Apa Bedanya 3-4-3 Chelsea dengan Spurs?

Taktik

by Dex Glenniza 32637

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Apa Bedanya 3-4-3 Chelsea dengan Spurs?

Ketika Mauricio Pochettino mengumumkan susunan sebelas pemainnya saat melawan Arsenal di North London derby semalam yang berakhir 1-1, kami melihat ada lima nama yang terdiri dari Jan Vertonghen, Kevin Wimmer, Eric Dier, Victor Wanyama, dan Mousa Dembélé. Kami sempat mengira Tottenham Hotspur akan bermain seperti biasa, yaitu dengan empat bek (dua bek tengah adalah Wimmer dan Vertonghen) dan tiga gelandang yang salah satunya adalah gelandang bertahan (Dier).

Namun pada saat sepak mula, semuanya terkuak: Spurs memainkan formasi tiga bek.

Kita tentunya langsung teringat akan sistem tiga bek Antonio Conte yang sudah sangat nyetel di Chelsea di mana The Blues sudah mencetak 17 gol tanpa satu kalipun kebobolan dari enam pertandingan di Liga Primer Inggris, termasuk terakhir ketika mereka membantai Everton 5-0 di Hari Sabtu (05/11).

Kami pikir, dan banyak follower kami yang berkicau di Twitter-pun berpikir, Pochettino meniru sistem Conte.

Sistem tiga bek Spurs menggunakan dua penyerang

Pada kenyataannya, ini baru kedua kalinya Pochettino mengaplikasikan sistem tiga bek sejak Mei 2014. Tidak mengherankan banyak yang mengira jika ia meng-copy-paste taktik Conte tersebut. Publik Inggris juga mencurigai hal yang sama. Tapi Pochettiono langsung menyanggahnya.

“Hanya karena Chelsea menang 5-0 kemarin, bukan berarti mereka menemukan sistem [tiga bek] ini,” kata Pochettino setelah pertandingan. “Kami tidak bermain seperti Chelsea, kami bermain dengan dua penyerang [Harry Kane dan Son Heung-min] dan Christian [Eriksen] di belakang mereka.”

“Tidak ada kesebelasan yang memiliki sistem seperti yang kami mainkan hari ini,” tutup manajer asal Argentina tersebut.

Tottenham Hotspur yang sebelumnya sudah menerima tiga hasil imbang dan dua kekalahan dalam lima pertandingan terakhir mereka, mencoba sistem yang baru pada pertandingan semalam. Dier dimainkan sebagai bek tengah sebelah kanan, Wimmer sebagai bek tengah sentral, dan Vertonghen sebagai bek tengah sebelah kiri, dengan didukung oleh kedua wing-back di masing-masing sisi lapangan.

Susunan dan rata-rata posisi pemain Arsenal dan Tottenham Hotspur (6 November 2016)

Meskipun sempat belum terbiasa di awal pertandingan, hasilnya bisa sangat baik bagi Spurs dan terlihat simetris (seimbang) antara kanan, kiri, dan tengah. Christian Eriksen menjadi tokoh sentral dalam sistem 3 bek Spurs ini.

Sistem tiga bek Spurs ini membuat Arsenal kesulitan menembusnya. Theo Walcott menyatakan setelah pertandingan: “Iya. Sangat [menimbulkan masalah] sejujurnya. [Taktik tiga bek Spurs] sulit ditembus.”

Setiap Arsenal bisa melewati satu pemain Spurs, hampir pasti ada satu pemain Spurs lagi yang melakukan cover untuk menutup pemain Arsenal tersebut. Semalam Arsenal memang berhasil mencatatkan 16 tembakan, tapi hanya 3 saja yang menemui sasaran. Gol merekapun hadir dari hasil gol bunuh diri Wimmer.

Tottenham memang sempat kebingungan dengan sistem tiga bek ini. Mereka baru lancar memainkannya di babak kedua. Sebagai perbandingan, Arsenal berhasil menyelesaikan 76% operannya di babak pertama; tapi di babak kedua, ketika permainan Spurs sudah lebih nyetel dan lebih menekan, Arsenal hanya bisa menyelesaikan 67% operannya di babak kedua.

Pada akhirnya Arsenal hanya menyelesaikan 71% operannya, yang merupakan angka operan terendah mereka sejak Februari 2016.

Baca analisis Arsenal 1-1 Tottenham Hotspur selengkapnya: Cara Sistem Tiga Bek Spurs Meredam Arsenal

Kelancaran Spurs memainkan sistem barunya ini juga didukung dengan kedua bek sayapnya, Kyle Walker di kanan dan Danny Rose di kiri, untuk mendukung tiga bek ketika bertahan dan dua gelandang (Dembélé dan Wanyama) ketika menyerang.

Selain itu, peran Son yang lebih menyerang daripada Eriksen membuat sistem tiga bek Spurs lebih cocok disebut sebagai 3-4-1-2. Inilah yang menjadikan perbedaan utama pada sistem tiga bek Spurs dengan Chelsea, di mana Pochettino juga sudah menjelaskannya pada wawancaranya di akhir pertandingan.

Sistem tiga bek Chelsea membebaskan dua gelandang serangnya

Formasi 3-4-3 yang bisa dituliskan menjadi 3-4-2-1 atau 3-4-1-2 ternyata lebih dari sekadar penulisan saja. Hal mendasar yang membedakannya adalah pada peran; bagaimana seorang penyerang, gelandang, dan bek mengambil posisi dan bermain saat menyerang maupun bertahan.

Dua gelandang serang Chelsea, Eden Hazard dan Pedro Rodríguez, adalah faktor utama pembeda dari sistem tiga bek Chelsea dengan Spurs. Keduanya tidak bermain sebagai pemain sayap, tapi juga tidak bermain sebagai gelandang serang di daerah lubang (di belakang penyerang).

Daerah sayap Chelsea lebih utama diperankan oleh kedua wing-back-nya, yaitu Victor Moses di kanan dan Marcos Alonso di kiri. Sementara Diego Costa menjadi pemain yang paling berperan untuk daerah lubang tersebut maupun daerah kotak penalti, seperti umumnya adalah daerah seorang ujung tombak.

Kemudian permainan di daerah tengah lapangan lebih diperankan oleh Nemanja Matić dan N`Golo Kanté di belakang Hazard dan Pedro.

Ini artinya Chelsea sudah memiliki pemain-pemain yang berperan di sayap, tengah lapangan, daerah lubang, dan ujung tombak. Untuk itulah Hazard dan Pedro dibebaskan memainkan sepakbola mereka, baik untuk memenuhi daerah sayap bersama wing-back, membantu pertahanan bersama gelandang bertahan, atau menyerang bersama ujung tombak.

Posisi inilah yang paling menguntungkan keduanya, terutama Hazard, untuk berperan sebagai winger maupun playmaker. Tidak heran Hazard bisa sangat berkontribusi sejak Chelsea memainkan sistem tiga bek, tidak seperti saat ia harus bermain sebagai sayap kiri atau sebagai No. 10 seperti di tim nasional Belgia.

Pada sistem Conte yang terbaru ini, Hazard adalah pemain yang berada di antara peran-peran dan di antara ruang yang bisa menggiring bola, melakuakn pergerakan ke daerah berbahaya, serta dua hal yang paling utama: menciptakan peluang dan menciptakan gol.

Pada sistem Pochettino, ia tidak memiliki pemain dengan keleluasaan seperti Hazard atau Pedro ini. Semalam, Eriksen dilibatkan lebih ke dalam sementara Son lebih membantu penyerang.

Meskipun demikian, Kane yang berkali-kali turun atau bergerak menyayap membuat perbedaan lainnya di mana Costa hampir tidak pernah melakukannya di Chelsea, yang mana hal ini belum jelas lebih baik atau lebih buruk; hanya waktu dan hasil penampilan yang bisa menjawabnya.

Salah satu alasan kenapa Chelsea bisa melakukan ini kemudian menjadi perbedaan lainnya di antara sistem Conte dengan Pochettino. Kedua gelandang bertahan Chelsea, Matić dan Kanté, menjadi dua gelandang dinamis di depan pertahanan yang lebih memainkan fisik mereka untuk mendominasi lini tengah.

Dari awal kedatangan Kanté, kita pasti mengira jika Conte akan memilih salah satu di antara Matić atau Kanté untuk menemani Francesc Fàbregas. Alasannya sebenarnya jelas, dengan mengkombinasikan Matić atau Kanté dengan Fàbregas berarti Chelsea memiliki duet gelandang yang satunya bermain fisik, sementara satunya lagi bermain teknik.

Namun Conte malah terus mencadangkan Fàbregas untuk menduetkan Matić dengan Kanté, yang keduanya sebenarnya memiliki kesamaan karakteristik.

Peran Matić dan Kanté di Chelsea tidak sama dengan Dier dan Dembélé di Spurs. Matić dan Kanté tidak terlalu dibebani dengan keharusan untuk menyerang sehingga mereka bisa berkonsentrasi untuk lebih bermain direct: saat bertahan untuk memenangkan bola, saat menyerang untuk menyebarkan operan ke kanan, kiri, depan, ataupun belakang ketika ditekan, serta saat transisi juga.

Baca juga: Pujian Setinggi Langit dari Koeman untuk Chelsea

Tekanan di blok lini tengah Chelsea sangat mencerminkan peran mereka ini yang merupakan gelandang box-to-box pekerja keras. Sementara Spurs memiliki kombinasi gelandang mainstream yaitu gelandang pemenang bola (Dier) dan gelandang yang lebih teknis (Dembélé). Tidak heran, insiden yang menjadi penyebab penalti Spurs melawan Arsenal berasal dari permainan Dembélé dari lini tengah.

Persamaan Sistem Conte dan Pochettino

Utamanya kita bisa melihat perbedaan sistem tiga bek Spurs dan Chelsea pada saat mereka menyerang (sampai di sepertiga wilayah penyerangan) dan transisi. Tapi kedua sistem ini pastinya memiliki persamaan juga.

Satu hal yang mengingatkan sistem tiga bek Pochettino dengan Conte adalah pada peran ketiga bek dan kedua bek sayap mereka. Peran salah satu bek tengah tentunya membantu kedua bek tengah lainnya. Hal ini yang membuat ketiga bek Chelsea dan Spurs, sejauh ini (kecuali saat Wimmer menyundul bola ke gawang Hugo Lloris), bisa meminimalisasi kesalahan di lini belakang.

Kemudian kedua bek sayap juga sama-sama menjadi pemain yang rajin naik dan turun. Hanya bedanya, Chelsea tidak menerapkan garis pertahanan tinggi seperti Spurs.

Hasil pertandingan antara Arsenal dan Tottenham memang berakhir imbang 1-1, tapi jika kita mau melihat siapa yang lebih unggul secara statistik dan taktik, Pochettino pastinya bisa lebih tersenyum karena ia menunjukkan kesebelasannya mampu melakukan adaptasi taktik dan lebih menguasai statistik permainan.

“Aku tidak bilang bahwa [sistem 3 bek] ini adalah cara bermain yang lebih baik di masa depan, tapi penting bagi kami untuk bisa fleksibel dan merupakan langkah maju untuk tim karena bisa menggunakan sistem yang berbeda,” kata Pochettino setelah pertandingan berakhir.

Komentar