Mönchengladbach Sedang Menarik-menariknya

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Mönchengladbach Sedang Menarik-menariknya

Oleh: Zulkifli Wibowo

Empat kekalahan Bundesliga dalam empat pekan pertama adalah alarm bahaya bagi Borussia Monchengladbach karena sepanjang musim lalu, mereka hanya kalah enam kali saja. Pesaing Bayern Munchen dan VfL Wolfsburg dalam perburuan gelar juara Bundesliga musim lalu, saat ini, sedang terpuruk di dasar klasemen. Apa yang salah dengan Monchengladbach?

Monchengladbach meraih 19 kemenangan dan 9 hasil imbang dengan menggabungkan pertahanan tangguh dan serangan balik yang mematikan. Lucien Favre, pelatih kepala Monchengladbach, memainkan formasi 4-4-2 dengan Raffael sebagai penyerang palsu sekaligus pusat permainan kesebelasan. Tugas menyisir sayap ketika serangan balik dilancarkan dibebankan kepada Thorgan Hazard dan Patrick Hermann, dua pemain cepat di kedua sisi serangan Monchengladbach. Sementara itu Max Kruse ditugaskan bergerak bebas di depan untuk mengecoh pergerakan pemain belakang lawan.

Serangan lawan bukan masalah besar karena Gladbach memiliki poros ganda yang tangguh, Christoph Kramer dan Havard Nordtveit. Keduanya memang bisa dibilang sempurna menjadi duo gelandang bertahan. Keduanya memiliki tackle dan interception yang bagus, ditambah postur yang tinggi untuk memenangi duel udara.

Monchengladbach juga memiliki dua fullback muda dalam diri Julian Korb di sebelah kanan dan Oscar Wendt di kiri. Keduanya sigap meredam serangan winger lawan. Terbukti keduanya berhasil mematikan pergerakan serangan sayap Bayern Munchen ketika die Borussen mengalahkan juara bertahan di Allianz Arena. Begitu juga ketika meraih kemenangan atas Borussia Dortmund di Signal Iduna Park.

Lucien Favre disebut jenius oleh para pengamat sepakbola Jerman karena berhasil membawa kesebelasan tanpa bintang ke Champions League. Favre juga memiliki folosofi permainan sendiri; ia suka memberi instruksi bermain cepat dan atraktif kepada para pemainnya. Pelatih yang mulai menangani Monchengladbach sejak 2011 itu juga lebih suka mengambil pemain muda untuk menjadi tulang punggung kesebelasannya. Beberapa pemain yang pernah dibesarkan oleh Favre diantaranya adalah Blerim Dzemaili, Gokhan Inler, dan Marco Reus. Wajar jika Favre sangat dihormati oleh para pemainnya sendiri. Namun rasa hormat itu bukan tidak mungkin pelahan terkikis. Musim ini menjadi awal keterpurukan Favre di Monchengladbach.

Kehilangan dua pemain kunci musim lalu, Max Kruse yang hijrah ke Wolfsburg dan Christoph Kramer yang pulang ke Bayer Leverkusen, membuat Favre mau tidak mau harus mencari pemain baru. Josip Drmic didatangkan dari Leverkusen untuk menggantikan Kruse, sementara Lars Stindl diboyong dari Hannover untuk menambal posisi yang ditinggalkan Kramer.

Pemecahan masalah ternyata tidak sesederhana itu. Dengan susunan pemain baru, Monchengladbach langsung berhadapan dengan Dortmund di Signal Iduna Park dan dibantai empat gol tanpa balas. Tiga pertandingan setelahnya pun berakhir dengan kekalahan: 1-2 ketika menjamu FSV Mainz, 1-2 saat bertandang ke Werder Bremen, dan kalah kandang 0-3 ketika melawan Hamburger SV.

Bisa jadi alasan di balik keterpurukan ini adalah cedera dan pemain-pemain baru yang terlambat panas. Josip Drmic yang diandalkan sebagai pengganti Max Kruse belum berhasil memenuhi harapan. Akhirnya Favre terpaksa memasang Andre Hahn yang sebenarnya seorang pemain sayap sebagai tumpuan di lini depan. Jadilah Monchengladbach bermain dalam formasi 4-4-2 tanpa penyerang murni.

Cederanya Hermann juga memaksa Favre menggeser Stindl ke sayap kanan. Sebagai pengganti Stindl, Favre mendorong pemain belakang, Tony Jantschke, ke lini tengah sebagai pasangan Havard Nordtveit. Hasil percobaan yang ini pub belum memuaskan.

Patut ditunggu hingga akhir musim bagaimana Favre dapat mengatasi keterpurukan Monchengladbach sembari menyelesaikan pekerjaan di tengah padatnya jadwal tiga kejuaraan. Patut ditunggu pula sejauh mana kesabaran dewan direksi kepada Favre. Kecuali Anda adalah pendukung Monchengladbah, segala tentang Monchengladbach sedang menarik untuk disimak.


Penulis adalah mahasiswa kesehatan di Solo, yang bercita-cita menjadi pelatih timnas Indonesia. Dapat dihubungi lewat akun Twitter @zulkiflibowo.

Komentar