Keabadian Superclassico

Cerita

by Abimanyu Bimantoro Pilihan

Abimanyu Bimantoro

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Keabadian Superclassico

Editor majalah World Soccer, Gavin Hamilton, mengatakan bahwa pertandingan derby terkenal yang berasa dari kota Glasgow, antara Celtic melawan Rangers hanyalah sebuah pertandingan antar anak SMA. Derby yang dikenal dengan sebutan "Old Firm Derby " ini dianggap begitu rendah karena Gavin membandingkannya dengan pertandingan Boca Juniors vs River Plate. Menurutnya, pertandingan antar dua tim yang berasa dari Buenos Aires ini merupakan pertandingan paling luar biasa di dunia.

Pertandingan ini mungkin tidak akan seheboh laga "El Classico" antara Real Madrid vs Barcelona, atau derby kota Manchester antara Manchester United vs Manchester City. Namun, jika melihat kondisi laga ini lebih dalam, mungkin Anda akan merinding dan merasakan kengerian dari derbi yang mendapat julukan "Superclassico" ini. "Superclassico" sudah berlangsung sebanyak 236 kali pada pertandingan resmi di semua kompetisi. Dari keseluruhan pertandingan tersebut, 84 kali dimenangkan oleh Boca Juniors, 77 kali dimenangkan oleh River Plate, dan 75 kali berakhir imbang. Total 602 gol tercipta pada pertandingan kedua tim sejak pertama kali digelar pada 1913.

Oktober lalu, kedua kesebelasan harus bermain imbang dengan skor 1-1 setelah pemain Boca Juniors, Pezella, menyamakan kedudukan pada menit ke 78. Dan 3 Mei 2015 malam waktu Argentina, Superclassico akan digelar untuk yang ke 237 kali.

Ada banyak alasan yang membuat pertandingan ini menjadi sangat luar biasa. Salah satunya adalah basis pendukung kedua kesebelasan yang hampir menguasai seluruh wilayah Argentina. Menurut hasil survey, ¾ dari seluruh warga Argentina adalah pendukung Boca Juniors dan River Plate. Tercatat bahwa 40,4% dari keseluruhan warga Argentina adalah pendukung Boca Juniors sedangkan 32,6% adalah pendukung River Plate. Sisanya, baru merupakan pendukung klub-klub lain di Argentina.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan negara Argentina akan menjadi sangat mencekam saat kedua kesebelasan bertanding. Aktivitas masyarakat tentu akan langsung terganggu akibat perhatian mayoritas penduduk akan langsung tertuju pada pertandingan ini. Markas kedua kesebelasan, La Bombonera atau El Monumental, dapat dipastikan dipenuhi oleh para pendukung kedua kesebelasan. Bahkan, pada 19 Januari 2013 lalu, saat pertandingan digelar di tempat netral, Stadion Mar De Plata, antrian pengunjung sampai 1,5 kilometer.

Selain masalah jumlah pendukung yang hampir menguasai seluruh Argentina, latar belakang kedua kelompok suporter ini juga membuat suasana semakin panas. River Plate adalah klub yang berasal dari daerah Nunez. Daerah ini merupakan pusat kawasan elit di mana terdapat banyak apartemen mewah dan universitas sehingga mayoritas penduduknya adalah kaum elit dan terpelajar. Banyak orang-orang terkenal Argentina yang berasal dari wilayah ini. River Plate bahkan mendapatkan julukan Los Millonarios akibat hal ini. Saat final Copa Sundamericana fans River melakukan hal yang fantastis.

Sedangkan Boca Juniors berasal dari La Boca yang merupakan area pelabuhan. Mayoritas penduduk di wilayah ini adalah kelas pekerja. Selain itu, banyak juga penduduk daerah ini yang merupakan kaum pendatang dari Genoa, Italia. Karena itulah tidak sedikit pendukung Boca Juniors yang berbicara menggunakan bahasa Italia dalam percakapan sehari-hari. Lagi-lagi kondisi ini sangat berbeda denga pendukung River Plate yang menggunakan bahasa resmi negara Argentina, Bahasa Spanyol.

Kekerasan pun seringkali tidak terhindarkan pada derby super panas ini. Beberapa pertandingan bahkan sampai membuat kondisi yang tidak terkendali seperti yang terjadi pada tahun 1986. Ketika itu, 71 pendukung Boca Juniors tewas dan 150 lainnya luka-luka akibat kerusuhan yang terjadi di tribun sektor 12 stadion El Monumental. Bahkan, seorang ibu dipukuli di depan anaknya karena menggunakan jersey River Plate oleh suporter Boca. Selain saat pertandingan, pihak keamanan sempat dibuat kerepotan saat kedua suporter turun ke jalan ketika River Plate terdegradasi pada 2011.

Boca Juniors dan River Plate sudah seperti menjadi agama baru bagi mayoritas penduduk Argentina. Menjadi pendukung salah satu klub ini sudah menyatu dalam darah dan daging mereka. Maka tidak jarang hal ini pun diturunkan dari orang tua ke anak. Hal inilah yang membuat persaingan ini menjadi abadi hingga saat ini.

Komentar