Stadion-stadion Arab Saudi Membuka Diri Kepada Perempuan

Berita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penyunting dan penulis. Penanggung jawab rubrik Cerita, PanditSharing, dan Backpass.

Stadion-stadion Arab Saudi Membuka Diri Kepada Perempuan

Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, menjadi saksi kejadian bersejarah kemarin (Jumat, 12/1). Untuk kali pertama, para perempuan Arab Saudi menyaksikan langsung pertandingan sepakbola di stadion.

Hari itu Al-Ahly menjamu Al-Batin dalam lanjutan Liga Pro Arab. Menjelang pertandingan, pihak klub lewat Twitter mendorong para perempuan untuk hadir.

Mengenakan abaya -- pakaian tradisional -- hitam dan syal klub, sembari mengibarkan bendera-bendera kecil, para perempuan yang hadir mendukung timnya dengan nyaring.

“Peristiwa ini menandakan bahwa kami bergerak ke arah masa depan yang sejahtera. Saya merasa sangat bangga bisa menjadi saksi perubahan besar ini,” ujar Lamya Khaled Nasser, dari Jeddah, kepada AFP.

Sementara itu Ruwaya Ali Qassem, juga dari Jeddah, berujar: ““Saya bangga dan sangat bahagia untuk perkembangan ini, dan terhadap langkah kerajaan untuk mengejar ketinggalan dari standar peradaban yang dianut oleh banyak negara.”

Para perempuan yang hadir masuk lewat pintu khusus keluarga dan duduk di tribun khusus keluarga. Tempat duduk para perempuan masih dipisahkan dari tempat duduk laki-laki.

Sepanjang berjalannya pertandingan ramai tagar yang dalam bahasa Indonesia berarti “masyarakat menyambut kehadiran para perempuan di stadion”.

Sabtu, Al-Ahly kembali menggelar pertandingan tandang dan para perempuan kembali diizinkan hadir. Kali ini, tamunya adalah Al-Ittihad, salah satu klub besar Arab Saudi dan saingan langsung Al-Ahly. Al-Ittihad menyambut pertandingan bersejarah tersebut dengan mengunggah foto perempuan dengan cat wajah warna klub.

Cuitan Al-Ittihad berbunyi: “Pendukung Ittihad, laki-laki dan perempuan, adalah dukungan untuk klub, dan keberhasilan tak akan lengkap tanpa kehadiran mereka untuk merayakan sejarah ini. Dengan kalian, yang terjadi akan lengkap.”

Pembukaan stadion kepada perempuan diumumkan oleh pemerintah Arab Saudi lewat badan olah raga negara pada Oktober 2017. Mengingat pemisahan laki-laki dan perempuan di ruang publik adalah norma di Arab Saudi, tak semua stadion langsung bisa membuka diri kepada para perempuan.

Untuk sementara, perempuan-perempuan Arab Saudi hanya bisa mengakses stadion di tiga kota: Riyadh, Jeddah, dan Dammam. Persiapan termasuk renovasi kecil untuk menyediakan ruang makan, kafe, dan tempat ibadah terpisah di stadion-stadion yang awalnya dikhususkan untuk laki-laki. Per awal musim depan, semua stadion Arab Saudi sudah harus siap menyambut perempuan.

Itu merupakan kabar baik bagi Ghadah Grrah, pendukung Al-Hilal. Pada 2014, Al-Hilal lolos ke final Liga Champions Asia dan bertindak sebagai tuan rumah di leg kedua pertandingan final. Para perempuan pendukung Western Sydney Wanderers diizinkan hadir di Stadion Internasional Raja Fahd yang berlokasi di Riyadh, namun Ghadah Grrah terpaksa menyaksikan pertandingan tersebut lewat televisi.

“Berat rasanya terpaksa menyaksikan timmu hanya lewat televisi, terutama jika pertandingan besar atau laga final, namun kini harapanku menjadi nyata,” ujarnya kepada The Guardian.

Seperti Al-Ahly, Al-Hilal juga bersaing langsung dengan Al-Ittihad. Bahwa ia akan dapat menyaksikan timnya menjamu klub saingan dalam sebuah momen bersejarah membuat Ghadah Grrah semakin bersemangat.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya menggambarkan perasaanku,” ujarnya. “Aku telah menantikan hal ini sejak aku menjadi pendukung pada 2010 dan rasanya sangat menyenangkan bisa menghadiri pertandingan tim favoritku di Arab Saudi. Aku sangat bersemangat.”

Kelonggaran-kelonggaran aturan ini diprakarsai oleh Putera Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. Arab Saudi adalah negara konservatif namun Pangeran Mohammed ingin mengembalikan negaranya ke “kita yang dulu -- negara Islam moderat yang toleran kepada semua agama dan kepada dunia.”

Demi menjadikan negaranya lebih moderat, Pangeran Mohammed memerintahkan pembaruan di bidang ekonomi dan sosial sebagai bagian dari rencana persiapan masa pasca-minyak yang akan dihadapi Arab Saudi.

Beberapa larangan yang sudah dicabut, selain larangan hadir di stadion bagi perempuan adalah larangan terhadap bioskop (demi mendorong industri hiburan Arab Saudi) dan larangan berkendara terhadap perempuan. Per Juni 2018, perempuan-perempuan Arab Saudi akan bebas berkendara tanpa melanggar hukum.

Walau demikian, perempuan-perempuan Arab Saudi masih harus meminta izin laki-laki keluarga -- ayah, suami, atau saudara -- untuk melakukan banyak hal. Di bawah sistem perwalian, para perempuan Arab Saudi tak bisa bersekolah, bepergian, atau membuka rekening bank tanpa seizin atau tanpa didampingi laki-laki.

Komentar