Persebaya vs Persik, Memori Kelam Persebaya Surabaya

Cerita

by Sandy Firdaus 123855

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Persebaya vs Persik, Memori Kelam Persebaya Surabaya

Dadi sudah tidak sabar menantikan tanggal 17 Juni 2017. Pada tanggal tersebut akan diadakan pertandingan yang mempertemukan antara Persebaya melawan Persik Kediri. Pertandingan ini sendiri bertajuk Anniversary Game, karena ajang Liga 2 2017 sendiri sedang dalam masa libur Ramadan.

Sebagai salah seorang pendukung Persebaya, Dadi pun sudah memastikan diri untuk hadir dalam laga tersebut. Tiket pertandingan sudah Dadi beli di tempat yang ditunjuk oleh manajemen Persebaya sebagai tempat penjualan tiket laga bertajuk Anniversary Game tersebut. Tiket sudah dikantongi, Dadi tinggal menunggu tanggal 17 Juni untuk datang ke stadion.

Bukannya tanpa alasan jika ia begitu bersemangat dengan laga ini. Mungkin memang yang bukan pendukung kedua kesebelasan, ini sekadar uji tanding biasa. Tapi untuk para Bonek dan Persikmania, ini bukan sekadar laga biasa. Ada cerita getir di balik pertandingan dua klub ini yang sejak 2010, belum pernah kembali bertemu.

Laga WO yang Cukup Aneh dan Kontroversial

Ketika itu tanggal 29 April 2010. Dalam jadwal Liga Super Indonesia (saat itu liga masih bernama Liga Super Indonesia) tertera nama Persebaya Surabaya dan Persik Kediri yang dijadwalkan berjumpa di Stadion Brawijaya, Kediri. Laga ini bisa dibilang super penting karena bagi Persebaya dan Persik, laga ini tak ubahnya laga hidup mati.

Baik itu Persebaya dan Persik butuh untuk memenangkan laga ini agar dapat masuk ke zona play-off promosi-degradasi. Kedua tim punya peluang untuk menggeser posisi Pelita Jaya. Klub yang dimiliki oleh keluarga Bakrie saat itu duduk di peringkat ke-15, posisi zona play-off. Persik harus menang minimal 5-0. Persebaya harus menang dengan skor 3-0. Pelita Jaya menanti hasil dari kedua tim tersebut.

Pada tanggal 29 April, laga gagal digelar di Kediri karena pihak Persik selaku tuan rumah gagal mendapatkan izin dari kepolisian untuk menyelenggarakan pertandingan. Pihak Persik diberikan kesempatan untuk memindahkan tempat pertandingan ke Yogyakarta. Nahas, laga yang dijadwalkan akan digelar di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta pada 6 Mei 2010 gagal digelar kembali. Kali ini pihak kepolisian Yogyakarta yang tidak memberikan izin.

Berdasarkan Manual Liga saat itu (pasal 26 ayat 6), ketika tim kandang gagal menggelar laga, hukumannya adalah kemenangan WO bagi tim tandang, sekaligus denda. Persebaya, yang ketika itu sudah datang ke Yogya, ditahbiskan oleh wasit menang WO dengan skor 3-0 atas tuan rumah Persik. Acara seremonial kemenangan WO Persebaya digelar oleh wasit saat itu.

Saat Persebaya berpikir bahwa mereka memenangkan pertandingan dan lolos ke zona play-off, sesuatu yang aneh terjadi. Pihak PT. Liga Indonesia selaku operator liga tidak memberikan kemenangan otomatis kepada tim Bajul Ijo. Sebaliknya, PT. Liga menerima pengajuan banding Persik dan memberikan kesempatan kepada Persik untuk menggelar laga kandang kembali di Kediri pada tanggal 5 Agustus 2010. Persik hanya didenda 25 juta oleh PSSI atas kegagalan mereka menyelenggarakan laga.

Kekesalan mulai muncul. Para Bonek yang merasa ada sesuatu yang janggal akhirnya mulai bergerak. Beberapa hari sebelum tanggal 5 Agustus, pesan singkat dan heroik tersebar melalui blackberry messenger dan media sosial. Isinya adalah: Kosongkan Surabaya, hijaukan Kediri. Bonek dari berbagai penjuru kota di Jawa Timur, tidak hanya Surabaya saja, mulai bergerak ke arah Kediri, ke Stadion Brawijaya. Mereka berniat melakukan protes karena pada dasarnya kemenangan sudah mutlak milik Persebaya.

Sesampainya di Kediri, Bonek malah kembali disuguhi sesuatu yang janggal. Stadion kosong. Pertandingan kembali gagal digelar karena izin dari kepolisian lagi-lagi tidak turun. Jika dirunut, sudah tiga kali (29 April, 7 Mei, dan 5 Agustus) pertandingan Persik lawan Persebaya kembali gagal digelar. PSSI mulai angkat bicara.

Diwakili oleh Sekjennya kala itu, Nugraha Besoes, PSSI mengungkapkan bahwa Manual Liga harus ditaati. Jika Manual Liga mengatakan bahwa Persik harus dihukum karena gagal menggelar laga kandang, hal itu harus dilakukan oleh PT. Liga selaku operator liga.

"Kalau memang gagal, saya serahkan sepenuhnya kepada PT. Liga selaku pengelola kompetisi untuk menjalankan aturan. Kalau di Manual Liga dinyatakan kalah, ya kalah. Aturan itu harus ditaati. Saya belum tahu bagaimana hitungannya dari Liga, apa mungkin dilakukan penjadwalan ulang," ujar Besoes pada 5 Agustus 2010.

"Tapi, saya rasa itu hal yang sulit dilakukan karena mau bulan puasa dan musim kompetisi baru mau dimulai. Kalau memang tidak mungkin, ya, hukum saja," tambahnya.

Namun pendapat beda malah diutarakan oleh Presiden Direktur PT. Liga Indonesia kala itu, Andi Darussalam Tabusalla. Ia malah mengungkapkan bahwa laga Persebaya lawan Persik akan kembali dijadwal ulang, dan keluarlah 8 Agustus 2010 sebagai tanggal baru penyelenggaraan laga Persebaya lawan Persik. Tempatnya pun sudah ditentukan, yakni di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang.

Kali ini, pihak Persebaya yang sudah merasa lelah. Tiga kali kegagalan, dengan segala kontroversi di dalamnya membuat Bajul Ijo kesal. Akhirnya mereka memutuskan tidak datang ke Palembang, dan harus dihukum WO oleh PT. Liga. Persebaya kalah 0-3, dan mereka gagal menyalip Pelita Jaya. Persik pun gagal naik peringkat, karena mereka kalah selisih gol dari Pelita Jaya walau punya poin yang sama. Pelita Jaya? Tetap bertahan di LSI setelah menang babak play-off lawan Persiram Raja Ampat.

"Kami sudah lelah didzalimi," ujar manajer Persebaya saat itu, Gede Widiade. Persik dan Persebaya pun belum kembali bersua dalam kompetisi resmi saat itu (saat laga di Palembang pun keduanya tidak bertemu)

bersambung ke halaman selanjutnya

Komentar