam baru harus menggunakan empat warna bendera Brasil yaitu kuning, biru, hijau, dan putih. Desain terpilih akan digunakan Brasil di Piala Dunia 1954 yang digelar di Swiss.

Aldyr Garcia Schlee, seorang ilustrator surat kabar memenangi sayembara tersebut. Usia Schlee saat itu masih 18 tahun.

Dari rumahnya di Pelotas, sebuah kota kecil di Rio Grande do Sul, dekat perbatasan dengan Uruguay, Schlee membuat 100 sketsa dengan kombinasi warna yang berbeda-beda.

"Pada akhirnya saya menyadari baju itu harus berwarna kuning. Cocok dengan celana biru dan kaus kaki bisa berwarna putih, dengan warna hijau di sekitar kerah," ungkap Schlee.

Karya Schlee menarik perhatian para penilai karena kesederhanaan dan keharmonisannya sangat menarik—paling menarik di antar 401 desain yang masuk ke sayembara tersebut.

Brasil pertama kali menggunakan warna baru seragam mereka pada Maret 1954, ketika mengalahkan Chili di Maracana, Rio de Janeiro.

Empat tahun setelahnya Brasil kembali menggunakan warna baru mereka. Pada Piala Dunia 1958 Brasil keluar sebagai juara. Namun sayangnya, di partai final, Brasil harus mengenakan seragam lain karena Swedia, lawan mereka sekaligus tuan rumah kejuaraan, mengenakan jersey berwarna kuning.

"Kami tidak punya pilihan warna lain dan Federasi Brasil menolak untuk mempertimbangkan menggunakan jersey berwarna putih lagi. Jadi kami pergi ke Stockholm dam membeli 22 kaus biru untuk para pemain, kemudian kami pasangi lambang," kenang Carlos Alberto.

Baru empat tahun berselang, di Piala Dunia 1962, jersey kuning menjadi seragam yang dikenakan Brasil saat menjadi juara dunia.

Namun dalam pemberitaan media, jersey Brasil tetap tergambarkan hitam-putih karena saat itu belum ada kamera berwarna. Pertama kalinya dunia benar-benar melihat warna kuning jersey Brasil adalah pada Piala Dunia 1970. Saat itu dunia sudah mengenal televisi berwarna.

Brasil dengan jersey berwarna kuning terlihat seperti sinar matahari dan suka cita yang mereka bawa kepada jutaan orang yang melihat mereka bermain di lapangan hijau. Perkenalan warna kuning Brasil ke seluruh dunia juga bertepatan dengan kemunculan Pele. Semakin terlihatlah keindahan Brasil dalam kombinasi warna kuning dengan permainan Pele dan Brasil yang begitu sedap dipandang.

"Italia mungkin telah memenangkan Piala Dunia tahun 1982, tetapi Brasil adalah tim yang menginspirasi dan memberikan imajinasi yang luar biasa bagi setiap orang. Sebagai seorang anak kecil pada saat itu melihat Brasil dengan kaos kuning itu sangat eksotis ditambah lagi sepakbola yang mereka mainkan sangat mempesona," ungkap Alessandro Del Piero, legenda sepakbola Italia, tentang pengaruh kuning Brasil di masa kanak-kanaknya.

Jersey yang dirancang oleh Schlee kini telah menjadi mesin penghasil uang. Pada tahun 1996 Nike pertama kali menjalin kontrak senilai 100 juta paun dengan Konfederasi Sepakbola Brasil (CBF)—kesepakatan terbesar yang melibatkan pihak nasional saat itu.

Orang-orang Brasil tidak akan pernah melupakan hadiah yang diberikan kepada mereka oleh Aldyr Garcia Schlee. Orang Brasil sangat menghormati kaus itu. Sebelum menggunakan jersey kuning, mereka selalu gagal memenangi Piala Dunia. Sejak 1953 mereka telah memenangi lima kali trofi, dan pertanyaannya sekarang adalah: apakah mereka bisa membuatnya menjadi enam?

Komentar