Catatan dari Hamburg: Ultras St. Pauli dan Perseteruannya dengan HSV

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Catatan dari Hamburg: Ultras St. Pauli dan Perseteruannya dengan HSV



Pada 2014 lalu, mereka mengundang banyak seniman dari beberapa negara untuk membantu melaksanakan program Millerntor-Gallery yaitu menjadikan stadion mereka sebagai galeri street-art. Jadi saat suporter masuk lorong menuju tribun, suporter tidak hanya disajikan dengan penawaran bir gratis bagi pemegang tiket atau kios-kios yang menjajakan roti keju hangat atau roti sosis babi yang sangat harum, tetapi juga bisa melihat karya-karya seni di dindingnya.

Begitu pula dengan program jambore antar suporter antifa (anti fasis) seluruh dunia yang diadakan saat musim panas, atau program pengumpulan dana yang bekerjasama dengan salah satu perusahaan air minum untuk membantu program penyediaan air bersih di Rwanda, salah satu negara Afrika yang lama diselimut konflik antar etnis yang beradarah.

Dan yang tak akan dilupakan adalah bagaimana mereka memasang spanduk "make love not war" berwarna pink beberapa waktu lalu, saat para supporter sepakbola di daerah lain sibuk dengan Pegida, unjuk rasa yang mengkampanyekan sentimen anti-muslim.

Namun ternyata, berbagai aktifitas ini menimbulkan efek yang menggelikan. Menurut salah satu media lokal yang saya baca, gelombang migrasi besar-besaran terjadi. Banyak remaja yang datang dari seluruh penjuru dunia ingin menetap dan "bergaya hidup ala St. Pauli".

Selain alasan sepakbola, distrik St. Pauli sebagai tempat tinggal pun memang dinilai sangat menarik. Jarak yang tidak terlalu jauh ke pusat kota, ditambah dengan lokasi wisata yang menyenangkan seperti dermaga Landungsbrucken yang sangat menenangkan hati untuk dinikmati sore hari sambil minum kopi dan melihat matahari terbenam hingga hiburan malam super dahsyat di redlight district terbesar di Jerman, Reeperbahn. Ditambah bendera bajak laut yang identik dengan St. Pauli, itu semua menciptakan aura dan citra mengenai sub-kultur perlawanan yang menggairahkan bagi banyak anak muda.

Tetapi berbicara sepakbola di kota Hamburg, kita pun tak mungkin lepas dari HSV (Hamburger Sport-Verein), klub yang tengah sibuk memperbaiki peringkat di klasemen Bundesliga.

Jangan salah, HSV juga memiliki basis pendukung yang banyak. HSV memang kesebelasan yang lebih "sejahtera". Selain punya pendukung yang cukup banyak, mereka juga didukung deretan sponsor yang melimpah, dari perusahaan telekomunikasi, maskapai penerbangan dan merk apparel ternama.

Supporter yang mendukung klub yang diisi nama-nama besar seperti Johan Jourou, Rafael Van der Vaart dan Marcel Jansen itu kini sedang kecewa berat. Kekecewaan itu karena HSV sedang banyak kehilangan momentum di kompetisi. HSV pun sekarang sedang dirundung banyak masalah, selain terseok menuju papan tengah mereka pun dirundung persoalan struktur kepemilikan klub.

Salah satu dampak dari keberadaan dua basis pendukung yang berbeda di sebuah kota tentu saja potensi konflik dan bentrokan fisik. Itu pun terjadi di antara pendukung St. Pauli dan HSV. Tidak satu atau dua kali keduanya harus bentrok. mulai 2002, tensi perseteruan di antara keduanya terus meningkat. Mulai dari keributan di jalanan sebelum atau sesudah pertandingan, hingga penyerangan oleh puluhan orang pendukung HSV ke Jolly Rogers, pun sempat terjadi.

Untuk diketahui, Jolly Rogers merupakan nama sebuah bar di seberang Millernrtor yang menjadi simbol tradisi minum-minum di antara pendukung St. Pauli. Setiap kunjungan untuk menyaksikan St. Pauli rasanya kurang lengkap jika tak disertai dengan mencecap se-sloki dua sloki minuman.

Tentu saja menyerang tempat yang punya makna simbolik macam Jolly Rogers ini merupakan sebentuk tindakan agresif yang sangat mudah memantik aksi pembalasan. Dan insiden itu, sekali lagi, menjadi gambaran ihwal intensitas perseteruan kedua basis suporter ini.

Tercatat, ratusan orang pernah ditangkap karena menjadi bagian sebuah keributan massal saat kedua kesebelasan tersebut bertemu. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika keributan yang melibatkan ratusan orang itu tak ditangani oleh aparat keamanan.

Baca juga:

Volker Ippig, Penjaga Gawang Ideologi St. Pauli

Orang-orang Kiri di Persimpangan Lapangan Bola



Seorang tokoh cultural studies, Stuart Hall, pernah menjelaskan dengan sangat sederhana bahwa identitas adalah sesuatu yang dibentuk dalam kerangka sejarah dan budaya, sesuatu yang diposisikan pada suatu tempat dan waktu. St. Pauli yang berlatar belakang semangat dari para kelas pekerja dan aktivis sosial-politik, dan pendukung HSV yang berlatar belakang masyarakat perkotaan, seakan menggambarkan keberagaman identitas yang hebat di kota kedua terbesar di Jerman ini.

St. Pauli dan HSV memberi letupan pada romansa sepakbola Hamburg dan Jerman. Satu tempat dengan dua jelujur identitas yang berbeda saling berinteraksi, bersentuhan dan bersinggungan, juga saling berebut posisi soal siapa yang paling mempengaruhi Hamburg.

Sebuah cerita klasik tentang percik-percik api yang terperam di dalam sekam.





*penulis adalah orang Cimahi yang kebetulan sedang berdomisili di Hamburg. Sering berkicau lewat akun twitter @dumbq_

Komentar