Cara Klub Bundesliga Bisa Eksis Tanpa Utang

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Cara Klub Bundesliga Bisa Eksis Tanpa Utang

Kemeriahan kota Berlin pecah kala para penggawa tim nasional Jerman memamerkan trofi Piala Dunia di depan ribuan pendukungnya akhir Juni lalu. Tak hanya para suporter ‘Die Mannschaft’, para pemain termasuk pelatih Joachim Loew pun ikut larut dalam kegembiraan dengan koreo yang mereka tampilkan di atas panggung.

Penampilan gemilang Jerman pada Piala Dunia Brasil memang patut mereka rayakan serta banggakan. Keberhasilan Der Panzer meraih trofi juara dunia itu merupakan puncak dari keberhasilan mereka yang telah sukses merevolusi sepakbolanya, di mana mereka sempat terpuruk pada awal 2000an.

Atas prestasi tersebut, seluruh dunia pasti iri. Belum lagi kesuksesan mereka berbanding lurus dengan berkembangnya Bundesliga menjadi salah satu liga terbaik dunia, di mana setiap musimnya selalu mengalami peningkatan baik dari segi popularitas maupun finansial.

Lalu bagaimana Jerman bisa melakukan itu? Dalam beberapa artikel sebelumnya kami telah menjelaskan bagaimana sepakbola Jerman bangkit melalui peningkatan kualitas dan infrastruktur pada setiap akademi klub-klub Bundesliga dan Bundesliga 2. Maka kali ini, kami akan mencoba menjelaskan bagaimana keberhasilan Bundesliga mengelola finansial mereka sehingga memiliki fondasi yang kokoh untuk membangun sebuah kekuatan sepakbola.

Peraturan Financial Fair Play Mandiri

Sebuah investigasi UEFA pada 2010 menyatakan bahwa 650 klub di Eropa selalu mengalami kerugian setiap tahunnya. Bahkan 20% dari mereka mengalami tingkat kerugian yang cukup fantastis akibat dari menggunakan 120% dari pendapatan untuk anggaran belanja, baik untuk pembelian pemain maupun membayar gaji pemain.

Liga Inggris yang memiliki pendapatan liga terbesar di dunia pun menjadi ‘korban’ dari keganasan industrialisasi sepakbola ini. 16 dari 20 klub Premier League pada 2010 dikabarkan selalu mengalami kerugian.

Tren klub-klub yang jor-joran untuk mendatangkan pemain berkualitas memang membuat kebanyakan klub-klub Eropa saling mengalahkan dalam kegiatan transfer tanpa memikirkan kondisi keuangan mereka. Karena itulah UEFA kemudian memberlakukan Financial Fair Play (FFP), di mana setiap tim memiliki batasan-batasan tertentu dalam menggunakan anggaran belanja.

Sejak saat itu, banyak klub-klub Eropa yang mulai berhati-hati dalam menggunakan anggaran belanja. Karena jika kerugian yang dialami sebuah tim melewati batas maksimal FFP, maka tim tersebut akan mendapatkan hukuman (sanksi biasanya berupa larangan tranasfer).

Namun nyatanya itu tak terlalu berpengaruh pada sepakbola Jerman. Karena sejak awal, Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB) telah memiliki peraturan FFP tersendiri khusus untuk klub-klub peserta Bundesliga dan Bundesliga 2.

Setiap klub peserta Bundesliga baik yang bermain divisi satu atau pun dua, diwajibkan memiliki kondisi keuangan yang seimbang untuk mendapatkan lisensi sebagai tanda bukti sah mengikuti Bundesliga. Peraturan ini menjadikan setiap tim mau tak mau harus bebas dari utang pada neraca keuangan mereka.

Peraturan ini dilakukan agar kejadian yang dialami Borussia Dortmund pada 2003 tak kembali terulang. Saat itu, Dortmund diambang kebangkrutan karena melakukan beberapa transfer yang cukup mahal namun gagal menghadirkan prestasi. Hal itu berdampak pada pendapatan mereka dari hak siar dan beberapa bisnis lain yang tak cukup untuk menghadirkan keuntungan.

Maka tak heran setelah FFP Bundesliga diberlakukan, tim-tim sarat prestasi-lah yang lebih aktif dalam bursa transfer. Untungnya mereka memiliki akademi yang cukup bisa memasok pemain muda bertalenta untuk bermain di skuat utama, setidaknya itu bisa menghemat setiap tim untuk tak melakukan pembelian pemain berkualitas dengan harga tinggi.

Banyak ahli yang mengatakan bahwa pemberlakuan FFP di Bundesliga ini menjadi tonggak awal di mana terbangunnya kekuatan Bundesliga karena memiliki peranan penting pada keberlangsungan tim-tim Bundesliga itu sendiri. Karena FFP ini, pendapatan Bundesliga pun semakin meraup untung besar karena sistem liga yang berjalan baik sehingga memiliki daya jual tinggi.

bundes

Berdasarkan tabel di atas, Bundesliga berhasil meningkatkan pendapatan mereka sebanyak dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Jumlah tersebut merupakan pendapatan tertinggi kedua di Eropa, hanya kalah oleh Premier League.

Luar biasanya, pendapatan tinggi itu diraih dengan harga hak siar yang lebih rendah dari liga-liga top Eropa lainnya.  Belum lagi dengan  total gaji pemain Bundesliga yang berada diperingkat empat liga top Eropa, di mana jumlahnya itu merupakan setengah dari total jumlah gaji Premier League. Itu artinya, tim-tim di Bundesliga mampu menekan pengeluaran mereka dari anggaran gaji.

Ditambah lagi pada musim 2012/2013, rata-rata penonton Bundesliga yang hadir ke stadion lebih tinggi sekitar 6000 penonton dibanding Premier League. Premier League memilki rataan penonton sebesar 35.921, sementara Bundesliga berada di angka 41.914. Sementara liga top Eropa lainnya berada di bawah dua liga tersebut (La Liga = 28.249, Serie A = 23.300, dan Ligue 1 = 19.207).

Memang harga tiket pertandingan Bundesliga lebih murah dari liga Inggris (tanpa mengesampingkan La Liga dan Serie A), tapi fakta ini menunjukkan bahwa sepakbola Jerman memiliki keuntungan yang cukup besar meski harga tiket terbilang murah. Karena itulah tim-tim Bundesliga masih bisa terus bernafas sambil menghadirkan prestasi demi prestasi.

Selanjutnya: Peraturan 50+1

Komentar