Cedera Irfan Bachdim Bencana bagi Alfred Riedl

Taktik

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Cedera Irfan Bachdim Bencana bagi Alfred Riedl

Menjelang bergulirnya Piala AFF 2016, Sabtu (19/11/2016), tim nasional Indonesia dilanda masalah, bahkan bisa dibilang bencana. Hal ini dikarenakan salah satu pemain andalan timnas saat ini, Irfan Bachdim, terpaksa harus dicoret dari skuat Indonesia untuk Piala AFF 2016 karena mendapatkan cedera di mana ia harus absen selama dua bulan.

Irfan merupakan pemain yang diproyeksikan menjadi pemain utama di lini depan untuk berduet dengan sang kapten, Boaz Solossa. Partnership-nya dengan Boaz sudah kerap kali menunjukkan ketajamannya. Laga uji tanding melawan Malaysia dan Vietnam menjadi contoh bagaimana Indonesia bisa tampil menggigit di lini depan ketika Irfan dan Boaz berduet.

Karenanya hal ini akan menjadi bencana bagi Indonesia, khususnya bagi sang pelatih, Alfred Riedl. Bahkan pelatih asal Austria ini begitu panik ketika Irfan mengerang kesakitan setelah mendapatkan tekel dari Hansamu Yama. Riedl juga sempat terlibat sedikit cekcok dengan pihak keamanan Sekolah Pelita Harapan, tempat latihan timnas, karena sempat melarang mobil penjemput Irfan masuk area lapangan.

Riedl memang sudah menyiapkan skema permainan timnas Indonesia dengan Irfan yang menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Absennya Irfan, bisa jadi membuat rencana Riedl yang menyiapkan timnas dalam beberapa bulan terakhir, yang membuat tidak perbolehkan adanya lagi alasan "persiapan mepet", berubah dalam waktu dekat.

Bersama Irfan, Riedl terus memantapkan skema high pressing dengan formasi dasar 4-4-2. Irfan merupakan salah satu penyerang terbaik yang dimiliki Indonesia karena pintar dan tahu benar bagaimana menerapkan strategi ini. Kecepatan dan gaya bermainnya yang ngotot mendukung skema pressing yang diterapkan oleh Riedl.

Baca juga: Pressing Menjadi Masalah Utama Timnas Indonesia

Hal ini yang membuat penyerang timnas lain, seperti Lerby Eliandri misalnya, tak terlihat berkontribusi bagi timnas. Lerby yang kerap dicoba menggantikan peran Irfan sebagai tandem Boaz, tak memiliki kemampuan yang sama dengan yang dimiliki mantan pemain Persema Malang tersebut.

Skema pressing memang menjadi perhatian khusus Riedl jelang keberangkatan timnas ke Filipina. Sementara dalam beberapa wawancara, para pemain depan memang menjadi tembok pertahanan pertama timnas ketika melakukan high pressing. Sejauh ini, hanya Irfan Bachdim yang paling bisa dan paham memainkan peran tersebut.

Ketika Irfan cedera, Riedl memang tak banyak memiliki pilihan pengganti yang sepadan. Dari 40 nama yang disertakan ke ajang Piala AFF 2016, dari pos penyerang hanya tersisa Muchlis Hadi (PSM Makassar), Samsul Arif (Persib Bandung) dan Ferinando Pahabol (Persipura Jayapura).

Samsul Arif mungkin menjadi pemain yang tipikal permainannya tak terlalu jauh berbeda dengan Irfan. Namun dengan aturan batas dua pemain per klub, Samsul tak bisa dipanggil Riedl karena dari Persib sudah ada Yanto Basna dan Zulham Zamrun di skuat timnas saat ini.

Pahabol akhirnya dipilih Riedl untuk menggantikan Irfan. Dibanding Muchlis, Pahabol memang memiliki kecepatan dan ngotot yang diharapkan bisa menjawab keinginan Riedl. Pemanggilan Pahabol pun dapat terealisasi karena dalam skuat timnas baru hanya Boaz yang berasal dari Persipura (terkait aturan maksimal dua pemain per klub).

Pahabol sendiri sebenarnya penyerang yang kerap dipasang dalam skema 4-3-3. Mungkin akan membutuhkan waktu baginya bisa beradaptasi dengan skema 4-4-2 Riedl. Belum lagi pemain berusia 24 tahun ini harus mulai terbiasa dengan gaya pressing yang akan diterapkan timnas.

Namun dengan cederanya Irfan, serta pemanggilan Pahabol yang merupakan penyerang sayap, bukan tak mungkin Riedl akhirnya menyerah pada keadaan dan mengubah skema yang telah ia siapkan selama ini, skema dengan 4-4-2, untuk menerapkan skema satu penyerang dalam formasi dasar 4-3-3 atau 4-2-3-1. Beberapa waktu lalu, kami juga sempat menanyakan pada salah satu bek timnas, Yanto Basna, terkait kemungkinan Indonesia menggunakan tiga gelandang, dan Riedl tak pernah menyiapkan itu.

"Belum ada rencana pakai tiga gelandang. Makanya kami sekarang (bertahan) setengah mati," kata Yanto Basna.

Meskipun begitu, dengan persiapan yang mepet, jika pun harus mengubah skema, jelas hal ini terlalu riskan. Hanya saja jika para pemain timnas bisa beradaptasi dengan cepat, terlebih mayoritas klub Indonesia memakai skema satu penyerang, para pemain timnas bisa dengan mudah mengeluarkan potensi terbaiknya.

Yang jelas, Riedl hanya memiliki satu kali latihan, hari ini (Rabu, 16/11/2016), untuk menentukan apakah ia akan mengubah rencana yang selama ini sudah ia siapkan dengan memanfaatkan kemampuan Irfan Bachdim atau tetap pada skema tersebut dengan pemain seadanya. Semoga keputusan Riedl tetap membuat timnas tampil luar biasa di Piala AFF 2016 nanti.

Ayo Indonesia!

Komentar