Aksi Boikot Sebagai Wujud Kepedulian Ultras Gresik untuk Gresik United

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Aksi Boikot Sebagai Wujud Kepedulian Ultras Gresik untuk Gresik United

Luapan emosi tak bisa lagi dibendung oleh Ultras Gresik. Selain karena melihat kondisi Persegres Gresik United sebagai tim yang mereka bela dan cintai terpuruk di dasar klasemen sementara Liga 1 Indonesia, kabar gaji pemain tertunggak menambah kegeraman. Akhirnya sebuah aksi boikot dilakukan saat Gresik United menjamu Persipura Jayapura di Stadion Petrokimia, Gresik, Senin (14/8).

Imbasnya dalam pertandingan yang berkesudahan dengan skor 4-0 untuk kemenangan tim tamu itu hanya disaksikan kurang lebih 200-an pasang mata. Suporter Persipura justru terlihat lebih dominan di stadion berkapasitas 25.000 penonton tersebut. Lalu ke mana para pendukung tuan rumah yang biasanya berjubel mendukung Kebo Giras di Stadion Petrokimia Gresik itu?

Mereka, partisan Gresik United, sebenarnya ada di area stadion. Hanya saja mereka lebih memilih untuk berdiam di luar stadion sebagai wujud aksi boikot yang mereka lakukan. Saat Agus Indra dan Kawan-kawan berjuang menahan gempuran serangan Boaz Solossa cs, ribuan Ultras Gresik berdoa, menyalakan lilin, bernyanyi, dan mengumpulkan sejumlah uang yang didonasikan kepada para pemain yang tertunggak gajinya selama kurang lebih tiga bulan di luar stadion.

Ketua Ultras Gresik, M Muharrom, mengungkapkan bahwa aksi boikot dilakukan bukanlah bentuk penghianatan terhadap kesebelasan yang mereka banggakan, melainkan rasa cinta yang disalurkan dengan cara berbeda karena kondisi Gresik United yang menurut mereka karut-marut. Ada harapan dari aksi boikot tersebut agar manajemen segera menyadari kondisi klubnya saat ini.

Boikot dalam sepakbola bisa dibilang sebagai demonstrasi paling efektif yang bisa dilakukan suporter. Ketika aksi boikot dilakukan maka sepakbola telah kehilangan unsur paling penting dari permainan 11 lawan 11 yang dinamakan pemain ke-12, yaitu para suporter. Sepakbola tanpa suporter sama saja sayur tanpa garam, hambar dan tak menarik untuk disaksikan.

“Berawal dari informasi yang kami terima dari media dan pemain yang langsung menghubungi saya. Mereka menyatakan bahwa sudah tiga bulan belum gajian. Dari sana, kami merasa miris dan terenyuh melihat kondisi ini. Emosi kami jadi semakin meningkat, sudah kondisi tim sekarang seperti ini, manajemen juga belum ada itikad untuk mengevaluasi tim untuk lebih baik. Ditambah lagi masalah tunggakan gaji,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (15/8).

“Akhirnya, kami sepakat untuk boikot. Tapi, maksudnya bukan pengkhianatan, tapi ini tindakan kepedulian kami kepada pemain. Jadi kami sepakat untuk tetap datang ke stadion, tapi tidak masuk. Jadi, dari pada uangnya dibelikan tiket, lebih baik baik disumbangkan langsung kepada pemain,” sambungnya.

Pria yang akrab disapa Cak Tarom itu mengungkapkan bahwa dari pengumpulan dana tersebut terkumpul uang senilai Rp. 8 juta lebih yang langsung diberikan kepada Agus Indra selaku perwakilan pemain. Disaksikan pula oleh pelatih Khusaeri dan penggawa asing Gresik United, Patrick da Silva. Tarom menyadari kalau jumlah uang yang berhasil mereka kumpulkan memang tidaklah sebanding dengan nominal gaji yang biasa diterima para pemain pada setiap bulannya.

Namun inti dari aksi yang mereka lakukan itu sebagai bentuk rasa peduli mereka pada para pemain. Para suporter hanya ingin menunjukkan bagaimana kepedulian mereka dan lebih penting agar manajemen tersentil untuk sesegera mungkin melakukan evaluasi.

“Mas Agus (Indra) awalnya sempat takut untuk menemui suporter. Dia takut kalau suporter malah hina pemain. Tapi, saya kasih pengertian kepada Mas Agus dan pemain lainnya yang juga menyaksikan pemberian uang itu bahwa kekecewaan kami bukan kepada pemain, melainkan kepada manajemen,” kisahnya.

Kalau merunut apa yang terjadi dengan sepakbola Gresik akhir-akhir ini, aksi demo yang dilakukan suporter Gresik United bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya, seusai Gresik United ditaklukkan Persela Lamongan 0-2 di Stadion Petrokimia, para penonton menyerbu ke dalam lapangan seusai laga. Mereka murka dengan hasil negatif yang selalu diraih kesebelasan berjuluk Laskar Joko Samudro itu.

Dari laporan Jawa Pos, selain merangsek masuk ke dalam lapangan sebagian suporter ada yang membakar jala gawang hingga papan iklan, dentuman petasan pun berbunyi nyaring di sekitar tribun. Beruntung, aksi tersebut dilakukan seusai laga hingga tak membuat pertandingan terganggu. Setelahnya demonstrasi dilakukan suporter yang kadung masuk ke dalam lapangan. Di depan bench pemain Gresik United, mereka membentangkan sejumlah spanduk bernada kritikan ke manajemen maupun pelatih. Salah satunya bertuliskan, "Kami Punya Rasa, Kalian Mati Rasa" dan "Bermainlah Selayaknya Pejuang di Medan Perang".

Selang beberapa hari setelah kejadian tersebut, manajemen dan suporter pun melakukan diskusi untuk menyelaraskan pikiran. Terdapat beberapa poin yang dihasilkan dari pertemuan tersebut. Beberapa poin dari pertemuan tersebut memang dituruti manajemen, namun sisanya seperti pembenahan dalam tubuh manajemen, hingga upaya meningkatkan prestasi tim di kompetisi seolah diabaikan. Itulah yang membuat suporter akhirnya berang.

Tarom mengungkapkan, sebelumnya sejak satu bulan lalu pihak suporter ingin melakukan kembali mediasi dengan manajemen. Namun hal tersebut tak kunjung terealisasikan. Kemudian, Ultras Gresik melakukan demo di Kantor bupati Gresik, Sambari Halim Radianto, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Gresik. Niat mereka untuk bertemu dengan Ketua Umum klub, namun hasilnya percuma.

“Sebelumnya, satu bulan lalu kami ingin bermediasi dengan manajemen menanyakan tujuh poin yang sebelumnya sudah disepakati bersama. Kami ingin menagih janji dari tujuh poin itu. Tapi, sampai sekarang tidak ada itikad dari manajemen untuk bertemu kami. Tidak ada respon. Akhirnya, sesuai kesepakatan kami melakukan demo,” terangnya.

Tarom melanjutkan bahwa ada dua tuntutan dan harapan dari para suporter kepada manajemen. Pertama adalah evaluasi di jajaran manajemen. Tarom menuturkan bahwa evaluasi tidak musti merombak orang-orang dalam manajemen tim. Cukup evaluasi kinerja agar cara kerja bisa berubah. Namun ia juga tidak masalah bila pada akhirnya ada perombakan di jajaran manajemen tim.

“Kemudian, kami juga berharap agar manajemen bisa mengusahakan kita keluar dari jurang dari degradasi. Kita lihat kemarin ada hampir 10 pemain keluar yang masuk hanya beberapa saja. Ini kan riskan dengan pemain pas-pasan di kompetisi. Takutnya kalau ada pemain yang kena akumulasi atau cedera kan repot karena skuat pas-pasan,” katanya.

Sebelumnya tersiar kabar bahwa Ultras Gresik akan terus melakukan aksi boikot bila tuntutan mereka tak juga dituruti manajemen. Namun Tarom mengonfirmasi bahwa semua dikembalikan lagi kepada rekan-rekan suporter lainnya untuk melakukan tindakan lebih lanjut.

“Kalau kami, mengembalikan kepada teman-teman suporter Gresik lainnya. Tapi untuk sekarang ini kami fokuskan dulu untuk membantu pemain. Kalau untuk hasil, kami sebenarnya sudah tidak terlalu memikirkan. Sebab melihat situasi saat ini rasanya sulit bagi kami keluar dari jurang degradasi,” tukasnya.

Foto: Gresiknews, Giras id, Jawapos

Komentar