Ilkay Gundogan Solusi Tepat untuk Manchester United?

Taktik

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Ilkay Gundogan Solusi Tepat untuk Manchester United?

Manchester United dikabarkan tengah memburu gelandang Borussia Dortmund, Ilkay Gundogan. Dengan mahar 16 juta pounds, Gundogan diharapkan dapat segera merapat ke Old Trafford. Namun, apakah Gundogan akan menjadi pemain yang tepat bagi United pada musim ini?

Sejak bursa transfer musim ini dibuka pada Juli tahun lalu, Manchester United mendapat sorotan karena dianggap memasok pemain yang kurang tepat. Bukan karena sang pemain memiliki kemampuan di bawah standar, tetapi karena United tidak menambal pos yang memang rentan akan kerapuhan.

Siapa yang tidak senang nama-nama seperti Ander Herrera, Angel Di Maria, Radamel Falcao, Daley Blind, Luke Shaw, dan Marcos Rojo bergabung di klub? Namun, siapa pula yang tak khawatir akan nama-nama seperti Phil Jones, Chris Smalling, Jonny Evans, dan Tyler Blackett yang mengisi lini pertahanan The Red Devils?

Musim ini, lini pertahanan United sudah kebobolan 20 gol di liga, atau rasionya satu gol dalam satu pertandingan. Jumlah ini terbilang sedikit karena dua tim pemuncak klasemen, Chelsea dan Manchester City kebobolan 19 gol. Jumlah tendangan yang mengarah ke gawang United rasionya 10,8 tendangan tiap pertandingan. Jumlah ini sedikit lebih banyak dari Manchester City yang menghadapi 10,5 tendangan tiap pertandingan.

United rata-rata melakukan 12,6 kali tendangan ke gawang. Namun, dalam sembilan pertandingan terakhir di Liga Inggris, United empat kali kalah soal urusan agresifitas ke gawang lawang yang diukur dalam jumlah tendangan.

Kala menghadapi Arsenal pada 22 November 2014 silam, United memang menang 2-1. Namun, dari penguasaan bola Arsenal unggul 61 persen berbanding  39 persen. Pun dengan agresifitas di depan gawang lawan. United melakukan attemps 12 kali, sementara Arsenal 23 kali.

Tiga pekan kemudian atau pada delapan Desember 2014, United menang tipis 2-1 atas Southampton. Seperti kala menghadapi Arsenal, United kalah penguasaan bola dengan 48 berbanding 52 persen. Hal paling mengejutkan adalah United mesti menghadang 15 tendangan yang mengarah ke gawang De Gea, sementara Untied hanya melakukan tiga tendangan ke gawang Southampton yang dikawal Fraser Forster.

Sepekan kemudian, United menjamu Liverpool di Old Trafford. Secara hasil, United unggul mutlak tiga gol tanpa balas. Namun, Liverpool berhasil melepaskan 19 kali tendangan ke gawang United berbanding 11 tendangan yang diarahkan lini serang United ke gawang Bradley Jones.


Ron Vlaar dan Daryl Janmaat di lini pertahanan timnas Belanda asuhan Louis van Gaal *kode* (Sumber gambar:gelderlander.nl)

Pertandingan tahun baru pun menyisakan kekalahan dari segi agresifitas di depan gawang lawan. Kala menghadapi Stoke City, Wayne Rooney dan kolega melepaskan enam attemps berbanding 11 attemps. Untuk kali pertama dalam sembilan pertandingan terakhir, United kalah agresif dan hasilnya tidak berbuah kemenangan, seperti tiga pertandingan sebelumnya

Dari sembilan pertandingan terakhir di liga, United kebobolan enam gol dengan tiga kali clean sheet. Dari situ pula, komposisi pemain di lini pertahanan United selalu berubah-ubah. Patrick McNair bermain empat kali sejak menit pertama. Sementara itu, Smalling bermain lima kali, Tyler Blackett satu kali, Marcos Rojo tiga kali, Jones lima kali, dan Evans lima kali. Perubahan komposisi pemain ini salah satunya karena badai cedera di lini pertahanan The Red Devils. Bahkan, dalam beberapa pertandingan, Michael Carrick sempat ditempatkan sebagai bek.

Kabar pembelian Gundogan—dan bukan Matt Humells—bisa dibilang mengejutkan. Lini tengah United tidak bisa dikatakan lemah. Marouane Fellaini yang musim lalu kerap jadi bahan olokan, di bawah asuhan Louis van Gaal kini mulai memperlihatkan kapasitasnya di atas lapangan. Selain itu, Ander Herrera pun langsung membuktikan kualitas dirinya sebagai pengatur lapangan tengah.

Kalaupun gelandang United berhalangan bertanding seperti Herrera dan Daley Blind yang cedera, toh Van Gaal masih memiliki Rooney yang kemampuannya di lini tengah bisa dibilang sebaik seperti ia bermain di lini serang. Bahkan, dalam lima pertandingan terakhir di liga, Rooney selalu bermain dari menit pertama sebagai gelandang.

Artinya, jika United lagi-lagi membeli gelandang, jumlah pemain di pos tersebut terlanjur menumpuk. Jika melihat beberapa pertandingan terakhir, sebenarnya terlihat ada celah di lini pertahanan United. Saat bermain dengan tiga bek, entah bagaimana bek United seperti gelagapan apakah akan mengejar bola, menjaga lawan, atau menjaga daerahnya. Jarak antar tiga bek tersebut biasanya lebar sehingga sulit untuk menutup area saat lawan berhasil melewati satu bek.

Masalah lainnya ada di Ashley Young dan Antonio Valencia yang diplot sebagai wide midfielder dalam pola 3-5-2. Young bermain tidak stabil. Kadang bermain bagus, kadang bermain tidak disiplin. Padahal kunci pertahanan dalam 3-5-2, salah satunya ada di pundak wide midfielder yang bertugas membantu pertahanan dan menghalau serangan lawan dari sisi sayap.

Menaikan kelas pemain junior ke tim utama memang baik untuk regenerasi pemain di klub. Namun, jika menduetkannya dengan pemain yang juga tidak seberpengalaman seperti Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic, misalnya, malah seperti memaksakan karena tuntutan keadaan.

Ambil contoh Eliaquim Mangala di Manchester City dan Kurt Zouma di Chelsea. Keduanya, seperti halnya dengan Luke Shaw, digadang-gadang akan menjadi bek masa depan di dunia persepakbolaan. Nyatanya, toh tekel Mangala tak lebih banyak dari Zabaleta, pun dengan Zouma jika dibandingkan dengan John Terry.

Performa apik De Gea serta tidak beruntungnya lawan saat menendang ke arah gawang, menjadi dua alasan mengapa United tidak kebobolan lebih banyak pada musim ini. Jika United masih mendatangkan gelandang pada bursa transfer Januari ini, mungkin Van Gaal lebih suka menjadikan Michael Carrick sebagai bek.

Sumber gambar: dailymail.co.uk

Komentar