Peran Penting Defensive Winger Perancis

Taktik

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Peran Penting Defensive Winger Perancis

Perancis jadi kesebelasan unggulan di Piala Dunia 2018. Namun secara permainan, sejak fase grup mereka sebenarnya kurang meyakinkan. Meski begitu lambat laun kualitas Les Blues mulai tampak, setidaknya mereka berhasil mencapai babak semifinal dengan mulus setelah di fase gugur mengalahkan Argentina (4-3) dan Uruguay (2-0).

Sebenarnya Perancis bukannya tidak spesial sejak fase grup. Sang pelatih, Didier Deschamps, memang menyetel permainan anak asuhnya untuk bermain lebih disiplin dalam menyerang dan bertahan. Deschamps mengutamakan keseimbangan saat dengan atau pun tanpa bola. Cara inilah yang membuat Perancis cukup kokoh di lini pertahanan tapi bisa menyengat saat menyerang.

***

Memulai turnamen dengan pola dasar 4-3-3, Perancis tampak menggunakan pola dasar 4-2-3-1 sejak pertandingan kedua melawan Peru. Namun sebenarnya, mereka tidak benar-benar menggunakan pola 4-2-3-1 di lapangan. Jangan tertipu dengan susunan dan formasi yang ditayangkan televisi. Ada “keanehan” dalam formasi Perancis yang terlihat dari fungsi winger kiri mereka.

Dari empat laga yang sudah dijalani setelah melawan Peru, Deschamps memainkan Blaise Matuidi, kemudian Corentin Tolisso ketika Matuidi absen di pos “winger kiri”. Kecuali Thomas Lemar di laga melawan Denmark dan Ousmane Dembele di laga pertama melawan Australia, ini terbilang aneh karena Matuidi dan Tolisso merupakan pemain yang biasanya ditempatkan sebagai gelandang tengah.

Tapi keanehan inilah yang menjadi fondasi strategi timnas Perancis. Tolisso atau Matuidi meski diplot sebagai sayap kiri punya tugas utama menyeimbangkan lini tengah Perancis. Keduanya sangat berguna saat Perancis kehilangan bola karena akan turun sejajar Paul Pogba atau Kante. Saat membangun serangan pun mereka akan turun lebih dalam untuk menjadi jembatan dari lini pertahanan ke depan.

Grafis di atas menunjukkan Matuidi dan Tolisso yang aktif turun ke area pertahanan untuk menerima bola yang kemudian disirkulasikan ke tengah atau ke depan. Hal ini berbeda dengan Kylian Mbappe yang berposisi sebagai winger kanan Perancis.

Jika winger kiri aktif turun ke area pertahanan sendiri, winger kanan yang diisi oleh Mbappe lebih banyak menerima bola di area pertahanan lawan. Bahkan melawan Uruguay, Mbappe benar-benar sangat jarang membantu pertahanan.

Dalam catatan WhoScored, Matuidi dan Tolisso ternyata banyak melakukan upaya tekel, intersep, sapuan, duel udara, hingga blok. Atribut-atribut tersebut semakin menegaskan bahwa tugas utama mereka sebenarnya mengamankan kiri pertahanan dari serangan lawan alih-alih menyerang lawan dari area kiri.

Tak heran juga pada akhirnya serangan menuju kotak penalti Perancis lebih banyak melalui sisi kanan. Perubahan 4-2-3-1 menjadi 4-3-3 kerap dilakukan baik saat menguasai bola ataupun tanpa bola. Saat dengan bola, serangan pada akhirnya lebih banyak dialihkan ke sisi kanan karena terdapat Pogba, Mbappe, Benjamin Pavard, dan Antoine Griezmann sebagai pusat serangan.

Kehadiran defensive winger yang dipasang Deschamps ini pula yang membuat Pogba cukup nyaman membantu serangan. Ketika ia harus mendekati kotak penalti lawan, tugas merebut bola dalam transisi menyerang ke bertahan tidak diemban olehnya dan Kante saja, Matuidi/Tolisso juga punya peran penting mengamankan sisi kiri.

Perlu diketahui, Matuidi dan Tolisso punya rataan intersep 1,3 kali per laga. Jumlah tersebut kedua tertinggi di Perancis setelah Kante yang mencatatkan 3,6 kali per laga. Matuidi juga bahkan punya rataan tekel 1,7 kali per laga, di mana angka tersebut tertinggi keempat di timnas Perancis setelah Lucas Hernandez, Pavard, dan Kante.

Maka tak heran Perancis tampil lebih solid bersama Matuidi dan menjadikannya pilihan utama. Mantan gelandang Paris Saint-Germain ini sendiri kerap melakukan tugas yang sama di Juventus. Saat Mario Mandzukic cedera, gelandang berusia 31 tahun tersebut sering diplot sebagai winger kiri di Juventus.

Kefasihan Matuidi, juga Tolisso, di pertahanan kiri ini juga yang membuat serangan balik Perancis cukup jitu. Serangan balik Perancis terpusat ke sebelah kanan serangan, area di mana adanya Mbappe dan Griezmann. Perancis pun sejauh ini punya catatan sembilan gol dengan lima di antaranya berasal dari skema open play.

Dalam skema serangan balik, Giroud-Griezmann-Mbappe punya tugasnya masing-masing. Griezmann yang menentukan lewat mana serangan akan diarahkan. Giroud menjadi pemantul dan penahan bola. Sementara itu Mbappe akan memecah pertahanan lawan lewat dribel dan kecepatannya. Matuidi atau Tolisso? Jika pun terlibat dalam serangan balik lebih difungsikan sebagai penyambung saja seperti misalnya gol ke gawang Fernando Muslera hasil tendangan Griezmann.

Permutasi winger kiri menjadi gelandang tengah ini juga bisa mengamankan serangan lawan dari serangan balik. Matuidi/Tolisso dan Pogba akan menjadi penjegal serangan balik lawan di areanya masing-masing. Ini membuat area tengah tetap penuh dengan pemain Perancis karena Kante bisa fokus menjaga area depan kotak penalti.

Bahkan untuk memadatkan area tengah, Griezmann menjadi pemain yang rajin turun hingga ke depan kotak penalti pertahanan. Griezmann cukup mahir dalam melakukan tactical foul. Ia akan melanggar untuk memutus serangan lawan yang berbahaya.

Lionel Messi berkali-kali dijegal oleh Griezmann pada laga Perancis melawan Argentina di area pertahanan Perancis. Melawan Uruguay ia bahkan mencatatkan sembilan kali tekel dengan lima di antaranya berhasil merebut penguasaan bola.

Dari 10 pemain lapangan (outfield) Perancis, hanya Giroud dan Mbappe yang tidak punya kewajiban untuk bertahan. Inilah yang membuat Perancis cukup sulit dijebol melalui open play. Hanya Argentina yang mampu melakukannya (tiga kali).

***

Dilatih Deschamps, Perancis punya pertahanan kokoh. Pertahanan Perancis tidak hanya mengandalkan ketangguhan Hugo Lloris atau barisan pertahanan semata. Winger kiri hingga Griezmann pun berperan besar dalam menghindarkan kebobolan.

Latar belakang Deschamps sebagai eks pemain yang berposisi sebagai gelandang bertahan tentu cukup memengaruhi pilihan taktikal Perancis. Karena itu pula Perancis asuhannya tidak melulu mengandalkan possession football di Piala Dunia kali ini.

Perancis tercatat unggul penguasaan bola saat melawan Australia, Denmark, dan Uruguay. Melawan Peru dan Argentina, Perancis fokus menguatkan pertahanan dan menyerang lewat serangan balik. Ini artinya strategi Deschamps bisa menyesuaikan dengan skema yang dimainkan lawannya.

Perancis sendiri saat ini “hanya” mencatatkan 11 tembakan per laga. Jumlah tersebut terbilang minim di Piala Dunia 2018 ini. Angka tersebut berada di urutan ke-18 dan setara dengan kesebelasan macam Islandia dan Australia serta kalah dari Maroko, Tunisia, hingga Korea Selatan.

Namun bagi Deschamps, sekali lagi, keseimbangan lini pertahanan dan penyerangan adalah yang paling utama. Setelah lini pertahanan kokoh, satu-dua gol hasil dari 11 tembakan bisa memenangkan mereka karena skema serangan balik Perancis di Piala Dunia 2018 ini cukup efektif.

foto: worldcupglobe.com

Komentar