Indikasi Kekacauan di Tubuh Dortmund

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penyunting dan penulis. Penanggung jawab rubrik Cerita, PanditSharing, dan Backpass.

Indikasi Kekacauan di Tubuh Dortmund

Keberhasilan Schalke 04 merekrut Johannes Geis dari FSV Mainz 05 secara tidak langsung menjadi indikasi bahwa masa depan Borussia Dortmund bersama Thomas Tuchel tidak semanis prediksi. Musim depan, bukan tak mungkin Schalke lebih berprestasi.

Johannes Geis membela tiga kesebelasan – TSV Oberstreu, TSV Mittelstreu, dan TSV Großbardorf – sebelum bergabung dengan akademi SpVgg Greuther Fürth pada 2008; kesebelasan yang memberinya kesempatan mewujudkan impian sebagai pemain profesional. Dua tahun saja Geis membela kesebelasan muda sebelum naik kelas ke kesebelasan utama.

Greuther Fürth, yang lolos ke divisi pertama Bundesliga pada musim 2012/13, membuat nama Geis semakin dikenal sebagai gelandang bertahan muda yang memiliki masa depan cerah. Saat kesebelasan menderita degradasi di akhir musim, Geis tinggal. FSV Mainz 05 dengan senang hati menampungnya sejak musim 2013/14. Kini, dua tahun setelah meninggalkan Greuther Fürth untuk Mainz, Geis bergabung dengan Schalke 04.

“Kami senang karena salah satu pemain muda paling laris telah memilih untuk bergabung dengan kesebelasan kami,” ujar Horst Heldt, direktur olahraga Schalke. “Johannes memiliki banyak kemampuan hebat; eksekusi bola matinya yang berbahaya, permainan umpan-mengumpan, dan kemampuannya untuk menemukan celah membuatnya menjadi salah satu gelandang tengah terbaik Bundesliga. Fakta bahwa ia sudah menjadi kapten di Mainz di usia yang masih sangat muda menunjukkan bahwa ia dapat dan mau mengemban tanggung jawab.”

Geis sendiri tampak sama puasnya dengan Heldt atas tercapainya kesepakatan ini. “Schalke memikat saya; stadionnya, pendukungnya – bermain di Arena (auf Schalke) adalah sesuatu yang istimewa,” ujar pemain berusia 21 tahun ini. “Aku ingin menyingsingkan lengan baju dan bekerja keras. Lebih dari itu, pembicaraan dengan Horst Heldt dan André Breitenreiter sangat positif. Ini dapat menjadi awal sesuatu yang baru di Schalke dan aku ingin menjadi bagian darinya.”

Komentar Geis mengenai potensi Schalke di bawah kepemimpinan Breitenreiter serupa dengan Benedikt Höwedes. Itu artinya, memang benar-benar ada sesuatu yang menjanjikan bagi Schalke di masa depan. Lebih jauh lagi, secara tidak langsung keputusan Geis untuk memilih Schalke dan menolak Borussia Dortmund menjadi indikasi bahwa masa depan Dortmund bersama Thomas Tuchel tidak secerah kelihatannya.

Kegemilangan Dortmund di bawah asuhan Jürgen Klopp membuat Schalke selalu mengakhiri musim sebagai kesebelasan yang lebih buruk di antara kedua peserta Revierderby. Sementara dalam lima musim terakhir Schalke hanya mampu meraih satu gelar DFB-Pokal, Dortmund berhasil menjuarai Bundesliga dan DFB-Pokal masing-masing sebanyak dua dan satu kali. Belum lagi, Dortmund berhasil mencapai final Champions League 2013. Dortmund meredup musim ini, namun Schalke sendiri bukannya lebih baik.

Tidak relevan di mana kedua kesebelasan berada di akhir putaran pertama. Menghabiskan jeda musim dingin di zona degradasi tidak serta merta membuat Dortmund lebih buruk dari Schalke. Mengakhiri musim di peringkat yang lebih tinggi pun tidak membuat Schalke lebih baik dari Dortmund. Walau berada satu posisi lebih baik dari Dortmund di peringkat keenam, Schalke tidak memiliki peluang lolos langsung ke fase grup Europa League seperti Dortmund. Namun Dortmund mengacaukan peluang mereka sendiri.

Mengakhiri musim di peringkat ketujuh, Dortmund bisa saja lolos langsung ke fase grup Europa League sebagai pemenang DFB-Pokal. Sialnya, Dortmund yang sudah jauh lebih berpengalaman kalah dari VfL Wolfsburg yang baru satu kali mencapai final kejuaraan ini. Tiket lolos otomatis ke fase grup Europa League pun jatuh ke tangan Schalke.

Tak apa. Setidaknya Dortmund berpisah dengan pelatih mereka secara baik-baik dan langsung mendapatkan pengganti menjanjikan. Berbeda dengan Schalke yang mendepak Roberto Di Matteo dan baru mendapat pelatih kepala baru belum lama ini. Masa depan Dortmund bersama Tuchel cerah, sementara Breitenreiter masih diragukan. Namun benarkah?

Awalnya, Dortmund berada di posisi terdepan dalam perburuan Geis. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah keberadaan Tuchel, pelatih kepala yang membawa Geis ke Mainz. Namun alih-alih kembali bekerja sama dengan Tuchel yang terkenal kaya taktik dan mampu menjanjikan kejayaan kepada Dortmund, Geis lebih memilih Schalke.

Keputusan Geis untuk lebih mempercayai orang baru menjadi indikasi bahwa di Schalke, ada yang lebih menarik daripada bersama Dortmund. Pergerakan Schalke di bursa transfer cukup menjanjikan sementara Dortmund di ambang eksodus pemain. Jika kondisinya begini terus, jangan heran jika di akhir musim 2014/15 nanti Schalke kembali melihat ke bawah untuk memeriksa keadaan Dortmund.

Komentar