Anfield Masih Terlalu Angker untuk Manchester City

Berita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball

Anfield Masih Terlalu Angker untuk Manchester City

Pil pahit ditelan Manchester City setelah takluk tiga gol tanpa balas dari Liverpool di leg pertama perempat final Liga Champions. Dalam pertandingan yang berlangsung di Anfield, Kamis (5/4) dini hari WIB itu Man City sejatinya tampil dominan. Bahkan merunut data statistik yang dilansir dari Whoscored, setidaknya The Citizens memiliki 66 persen penguasaan bola (Liverpool hanya 33 persen).

Statistik pertandingan memang berpihak kepada Man City, namun itu tak membantu mereka untuk memenangkan pertandingan. Sementara Liverpool yang tak terlalu dominan, keluar sebagai pemenang, karena kecerdasan mereka melancarkan serangan cepat nan mematikan yang membuat lini pertahanan Man City kocar-kacir.

Tak dimungkiri bahwa poros serangan Liverpool bertumpu di sektor sayap dengan mengandalkan kemampuan Sadio Mane (kiri) dan Mohamed Salah (kanan). Manajer Man City, Josep Pep Guardiola, sebenarnya sudah mengantisipasi hal tersebut dengan menerapkan skema empat bek dalam formasi 4-3-2-1. Aymeric Laporte (bek kiri) dan Kyle Walker (bek kanan) diberi tugas untuk mengawal ketat Mane dan Salah.

Laporte sejak awal pertandingan terlihat terus menempel ketat Salah hingga winger asal Mesir itu sempat dibuat kesulitan melakukan penetrasi ke jantung pertahanan Man City. Tapi, ketangguhan Laporte hanya bertahan selama 10 menit. Setelah itu, Salah malah menjadi mimpi buruk bagi bek Spanyol itu. Buktinya, dua dari tiga gol Liverpool tercipta melalui teritori Laporte.

Gol pertama Liverpool yang dicetak Salah pada menit ke-12 terjadi karena Laporte terlambat menutup pergerakan Salah saat Liverpool melancarkan serangan balik cepat. Salah yang dilepas tanpa pengawalan pun leluasa melakukan penetrasi dan pergerakan tanpa bola sebelum akhirnya menyontek bola hasil umpan pendek Roberto Firmino.

Sepuluh menit berselang, inferioritas lini pertahanan Man City mengantisipasi serangan sayap Liverpool pada transisi menyerang ke bertahan semakin terlihat. Bedanya, kali ini terjadi dari sektor kanan pertahanan The Citizens. Saat itu, pemain belakang Man City terpancing dengan pergerakan satu dua Mane dan Firmino.

Bola memang berhasil dibuang, tapi James Milner kemudian mampu menguasainya. Melihat celah kosong di area tengah, Milner mengirim umpan pendek kepada Chamberlain yang langsung mengeksekusi bola tersebut dengan sepakan keras dari luar kotak penalti.

Man City semakin terbenam setelah Mane mencetak gol di menit ke-30 yang berawal kesalahan Laporte dalam mengantisipasi pergerakan Salah di sisi kiri pertahanan Man City. Salah yang hanya mendapat pengawalan tanpa adanya gangguan dari Laporte punya keleluasaan untuk mengirim umpan silang yang langsung disambut Mane.

Man City bukannya tanpa upaya untuk mengejar ketertinggalan. Di babak pertama, mereka banyak kehilangan bola di area pertahanan sendiri berkutik karena gegenpressing yang diterapkan Liverpool. Kalau pun gegenpressing-nya gagal, Liverpool sigap membentuk pertahanan berlapis sejak area tengah lapangan. Hal tersebut, yang membuat Man City kesulitan menembus pertahanan Liverpool. Alhasil, mereka lebih banyak memainkan bola di area pertahanan sendiri.

Setelah turun minum, Liverpool menurunkan tempo permainan. Man City memanfaatkannya dengan terus mencecar pertahanan Liverpool. Tapi, tak ada kreativitas dari pola serangan City. Sektor kiri yang dihuni Sane terus dijadikan poros serangan. Tentu saja barisan belakang Liverpool jadi lebih mudah untuk mengantisipasinya.

Niat Man City dengan terus mencecar area kiri pertahanan Liverpool mungkin ingin mengeksploitasi Trent-Alexander Arnold yang menjadi titik lemah Liverpool saat dikalahkan Man United 1-2. Tapi, Arnold justru tampil cemerlang dengan terus mematahkan serangan City dari kiri. Tercatat pemain berusia 19 tahun itu melakukan 10 sapuan dan tujuh intersep untuk menggagalkan upaya serangan Man City.

Hingga akhir pertandingan, skor 3-0 untuk kemenangan Liverpool bertahan. Man City benar-benar dibuat kepayahan dengan permainan yang diterapkan Liverpool. Total ada 11 tembakan yang dilepaskan Man City, namun tidak ada satu pun yang tepat sasaran.

"Menghadapi situasi tertinggal di Anfield, Anda harus punya karakter kuat. Sepuluh menit terakhir di babak pertama dan pada babak kedua, kami bermain baik. Kami memang tak menciptakan banyak peluang, tapi Liverpool juga tak membuat peluang di babak kedua. Tapi, hasilnya sudah berbicara. Selamat untuk Liverpool," kata Guardiola dilansir dari halaman resmi klub.

***

Bagi Man City, kekalahan dari Liverpool di Anfield merupakan yang kedua sepanjang musim ini. Sebelumnya, Man City kalah 3-4 dari Liverpool di Anfield dalam lanjutan pertandingan Liga Primer Inggris pada Januari lalu. Kekalahan tersebut juga menandai terhentinya rekor tak terkalahkan Man City di kompetisi domestik.

Merunut catatan pertandingan Man City di Anfield, The Citizens memang selalu kepayahan saat tampil di markas Liverpool. Kali terakhir Man City menang atas Liverpool di Anfield adalah tahun 2003. Setelah itu, mereka tidak pernah lagi bisa meraih kemenangan di stadion berkapasitas 54,074 kursi itu.

Ketidakramahan Anfield benar-benar dirasakan Man City, bahkan sebelum mereka memulai pertandingan melawan Liverpool di leg pertama Liga Champions. Hujatan dan cacian suporter Liverpool mengiringi kedatangan bus pemain Man City saat melewati gerbang masuk stadion. Tak hanya makian, bus juga dilempari botol dan benda tumpul lainnya.

Setelah insiden itu, Liverpool langsung mengeluarkan pernyataan permintaan maaf kepada Man City. Manajer Liverpool, Jurgen Klopp juga turut menyesali tindakan anarkis yang dilakukan oleh oknum pendukung Liverpool.

"Saya benar-benar tidak mengerti. Kami mencoba segalanya untuk mencegah situasi seperti itu. Ketika kami datang melalui itu jelas sangat positif. Untuk Liverpool FC saya harus mengatakan maaf,” terang Klopp, dilansir dari BBC.

Foto: Twitter @LFCTV

Komentar