Kejutan Maccabi Tel Aviv, Politik, dan Dua Tal Ben Haim

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Kejutan Maccabi Tel Aviv, Politik, dan Dua Tal Ben Haim

Usai sudah penantian kita menuju babak final Liga Champions UEFA. Setelah pertandingan dini hari tadi (27/08/2015), total ada 20 kesebelasan yang mendapatkan 10 jatah sisa untuk berlaga di babak grup (32 besar) liga paling prestise di Benua Eropa tersebut.

Pada pertandingan babak play-off yang berlangsung dua hari ini, 10 kesebelasan sudah memastikan diri lolos. Mereka adalah GNK Dinamo Zagreb (Kroasia), Malmö FF (Swedia), Maccabi Tel Aviv FC (Israel), FC Shakhtar Donetsk (Ukraina), dan Valencia CF (Spanyol), FC Astana (Kazakhstan), BATE Borisov (Belarusia), Bayer 04 Leverkusen (Jerman), Manchester United (Inggris), dan PFC CSKA Moscow (Rusia). Sementara 10 kesebelasan lainnya yang tersingkir, terlempar ke Liga Europa UEFA.

Mimpi juara Liga Albania, KF Skënderbeu Korçë, untuk menjadi kesebelasan kejutan yang berlaga di babak final harus kandas setelah dikalahkan Dinamo Zagreb dengan agregat 6-2. AS Monaco FC juga gagal melaju meskipun berhasil menang atas Valencia 2-1 di kandang mereka sendiri, karena pada leg pertama mereka kalah 3-1 di Mestalla, Valencia.

Kejutan lainnya terjadi di Swedbank Stadion di Kota Malmö. Celtic yang sudah mengantongi keunggulan (yang memang rentan) 3-2 di leg pertama, harus kalah 2-0 melalui gol Markus Rosenberg dan gol bunuh diri mantan bek Manchester City, Dedryck Boyata.

SS Lazio dan Sporting Clube de Portugal (Sporting Lisbon) juga menjadi dua kesebelasan yang harus terlempar ke Liga Europa. Lazio disingkirkan Leverkusen dengan agregat 3-1, sementara SPorting disingkirkan CSKA dengan skor agregat 4-3.

Ada sebuah kesebelasan yang paling mengejutkan, yaitu juara Kazakhstan, FC Astana, yang mampu menjadi kesebelasan yang terletak paling timur yang lolos ke babak final Liga Champions. Kesebelasan berjuluk Si Biru dan Kuning ini berhasil mencetak sejarah tersebut dengan menyingkirkan APOEL FC dari Nicosia, Siprus, dengan agregat 2-1. Mungkin kami akan membahas juga mengenai Astana pada kesempatan lain, tapi pada kesempatan ini, kami akan membahas kesebelasan yang satu ini yang juga mengejutkan.

Pada kenyataanya, dari 10 pertandingan play-off, ada satu pertandingan yang bisa dibilang cukup mengejutkan, yaitu Maccabi Tel Aviv yang berhasil menyingkirkan FC Basel, sang juara Swiss. Setelah 11 tahun absen dari Liga Champions, Maccabi berhasil kembali ke pentas tertinggi di benua biru.

Eran Zahavi, pahlawan Maccabi Tel Aviv

Kesebelasan juara Liga Primer Israel, Maccabi Tel Aviv, yang bermodalkan skor 2-2 di pertandingan leg pertama di St Jakob Park, kandang Basel, sempat tertinggal di menit ke-11 melalui gol dari Luca Zuffi.

Tapi, beruntung bagi Maccabi karena kapten mereka, Eran Zahavi, berhasil menyamakan kedudukan di menit ke-24. Skor 1-1 pun bertahan sampai pertandingan usai, Maccabi berhasil lolos melalui aturan gol tandang.

Hasil ini cukup mengejutkan mengingat Basel adalah kesebelasan yang berhasil lolos ke babak 16 besar Liga Champions musim lalu setelah mereka lolos dari “grup neraka” yang dihuni oleh Real Madrid CF dan Liverpool.

Selain itu, hasil dini hari tadi juga bisa dibilang merupakan keberhasilan balas dendam Maccabi yang pernah disingkirkan Basel dua kali di musim 2013/14 atau dua musim yang lalu. Lho, bagaimana bisa mereka disingkirkan dua kali dalam satu musim?

Pertama, di kualifikasi babak ke-3 (third round) Liga Champions, Basel berhasil menyingkirkan Maccabi. Basel kemudian lolos ke babak selanjutnya yaitu babak play-off, sementara Maccabi tersingkir ke Liga Europa.

Kedua, di babak knock-out 32 besar Liga Europa, kedua kesebelasan ini kembali bertemu. Basel menduduki peringkat ke-3 di babak grup Liga Champions sehingga harus tersingkir ke Liga Europa. Pada pertandingan Liga Europa itu pun Maccabi kembali harus tersingkir.

Perjalanan Maccabi menuju babak final Liga Champions bisa dikatakan selalu menemui hambatan. Kesebelasan berjuluk The Yellows ini memulai perjalanan Liga Champions mereka dari kualifikasi babak ke dua dengan kekalahan 2-1 dari Hibernians FC, juara Malta (bukan Hibernian yang dari Skotlandia).

Namun, pada leg 2 di Tel Aviv, mereka berhasil membalikkan keadaan dengan skor 5-1 (agregat 6-3). Dua gol Maccabi berhasil dicetak oleh Zahavi.

Begitupun pada kualifikasi babak ke tiga, mereka sempat kalah 2-1 di kandang mereka sendiri melawan FC Viktoria Plze? dari Republik Ceko, tapi kembali Zahavi berhasil mencetak dua gol di 15 menit terakhir di leg kedua yang berlangsung di Ceko. Maccabi pun menang 2-0 dan berhasil lolos ke play-off dengan agregat 3-2.

Pada pertandingan pekan lalu di Basel, mereka juga sempat tertingal 2-1 melalui gol Breel Embolo pada menit ke-88. Tapi dengan luar biasanya, lagi-lagi Zahavi berhasil menjadi pahlawan dengan gol di menit ke-6 injury time.

Sampai dini hari tadi, Eran Zahavi sudah menjadi pahlawan bagi Maccabi sekaligus memantapkan dirinya sebagai top skor di babak kualifikasi dengan 7 gol dari 450 menit total ia bermain.

Pelatih Maccabi, Slaviša Jokanovi?, juga sangat memuji kaptennya tersebut. “Ia adalah pemain terbaik di Israel saat ini. Ia sedang dalam performa yang mengagumkan, saya tahu Basel pasti akan terfokus pada dirinya, tapi dia mampu melakukannya [mencetak gol] lagi,” ujar mantan pelatih Watford seperti yang kami kutip dari situs resmi UEFA.

General manager Macabi yang merupakan anak dari Johan Cruyff, yaitu Jordi Cruyff, juga memuji pemain berusia 28 tahun ini: “Saya pikir ia adalah salah satu perekrutan terbaik sepanjang sejarah Maccabi Tel Aviv. Ia adalah penentu kemenangan. Ia juga merupakan pemain yang bertipikal sebagai pemimpin.”

Hubungan antara sepakbola dan politik di Israel

Untuk memahami posisi sepakbola di Israel, kita tidak akan bisa jauh dari politik. Ketika kesebelasan Zionis pertama didirikan, itu bahkan masih 20 tahun sebelum berdirinya Israel. Pada saat itu sepakbola dijadikan alat politik.

Sampai hari ini, banyak kesebelasan di divisi teratas (Liga Primer Israel) membawa ideologi dan kepentingan politik. Misalnya saja kesebelasan bernama Hapoel membawa paham sosialis yang direpresentasikan oleh partai buruh Israel.

Ada total 14 kesebelasan bernama Hapoel yang pernah berlaga di Liga Primer Israel. Musim ini ada 6 yaitu Hapoel Tel Aviv, Hapoel Kfar Saba, Hapoel Be’er Sheva, Hapoel Ra’anana, Hapoel Ironi Acre, dan Hapoel Haifa.

Kemudian juga ada kesebelasan yang memiliki nama Beitar yang merupakan bagian dari sayap kanan partai Herut dan Likud yang nasionalis. Contohnya adalah Beitar Jerusalem yang sampai saat ini tidak mau menurunkan pemain berdarah Arab, pendukung mereka juga senantiasa menyanikan chant anti-Arab.

Sedangkan Maccabi, seperti Maccabi Tel Aviv, memiliki hubungan dengan gerakan liberal Zionis, yang kemudian bersatu dengan Herut. Ada 7 kesebelasan bernama Maccabi yang pernah berlaga di Liga Primer, empat di antaranya ada di Liga Primer musim ini, yaitu Maccabi Tel Aviv, Maccabi Haifa, Maccabi Petah Tikva, dan Maccabi Netanya.

Iddo Nevo, seorang ilmuwan politik yang sudah lama mempelajari hubungan antara sepakbola dengan politik di Israel, menjelaskan: “Banyak orang yang berhubungan dan tergantung dengan gerakan politik: koran mereka, layanan kesehatan mereka, perumahan mereka, dan juga kesebelasan sepakbola mereka. Jika Anda adalah bagian dari gerakan Buruh, kesebelasan Anda pasti Hapoel.”

Ini juga berlaku untuk pemain. “Jika Anda bermain untuk Hapoel Tel Aviv [dan ingin pindah kesebelasan], Anda bisa pindah ke Hapoel Haifa atau Hapoel Jerusalem – tapi jangan ke Beitar Jerusalem.”

Arti nama Maccabi sendiri –Maccabees, ‘Mereka yang bersama (para) Tuhan’, yang juga menjadi nama pasukan pemberontak Yahudi– membentuk bagian terpenting dari karakter kesebelasan. Logo Bintang Daud (atau the Star of David) merepresentasikan orang Yahudi. Semangat Maccabees ini berdasar kepada nilai baik, loyalitas, dan kemauan untuk sukses.

Maccabi Tel Aviv sudah menjuarai paling banyak gelar di Israel, yaitu 21 gelar juara liga, dan bahkan sempat merajai Asia (saat Israel masih bagian dari AFC, belum bergabung dengan UEFA) dengan dua gelar Liga Champions AFC.

The Yellows juga menjadi satu-satunya kesebelasan Israel yang belum pernah terdegradasi dan menjadi salah satu dari tiga kesebelasan asal Israel yang pernah berlaga di babak final (paling jauh hanya sampai babak grup) Liga Champions. Jadi, lolosnya kembali mereka ke Liga Champions tentunya semakin memperkuat status kedigdayaan mereka di Israel.

Kisah dua pemain bernama Tal Ben Haim

Ada yang unik dari Maccabi Tel Aviv di musim ini, yaitu dua pemain mereka yang bernama Tal Ben Haim. Tapi, pada awal tahun ini, sebelum musim yang baru ini bergulir, kejadian serupa juga sempat muncul di pertandingan internasional di babak kualifikasi Euro saat kesebelasan negara Israel menghadapi Wales.

Dua Tal Ben Haim

Pada gambar di atas, terlihat bahwa terdapat ‘Tal Ben Haim I’ dan ‘Tal Ben Haim II’, padahal kedua pemain di atas sama-sama bernama ‘Tal Ben Haim’ tanpa ada ‘I’ ataupun ‘II’ di akte kelahiran mereka.

Siapakah dua Tal Ben Haim ini? Apakah mereka memiliki hubungan darah? Atau jangan-jangan mereka adalah ayah dan anak, seperti Guðjohnsen senior dan junior yang hampir bermain bersama.

Tal Ben Haim yang pertama pastinya kita sudah tahu, ia adalah seorang bek yang sudah berusia 33 tahun yang pernah membela Bolton Wanderers, Chelsea, Manchester City, Sunderland, Portsmouth, West Ham United, Queens Park Rangers, Standard Liége, dan juga Charlton Athletic.

Ben Haim tua ini baru bergabung dengan Maccabi di awal musim ini. Pada gambar paling atas, Ben Haim yang satu ini adalah ia yang berada lebih di depan dan bernomor 26.

Sedangkan Ben Haim yang satu lagi masih berusia 26 tahun dan berposisi sebagai pemain sayap. Pada gambar paling atas, Ben Haim muda ini yang berada di sebelah kanan, ia bernomor punggung 11 (nomornya tidak terlihat pada gambar).

Kesamaan nama dua pemain ini membuat UEFA memberikan atribut ‘I’ dan ‘II’ pada akhiran nama mereka, dengan Ben Haim muda diberi atribut ‘II’ alias namanya menjadi ‘Tal Ben Haim II’. UEFA juga pernah menulis nama Ben Haim muda dengan ‘Tal Ben Haim junior’ di situs mereka.

Sedangkan di Maccabi sekarang, selain perbedaan nomor punggung (pastinya), nama punggung mereka juga dibedakan dengan Ben Haim muda menggunakan nama ‘Ben Chaim’ di punggungnya.

Hal ini dilakukan agar mereka tidak tertukar. Maklum saja, karena kedua pemain di atas sama-sama botak. Ada-ada saja memang.

Pada akhirnya aksi Maccabi Tel Aviv, kapten Ehran Zahavi, aroma politik yang kental, dan dua Tal Ben Haim yang unik bisa kita saksikan di Liga Champions UEFA musim ini. Setelah pertandingan play-off dini hari tadi, pengundian grup (32 besar) Liga Champions akan dilangsungkan Jumat besok waktu Indonesia (28/08/2015) di Monaco, dengan pembagian pot seperti di bawah ini.

Seeding pot Liga Champions 2015/16 (sumber: wikipedia.org)
Seeding pot Liga Champions 2015/16 (sumber: wikipedia.org)

Sumber: The Daily Mail, FT Magazine, UEFA, Troll Football, The Telegraph, FourFourTwo, Jewish News, Sports Rabbi

Komentar