Reformasi Turnamen Sepakbola, dari Pertandingan Kecil sampai Menjadi Piala Dunia Antarklub

Cerita

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Reformasi Turnamen Sepakbola, dari Pertandingan Kecil sampai Menjadi Piala Dunia Antarklub

Cikal bakal Piala Dunia Antarklub berasal dari pertandingan antara pemenang Piala Skotlandia, Hibernian Edinburgh melawan semi-finalis Piala FA Inggris, Preston North End, pada 1887. Pertandingan itu bertajuk Kejuaraan Sepakbola Dunia (World Championship) dan konon menjadi gagasan FIFA untuk menggelar kejuaraan antara klub secara global pada 1909.

Nama Sir Thomas Lipton Trophy pun diadakan yang diikuti klub dari Inggris, Italia, Jerman dan Swiss. Kejuaraan yang diadakan di Turin, Italia itu dimenangkan West Auckland yang merupakan kesebelasan amatir dari Inggris dan mampu mengalahkan Juventus dengan skor 2-0 di laga final. West Auckland kembali memenangkan Sir Thomas Lipton Trophy lagi yang digelar dua tahun kemudian di tempat yang sama.

Kemudian kompetisi antarklub secara global itu tenggelam karena kampanye Piala Dunia sudah dimulai sejak akhir 1920-an. Gagasan turnamen klub intenasional pun muncul kembali pada awal 1950-an. Presiden FIFA saat itu, Jules Rimet, menyerahkan organisasi turnamen itu kepada Konfederasi Sepakbola Brasil (CBF).

Kemudian diadakanlah turnamen antarklub internasional bernama Torneo Octogonal Rivadavia Correa Meyer pada 1951. Turnamen itu melibatkan lima kesebelasan dari Brasil, yaitu Botafogo, Corinthians, Fluminense, Sao Paulo, dan Vasco da Gama. Sementara ada tiga kesebelasan lagi yaitu Hibernia, Olimpia (Paraguay), dan Sporting (Portugal).

Turnamen itu diakhiri Vasco da Gama yang menjadi juara setelah mengalahkan Sao Paulo dengan agregat 3-1. Tapi kompetisi itu mendapatkan protes dari pihak Italia karena perwakilannya tidak ikut serta. Apalagi saat itu anggota dewan FIFA yang berasal dari Italia, Ottorino Barassi, ikut membentuk kerangka kompetisi.

Tapi agak diwajarkan karena membawa kesebelasan-kesebelasan Eropa ke kompetisi internasional, terutama di Amerika Latin, cukup sulit pada waktu itu. Di sisi lain, jadwal turnamen antarklub internasional pada waktu itu kurang ideal. Maka dari itu kompetisi global mesti diprogram ulang dan digelar pada waktu yang ditetapkan FIFA, bukan dari sebuah konfederasi sepakbola suatu negara.

Kemudian, turnamen bernama The Pequena Copa del Mundo diadakan di Venezuela pada tahun berikutnya. Turnamen itu diikuti delapan peserta yang uraiannya adalah setengah dari Eropa dan sisanya dari Amerika Selatan. Tapi kompetisi itu berakhir pada akhir 1950-an karena terciptanya Piala Eropa dan Copa Libertadores.

Dua kompetisi itu yang menjadi cikal bakal terbentuknya Piala Intercontinental sebagai turnamen internasional dengan versi baru. Wacana terbentuknya Piala Interkontinental mulai diumumkan tepatnya pada 9 Oktober 1958, tepatnya setelah adanya perbincangan antara Presiden CBF waktu itu, Juan Joel Havelange, dan jurnalis asal Prancis bernama Jacques Goddet yang menghadiri pertemuan UEFA.

Kemudian gagasan yang terbentuk adalah Piala Interkontinental yang mempertandingkan antara kesebelasan dari Eropa dengan Amerika Selatan. Mengapa hanya pertandingan antara kesebelasan antar dua benua itu saja? Alasannya karena masih fokus kepada pengembangan kompetisi Pequena Copa del Mundo de Clubes dan Tournoi de Paris.

Apalagi pada saat itu Real Madrid dan Vasco de Gama dianggap sebagai kesebelasan terbaik yang mewakili Eropa dan Amerika Selatan. Pada pertandingan itulah yang memunculkan istilah Piala Dunia Antarklub dari media-media di Brasil. Maka dari itu, UEFA bekerja sama dengan CONMEBOL menggelar Piala Interkontinetal. Sebuah kompetisi yang mempertemukan juara Piala Eropa dan Copa Libertadores, dua turnamen yang sempat menenggelamkan Pequena Copa del Mundo de Clubes.

Piala Interkontinental pun resmi digelar dan dimenangkan Madrid setelah menang agregat 5-1 dari Penarol yang mewakili Uruguay. Format kandang dan tandang masih berlaku sampai 1980 sebelum Piala Intekontinental diakuisisi perusahaan Toyota dari Jepang. Nama Intercontinental pun berubah menjadi Piala Toyota.

Pergantian nama juga sekaligus mengubah format pertandingan menjadi satu kali saja dan digelar di Jepang yang merupakan asal dari perusahaan Toyota itu sendiri. Namun Toyota melepas kompetisi tersebut pada 2004 yang diakhiri dengan pertandingan antara FC Porto melawan Once Caldas.

Alhasil, nama kompetisi itu berubah menjadi Piala Dunia Antarklub pada tahun berikutnya. Formatnya pun berubah dengan melibatkan tujuh kesebelasan dari pemenang Liga Champions Asia (AFC), Liga Champions Afrika (CAF), Liga Champions Amerika Utara (CONCACAF), Liga Champions Oseania (OFC), Liga Champions Eropa, Copa Libertadores, dan satu kesebelasan dari tuan rumah penyelenggara yang berstatus sebagai juara liga domestik.

Meskipun Toyota pada waktu itu melepas kontribusi besarnya, tapi gelaran Piala Dunia Antarklub masih digelar di Jepang. Maka dari itu selalu minimal ada satu kesebelasan dari Liga Jepang yang berpartisipasi pada Piala Dunia Antarklub. Tapi tuan rumah Piala Dunia Antarklub sempat pindah ke Uni Emirat Arab (UEA) pada 2009 dan 2010.

Keputusan itu adalah hasil dari kongres FIFA ke-58 yang digelar di Australia. Penunjukan kepada UEA karena bisa mengundang keuntungan besar di sana dan hasilnya akan diinvestasikan kembali ke kesebelasan sepakbola di seluruh dunia. Investasi diutamakan kepada Tiongkok, Myanmar, dan Chile yang baru terkena bencana alam pada waktu itu.

Menjadi tuan rumahnya UEA, membuat dua kesebelasan dari liga negara tersebut mengikuti ajang Piala Dunia Antarklub meski tidak menjuarai Liga Champions Asia. Masing-masing kesebelasan itu adalah Al-Ahli pada 2009 dan Al-Wahda pada 2010. Tapi sejak itulah tuan rumah Piala Dunia Antarklub berpindah selama dua tahun sekali.

Setelah UEA, kompetisi itu digelar di Jepang selama dua tahun berutur-turut. Kemudian dipindahkan ke Maroko pada Piala Dunia Antarklub 2013 dan 2014 sebelum kembali ke Jepang pada 2015 dan 2016. Pada 2017 ini, Piala Dunia Antarklub akan digelar malam nanti di UEA yang kembali menjadi tuan rumah sampai edisi 2018 mendatang.

Hal itulah yang membuat Al-Jazira kecipratan bisa berhadapan dengan Madrid pada kompetisi tersebut. UEA juga masih menyisakan satu kesempatan menjadi Piala Dunia Antarklub berikutnya sebelum berpindah tuan rumah negara atau kembali ke Jepang.

Sumber: BBC, FIFA, RSSSF.

Komentar