Arsenal Gemilang dalam 338 Detik

Analisis

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Arsenal Gemilang dalam 338 Detik

Arsenal, tuan rumah di pertandingan ini, tampak seperti sekumpulan bocah berseragam sama. Liverpool, sementara itu, tahu dan menguasai hal-hal yang harus mereka lakukan. Semua pemain begitu. Termasuk Philippe Coutinho, pencetak gol pembuka (di menit ke-26).

Umpan Sadio Mane kepada Coutinho, sebenarnya, tidak sempurna. Hadangan Laurent Koscielny membuat umpan datar Mane menjadi melambung. Coutinho, toh, berpikir cepat dan tepat. Ia melompat untuk menyambut bola. Bola yang melambung ia lambungkan kembali, ke tiang jauh, dengan kepalanya. Coutinho, pemain setinggi 1,71 meter, mengelabui Petr Cech yang tingginya 1,96 meter.

Bahwa Coutinho yang menjadi pencetak gol pembuka terasa tepat. Termasuk golnya ke gawang Arsenal tadi, Coutinho terlibat langsung atas 16 gol dalam 11 pertandingan tandang terakhir di semua ajang. Rinciannya: sembilan gol dan tujuh asis.

Babak pertama berakhir dengan kedudukan 0-1 untuk keunggulan Liverpool. Bagi para pendukung Arsenal, skor sementara bukan satu-satunya alasan keresahan. Tim mereka tampil begitu buruk sepanjang babak pertama. Statistik pertandingan mengonfirmasinya.

Dari 52,1 persen penguasaan bola, Arsenal hanya memproduksi empat tembakan. Dari keempat tembakan tersebut, tidak satu pun tepat sasaran. Jumlah tembakan tepat sasaran Liverpool saja sama banyak dengan total jumlah tembakan Arsenal.

Keputusan Arsene Wenger untuk menurunkan para pemainnya dalam formasi 4-3-3 terbukti tidak tepat. Permainan reaktif Liverpool mengundang Hector Bellerin dan Ainsley Maitland-Niles, bek sayap kanan dan kiri Arsenal, untuk naik jauh membantu serangan. Kedua sisi sayap pertahanan Arsenal berlubang karenanya.

Liverpool tidak sungkan. Keleluasaan ruang di kedua sisi sayap pertahanan Arsenal mereka manfaatkan semaksimal mungkin. Proses gol Coutinho tercipta dari pergerakan Salah di area yang menjadi tanggung jawab Maitland-Niles. Dan tidak hanya di area dekat garis tepi Liverpool menemukan keleluasaan ruang. Celah antara para bek tengah Arsenal dan penjaga gawangnya juga cukup lebar.

Liverpool berbahaya lewat serangan baliknya. Untuk melancarkan serangan balik, Liverpool (atau tim mana pun) membutuhkan ruang. Arsenal, alih-alih membatasi, malah menyediakannya.

Dominan Setelah Turun Minum

Kekosongan di kedua sisi pertahanan dan tingginya garis pertahanan Arsenal diperparah satu hal: para gelandang tak memberi cukup perlindungan kepada lini belakang.

Dua dari tiga gelandang Arsenal adalah gelandang yang sangat berkarakter menyerang: Mesut Ozil dan Jack Wilshere. Satu lainnya, Granit Xhaka, tak benar-benar memenuhi kriteria gelandang bertahan. Ketika Liverpool menggandakan keunggulan di menit ke-52, melihat Xhaka dan Wilshere pontang-panting berusaha mengejar Mohamed Salah tampak wajar.

Melihat bagaimana kedua gol Liverpool tercipta, mudah menuduh Arsene Wenger tak becus. Namun hanya 388 detik sejak Liverpool menggandakan kedudukan, Arsenal berbalik unggul 3-2. Hector Bellerin terus dan terus terlibat aktif dalam serangan ternyata ada gunanya. Pun begitu dengan Xhaka, yang harusnya bermain sebagai penyokong Wilshere dan Ozil.

Gol pemangkas selisih, yang dicetak oleh Alexis Sanchez di menit ke-53, berasal dari umpan silang Bellerin. Gol penyeimbang dicetak oleh Xhaka, lewat tendangan dari luar kotak penalti (yang tampak spekulatif), pada menit ke-56. Di menit ke-58, Ozil melengkapi usaha Arsenal memutar balik keadaan.

Dalam proses terciptanya ketiga gol tersebut, Arsenal menampilkan permainan yang tidak mereka tunjukkan di babak pertama. Arsenal mendominasi lini tengah sehingga mencetak gol menjadi mudah bagi mereka. Hal ini tidak hanya membuat Arsenal menguasai pertandingan dan mencetak gol dengan mudah, tetapi juga membuat Liverpool tak mendapat bola yang mereka butuhkan untuk melancarkan serangan balik.

Situasi tersebut berlanjut selama beberapa lama, tapi jumlah gol yang mampu Arsenal ciptakan hanya tiga dan ini terbukti merugikan. Liverpool, bahkan tanpa serangan balik, dapat mencetak satu gol tambahan. Gol Roberto Firmino di menit ke-71 membuat kedudukan kembali imbang, dan tetap imbang hingga pertandingan berakhir.

“Benar saya frustrasi karena pada kedudukan 3-2 kami tak mampu mempertahankan kedudukan tapi secara keseluruhan mau bagaimana lagi?” ujar Wenger dalam jumpa pers pascapertandingan. “Pertadingan ini fantastis karena kedua tim menyerang dengan baik; kami dengan kombinasi cepat, mereka dengan serangan balik cepat dan karenanya pertandingan ini selalu menarik.”

Wenger bukan satu-satunya pihak yang puas dengan hasil imbang ini. Jurgen Klopp merasa satu poin dari pertandingan tandang melawan Arsenal pantas disyukuri. Tambahan satu angka membuat Liverpool tak beranjak dari posisi empat dengan 35 poin dari 19 pertandingan. Arsenal, dengan jumlah pertandingan yang sama, telah mengumpulkan 34 poin dan saat ini menduduki peringkat kelima.

Komentar