Mengubah Leicester City Lewat Islam Slimani

Taktik

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mengubah Leicester City Lewat Islam Slimani

Leicester City berhasil mengubah stigma mereka di Liga Primer musim lalu. Dicalonkan sebagai salah satu kesebelasan yang bakal turun ke Championship, anak asuh Claudio Ranieri justru dapat melaju tanpa halangan dan mengakhiri musim sebagai juara Liga Primer edisi ke-24.

Keberhasilan mereka menjadi juara secara tidak langsung membuat mereka diunggulkan dalam setiap laga. Status juara bertahan bahkan membuat mereka selayaknya Goliath, yang diunggulkan dan ditakuti lawan yang lebih kecil, selayaknya David.

Di satu sisi, lawan jelas akan keder dengan status Leicester sebagai Goliath, namun di sisi lain, Leicester jelas tidak beruntung, utamanya dalam hal taktik. Laga perdana Leicester di musim ini menjadi buktinya. Menghadapi kesebelasan promosi, Hull City, The Foxes harus menyerah 1-2.

Dua laga berikutnya kembali dijalani Leicester dengan status Goliath. Mereka hanya mampu memetik empat poin. Tak heran, sebagai manajer, Claudio Ranieri, berpikir keras menjelang berakhirnya bursa transfer. Kebimbangan muncul mengenai kemungkinan untuk terus mempertahankan skuat saat ini atau mendatangkan pemain baru.

Pada akhirnya, keputusan mendatangkan pemain baru dipilih oleh Ranieri. Dan pilihan tersebut membuat Leicester resmi mengontrak satu nama: Islam Slimani.

Mengubah Gaya Bermain Lewat Slimani

Banyak kata untuk menjelaskan apa itu unggulan. Dalam tesaurus, unggulan berarti menyerang, menang, berjaya, ulung, memenangi, favorit, dan juara. Namun, jika dilihat dengan seksama apa yang dilakukan oleh Leicester di musim lalu, mereka rasanya tak pantas menyandang status unggulan.

Seperti yang diketahui, musim lalu permainan Leicester begitu mengandalkan permainan bertahan, kokoh di lini belakang, serta menutup semua ruang di sepertiga terakhir daerah permainan mereka, yang secara tidak langsung merupakan antitesis dari kata unggulan.

Gaya bermain tersebut ditambah keberadaan pemain-pemain cepat, membuat Leicester menjadi salah satu kesebelasan yang paling optimal dalam memanfaatkan serangan balik. Di musim lalu, serangan balik yang mereka lakukan menjadi yang terbaik di Liga Primer kedua setelah Everton.

Namun dengan menyandang status sebagai juara, serangan balik tak lagi bisa mereka usung di musim 2016/17. Lawan yang dihadapi tak lagi mau langsung menyerang saat melawan Leicester. Mau tak mau Leicester harus menjadi kesebelasan yang menyerang.

Persoalannya Leicester tak cukup mumpuni untuk bermain selayaknya tim menyerang. Utamanya di lini depan sebagai poros mereka menyerang, tak ada nama yang bisa dimainkan sebagai seorang penyerang tengah. Jamie Vardy lebih cocok diplot sebagai pelari dan perlu dibantu pemain untuk mencetak gol.

Minimnya nama penyerang tengah berkualitas membuat Leicester dianggap tak akan mampu bisa mempertahankan posisi mereka musim lalu. Bahkan tak banyak yang menganggap bahwa Liecester hanya akan duduk di papan tengah di akhir musim ini karena permasalahan tersebut.

Dari empat nama di lini depan, hanya Leonardo Ulloa yang secara syarat layak dimainkan sebagai penyerang tengah. Namun persoalan tersebut terganjal sikap Ranieri yang lebih memilih memainkan pemain reguler lain di musim lalu. Hingga pada akhirnya manajer asal Italia tersebut memilih mendatangkan Slimani. Nama yang secara tidak langsung mengangkat derajat Leicester setingkat untuk lebih berani tampil menyerang.

Tak salah menempatkan Slimani sebagai satu sosok yang bakal membawa Leicester bermain setingkat di level permainannya saat ini. Meski bukan seorang targetman, namun torehan gol Slimani cukup baik. Bersama Sporting Lisbon musim lalu, pemain timnas Aljazair ini bahkan mampu mencetak 27 gol dari 33 pertandingan di liga.

Kemampuan sundulan yang baik menjadi kunci utama Slimani untuk mencetak gol. Tak salah memang karena tinggi tubuhnya mencapai 186 cm dan membuatnya mudah mendapatkan bola tanpa perlu melompat cukup tinggi.

Pergerakan dan ketenangan di depan gawang juga menjadi salah satu keunggulan Slimani. Pergerakan lambat namun pasti membuatnya memudahkan pemain lain untuk membuka ruang, sementara ketenangan di depan gawang membuatnya tak banyak memutuskan sesuatu dengan gegabah.

Keberadaan Slimani juga akan semakin mempermudah kinerja dua pemain sayap Leicester, Marc Albrighton dan Riyad Mahrez. Sebab, keduanya kini tak perlu masuk ke kotak penalti lawan untuk membantu menyelesaikan peluang, tapi cukup lewat kedua sisi sayap karena Slimani begitu menyukai umpan silang.

Hal di atas pada akhirnya ditunjukkan oleh Slimani di laga debutnya bersama Leicester City kala menghadapi Burnley, Sabtu (17/9). Dalam laga debutnya bersama Leicester di Liga Primer tersebut, Slimani menunjukkan bahwa ia adalah pilihan terbaik Ranieri untuk menyerang.

Dalam laga tersebut, terlihat bagaimana keberadaan Slimani mengubah gaya bermain Leicester. Meski tetap memainkan serangan balik, namun penguasaan bola mulai jadi senjata mereka. Penguasaan bola mereka yang selalu minim di musim lalu diubah menjadi dominan di laga ini.

Dua gol yang dicetak Slimani menunjukkan bagaimana pergerakannya mampu membuat lawan sadar bahwa potensi Leicester saat ini tidak hanya ada dalam serangan balik saja. Tapi juga ketika mereka membangun serangan dari belakang.

Kedatangan Slimani jelas suntikan baru bagi Leicester yang butuh pemain tinggi di lini depan demi memanfaatkan baiknya pemain sayap mereka. Keberadaan Slimani pun diharapkan bisa jadi momentum untuk membuat rubah Leicester mampu meloncat lebih tinggi melebihi ekspektasi kecil banyak orang terhadap mereka musim ini.

Komentar