Tim Cahill dalam Tiga Perayaan

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Tidak bisa berbahasa Finlandia.

Tim Cahill dalam Tiga Perayaan

Perayaan gol bagi Tim Cahill tampaknya bukan hanya urusan ekspresi diri, melainkan juga sarana pemasaran.

Canberra, 12 November 2015. Cahill mencetak gol kedua Australia dalam kemenangan tiga gol tanpa balas atas Kyrgyzstan, dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia zona Asia, Grup B. Sebelum melakukan perayaan gol khasnya, bertinju di sudut lapangan, Cahill melakukan gerakan membolak-balik halaman buku. Otobiografi Cahill, yang diberi judul Legacy, diterbitkan pada 19 Oktober 2015.

Tak jadi soal. Cahill memang sedang dalam masa transisi dari pemain sepakbola profesional ke pengusaha (sebagaimana, menurut catatan When Saturday Comes, diceritakan Cahill dalam otobiografinya). Namun promosi lewat perayaan gol ternyata ada batasnya.

Sydney, 10 Oktober 2017. Dalam pertandingan leg kedua play-off Piala Dunia melawan Suriah, Cahill mencetak gol penentu kemenangan di menit ke-109. Alih-alaih menjadi diri sendiri, Cahill menjadi Vincenzo Montella. Ia merayakan golnya dengan berlari sambil merentangkan tangan. Setelahnya Cahill membentuk huruf T dengan kedua tangannya.

FIFA mencurigai perayaan gol Cahill adalah permintaan sponsor. Rentangan tangan adalah representasi pesawat, dan huruf T adalah inisial sponsor yang dimaksud: TripADeal, sebuah agensi perjalanan.

Foto: Ryan Pierse/Getty Images

Per catatan Guardian, TripADeal berinteraksi dengan para pengikutnya lewat sebuah pertanyaan yang dilayangkan sesaat setelah pertandingan berakhir. TripADeal bertanya apakah para pengikutnya melihat Cahill, brand ambassadorbaru mereka, membentuk huruf T. Cahill sendiri merespon unggahan tersebut dengan delapan emoji, termasuk bola sepak dan pesawat. Unggahan tersebut telah dihapus.

Laws of the Game tidak secara spesifik melarang pemain menggunakan bagian tubuh untuk mempromosikan sponsor. Menanggalkan seragam untuk menunjukkan slogan atau iklan, sementara itu, adalah pelanggaran aturan permainan.

Sejarah perayaan gol bermasalah Cahill bisa ditarik mundur lebih jauh. Pada Senin 4 Maret 2008, Cahill bahkan sampai harus melayangkan permohonan maaf kepada publik untuk perayaan gol yang ia lakukan setelah mencetak gol ke gawang Portsmouth sehari sebelumnya.

Cahill melakukan perayaan lengan diborgol untuk kakaknya, Sean Cahill, yang dijatuhi hukuman penjara enam tahun pada Januari 2008 karena melukai seorang pria hingga satu matanya buta. Perkelahian itu sendiri terjadi pada 11 Juli 2004, di Bromley, London tenggara. Sean kemudian terbang ke Australia. Ia ditangkap di Sydney pada Maret 2007.

“Reaksi tersebut spontan dan emosional, namun hanya bertujuan untuk menunjukkan kepada kakakku bahwa aku memikirkan dan merindukannya,” ujar Cahill. “Perayaan gol itu tidak bertujuan untuk menyinggung pihak lain dan aku sepenuh hati meminta maaf jika perayaan gol tersebut menyinggung pihak mana pun.”

Everton, klub Cahill saat itu, membela sang pemain. Dalam pernyataannya pihak klub mengatakan: “Perayaan gol adalah masalah pribadi dan pemain bebas menentukannya -- tidak ada pihak yang boleh mendikte sang pemain selama sang pemain tidak melanggar batas aturan permainan, selama perayaan golnya tidak mengundang peringatan. Jelas sekali perayaan gol tersebut adalah masalah pribadi untuk Tim Cahill.”

Sean, yang berusia satu tahun lebih tua dari Cahill, meninggalkan sekolah di usia 17 tahun untuk membantu sang adik mewujudkan mimpinya menjadi pemain sepakbola. Sean meninggalkan sekolah untuk membantu kedua orang tuanya mencari uang, setelah mereka meminjam dana dalam jumlah besar untuk mengirim Cahill ke Inggris, walau saat itu tak ada jaminan bahwa Millwall akan menguji Cahill -- apalagi mengajukan kontrak.

“Hingga saat ini, tidak satu hari pun aku tidak memikirkan pengorbanan itu,” ujar Cahill dalam wawancara dengan ABC pada November 2015. “Aku menyebutnya luka yang indah.”

Cahill akhirnya diuji dan dikontrak oleh Millwall, klub profesional pertamanya. Cahill mendapat lima ribu pound sterling untuk sebagai honor penandatanganan, dan ia langsung mengirim semuanya kepada keluarganya di Australia. Kisah tersebut terulis dalam Legacy.

“Kebahagiaan adalah satu hal dan aku selalu memiliki alasan untuk bahagia sepanjang hidupku -- keluarga,” ujar Cahil, masih kepada ABC. “Semua hal yang dihasilkan sepakbola itu palsu. Uang, kontrak, menjadi tajuk utama surat kabar adalah hal-hal hebat yang didapatkan dari sepakbola namun kita tidak boleh terjebak dalam hal-hal tersebut karena hal-hal itulah yang merusak mental pemain dan atlet.”

***

Tim Cahill merayakan ulang tahunnya yang ke-38 hari ini. Ia masih aktif bermain untuk Melbourne City dan tim nasional Australia.

Komentar